Skip to content

Tukang Becak

February 17, 2008

Pada 11 Agustus 2005, dalam sebuah wawancara kerja di Singapura, seorang manajer memberikan pertanyaan pertama yang mengejutkan:

Where is Bondowoso?

Saya mengangkat alis dan membatin: Apakah ini serius? Namun, ia segera mengulangi lagi pertanyaannya:

Bondowoso, which part of Indonesia is it?

Sepertinya dia serius. Jadi, dengan bersemangat saya jelaskan bahwa Bondowoso adalah sebuah kota di bagian timur pulau Jawa. Kotanya kecil. Ia dapat ditempuh selama 4 jam bermobil dari Surabaya, ibukota propinsi Jawa Timur. Bondowoso sebenarnya juga tidak jauh dari Pulau Bali, meski harus menyebrang selat Bali menggunakan kapal ferry. Saya sebenarnya ragu bahwa geografinya bagus, tapi barangkali manajer itu hanya ingin memecah kebekuan wawancara.

bali_lombok.gif

Bondowoso adalah sebuah titik ungu muda di paling kiri. Peta ini menggambarkan bahwa Bondowoso relatif dekat dengan Pulau Bali, sekitar 2.5 jam naik mobil dari Denpasar

***

Di Bondowoso, masa kecil saya ‘diwarnai’ dengan becak. Sejak TK hingga SMP kelas 1 saya selalu diantar seorang tukang becak bernama Pak Bakri. Rumahnya tidak jauh dari rumah kami. Pak Bakri mangkal di depan rumah setiap hari jika tidak ada jadwal mengantar. Kami berlangganan jasa tarikan becaknya untuk antar-jemput ke sekolah. Pak Bakri orangnya jujur, berkepribadian luwes (sehingga banyak kawan) dan suka becanda. Bahasa yang sering digunakannya adalah bahasa Madura. Tetapi, dengan kami, ia berbahasa Indonesia (dengan logat Madura yang khas).

Ketika SMP kelas 1 itu saya tidak lagi diantar Pak Bakri karena saya punya sepeda baru. Kasihan juga Pak Bakri. Pendapatan bulanannya nampak menurun. Tapi saya yakin dia pasti berusaha, sembari berdoa.

Praktis, Pak Bakri menyaksikan pertumbuhan saya selama 9 tahun, sejak TK nol kecil sampai SMP kelas 1. Setelahnya, saya jarang bertemu lagi dengannya karena jadwal sekolah yang masuk siang. Lagi pula saya pindah kota setelah kelas 2. Namun, tak disangka, bulan Februari 2008 (kurang lebih 17 tahun berselang) saya bertemu lagi dengan Pak Bakri. Dia masih tetap mengayuh becak. Ketika saya tanya, apakah becaknya tetap sama seperti yang dulu, dia menjawab tidak sama.

Tinggi saya juga sudah melewati Pak Bakri; kira-kira dia setinggi telinga saya. Namun, senyumnya masih khas, sama seperti yang saya ingat ketika saya masih TK. Pak Bakri mungkin bangga karena anak balita yang dulu diantarnya ke sekolah kini sudah bisa menghasilkan anak balita juga. Sayangnya, saya tidak ngobrol banyak dengan Pak Bakri, karena dia harus segera mengantarkan penumpangnya. Oh Pak Bakri, kapan-kapan kita jumpa lagi ya …

Senin pagi, 4 Februari 2008, saya ingin makan pecel Mbak Debri di dekat gang Gereja. Karena becak Pak Kus sudah mangkal di depan rumah, saya beli pecel dengan naik becaknya Pak Kus ke Pecinan.

Pecel Mbak Debri ini laris. Seringkali kalau sedang jam sibuk kita bisa menunggu agak lama untuk dapat pesanan. Apa ya istimewanya? Mungkin sejak dulu rasanya selalu konsisten: nasi pecel, peyek dan brengkesan tongkol kecil-kecilnya memang nikmat. Pecel itu tidak punya nama kedai. Kami menyebutnya Pecel ‘Mbak Debri’ karena anak sulungnya, yang sahabat alm. Tante Anik, memang kami kenal. Barangkali, pecelnya itu adalah simbol perjuangan. Dengan pecel itu, konon, anak-anaknya dapat berkuliah. Hebat ya …

Menunggu itu pekerjaan yang membosankan, meski menunggu pecel yang enak sekalipun. Karena bosanĀ  menunggu, saya pergi ke luar kedai, dan ngobrol dengan Pak Kus, sang tukang becak.

Pak Kus adalah lelaki berumur 60 tahun. Di usia itu, ia tak terlihat renta. Ia nampak sehat, meski kulitnya yang terbakar terik mulai keriput. Rumahnya sekitar 30 – 45 menit dari rumah saya, yaitu ke arah Koncer. Di rumahnya, ia hidup bersama istri dan cucu perempuannya yang hampir lulus SMP. Ia berencana menyekolahkan cucunya itu di kota (Bondowoso) untuk jenjang SMA-nya. Ia akan membiayainya sendiri.

Dia bercerita tentang siklus hidupnya: setiap pagi pergi pukul 5 pagi, dan mengayuh sejauh 2 km ke pasar, berbelanja, lalu mengirim belanjaan ke Masjid Jami’ At Taqwa. Kemudian ia mulai mangkal di depan rumah saya, dan menunggu ibu saya atau penumpang lain yang memerlukan jasanya. Kalau sedang untung, ia bisa mendapat 35 ribu/hari. Kalau sedang sepi, ia hanya mendapat 15 – 20 ribu/hari. Pukul 10-11 pagi biasanya ia pulang ke rumah, dan beristirahat. Esoknya ia mulai bekerja lagi. Jam kerjanya pendek, namun ia bilang ia akan tetap mbecak selagi masih sehat. Ia tak ingin jadi beban anak-anaknya, ia ingin mandiri, dan ingin tetap “memberi” selama jantung masih berdetak.

Di Bondowoso yang tenang, tukang becak mengingatkan kita agar mensyukuri keberuntungan. Pak Kus juga menyadarkan kita tentang tujuan hidup, yaitu bermanfaat untuk orang lain. Terbiasakah kita untuk terus bersyukur dan bermanfaat bagi orang lain?

becak.jpg
4 Comments leave one →
  1. slamet a wijaya permalink
    October 9, 2008 12:08 am

    Saya seneng membaca2 artikel panjenengan Kang Mas. Sudah sejahtera dan menetap di negeri kaya tapi tetap mencintai tanah leluhur. Semoga panjang umur dan terus berkreativitas.

  2. ari3f permalink*
    October 9, 2008 10:49 pm

    Terima kasih sudah mampir :)

  3. Dinnoe permalink
    December 31, 2008 9:05 am

    Wah membaca artikel ini jadi bikin kangen pulang ke Bondowoso. Kota yg tenang dan bersahaja… Salam kenal Mas…

  4. February 15, 2011 12:13 pm

    sungguh terharu akan cerita anda..karena inilahwarna dari hidup ..ada kalanya perlu buat tuntunan akan arti hidup itu sendiri……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: