Skip to content

Kuda Kepang (Edisi Lengkap)

May 2, 2008

Di sebuah kota kecil di Jawa, dalam semaraknya karnaval 17-an (perayaan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus), saya menyaksikan sekelompok orang memakai topeng menyeramkan, diiringi kuda kepang, barong (kepala singa raksasa yang berambut ekor burung merak) menari mengikuti irama musik tradisional Jawa. Kelompok ini disebut reog, yang berasal dari Ponorogo. Mereka muncul di karnaval sebagai simbol kesenian yang lahir di sudut provinsi Jawa Timur. Itu terjadi di medio 1980an ketika karnaval merupakan ritual tahunan, seperti halnya Chingay di Singapura, yang menghabiskan dana jutaan dan menyedot penonton dari seluruh penjuru desa. Kini karnaval 17an jarang terlihat lagi.

Reog ini memukau karena penari kuda kepang lalu menari agresif, setengah sadar dan memakan beling (pecahan kaca). Penari itu juga memasukkan segenggam paku ke dalam mulutnya, mengunyahnya lalu menelannya. Ia lalu meminum minyak tanah untuk melepas dahaga. Semua orang menunggu: apa yang terjadi sesudahnya? Anak-anak kecil mundur sedikit takut, tapi mata mereka masih menyaksikan atraksi “liar” itu. Tak terjadi apa-apa: penari kuda kepang terus menari, tak berdarah, tak terluka, mereka seperti dadhi mabuk (jadi mabuk). Di rumah, tentu tak ada yang berani mencobanya. Berbahaya. Orangtua bilang: itu efek dari ilmu hitam. Benarkah?

Entahlah.

Reog

Reog adalah kesenian asli Jawa Timur, lebih tepatnya kota Ponorogo, yang menggabungkan konsep musik tradisional Jawa, seni tari, humor, seksualitas dan mistisisme. Reog dibentuk oleh singobarong (yang dimainkan oleh warok), kuda kepang (yang dimainkan oleh gemblak) dan musik gamelan. Reog ini menjadi simbol kota Ponorogo.

Asal kata “reog”

Ada kalanya seseorang menyebutnya “reyog”, namun ini adalah ejaan lama. Ejaan yang baru adalah reog (tanpa “y”). Kata “reyog” diturunkan dari kata “angreyok”, yang digunakan oleh seorang penyair Prapanca pada abad ke-14 dalam kitab Nagara Kertagama. Menurut Dr Theodoor GT Piegaud (1899 – 1988), penulis kamus Jawa – Belanda, angreyok berhubungan dengan dorongan semangat kemiliteran, pertunjukan tari reyog modern, perang-perangan, pendidikan militer kuno.

Reog dan politik

Dalam perkembangannya, ketika kesadaran politik mulai tumbuh dan parti-parti melihat bahwa sinergi antara kesenian dan politik sangat efektif, reog akhirnya juga membawa misi politik. Dalam “Performance, Music and Meaning of Reyog Ponorogo” (Jurnal Indonesia, 1976) Margaret J. Kartomi mengatakan bahwa hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kesenian reog yang disokong parti besar seperti Partai Nasional Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Partai Komunis Indonesia pada sebelum 1965. Kini, di samping memiliki kesenian ludruk (drama dan komedi situasi), parti besar seperti Parti Golkar masih menggunakan reog untuk menyebarkan pengaruh politiknya ke desa-desa di Jawa.

Kuda kepang dalam reog

Kuda kepang yang dalam bahasa Jawa disebut jaran kepang biasanya ditampilkan sebagai tarian pembuka dalam reog. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu, menari dan mengikuti musik gamelan reog yang dibentuk oleh harmoni antara kendang (drum besar), kempul (suspended gong), slompret (seruling dengan bunyi melengking), angklung (tiga pipa bambu) dan tipung (drum kecil). Kuda kepang inilah yang barangkali merefleksikan aspek kemiliteran, yaitu pasukan kavaleri atau latihan berkuda, yang kemudian ditiru oleh anak-anak menggunakan kuda-kudaan bambu. Di wilayah Ponorogo, kuda kepang diasosiasikan dengan elemen-elemen magis-religius, termasuk erotisme dan kepercayaan kesuburan. Di wilayah lain, kuda kepang diasosiasikan dengan penari-penari yang kerasukan hewan dan roh orang yang sudah mati.

Kuda kepang dikenal di Singapura sebagai percampuran antara seni tari dan aspek mistik. Di tengah tarian kuda kepang tadi, penari kuda kepang mengalami kasurupan (Jawa: kemasukan makhluk halus) sehingga ia memakan kaca (Norain Kasban, Komentar BH, 5 & 22 Mac 2008).

Kasurupan dalam kuda kepang

Dalam kelompok reog tertentu, di tengah tarian itu, ketika musik sudah mencapai klimaks, penari kuda kepang mengalami kasurupan (Jawa: kemasukan makhluk halus). Jiwa penari seperti terlepas dari badannya dan digantikan makhluk lain. Ia tetap menari mengikuti irama namun dalam keadaan setengah sadar (trance).

Dalam masyarakat Jawa kuno yang menganut Kejawen (gabungan antara animisme-dinamisme, agama Jawi dan Hindu), seseorang mempercayai kehadiran dan peran roh-roh orang yang sudah meninggal. Roh-roh ini bisa dipanggil dan melakukan sesuatu yang diinginkan pemanjat doa (biasanya dukun – shaman). Kemenyan (incene) kemudian dibakar untuk memberi makan roh-roh ini. Roh ini, menurut Dr Paul D. Stange dalam The Sumarah Movement in Javanese Mysticism (1980), memiliki pemikiran, perasaan dan nafsu yang sama dengan manusia, dan roh ini berasal dari kematian yang tak sempurna. Roh ini kemudian masuk ke dalam roh penunggang kuda kepang, dan memanfaatkan fisik penunggang kuda untuk melakukan sesuatu yang musykil dilakukan orang biasa, seperti memakan beling (pecahan kaca), paku dan minum minyak tanah. Tubuh mereka kadang juga berdarah, namun mereka tak dapat merasakannya.

Di satu sisi, adegan mistis ini mengundang decak kagum dan perasaan terhibur. Namun di sisi lain, adegan ini juga mengundang kontroversi terutama jika dipertemukan dengan ajaran agama Islam.

Menurut orang Ponorogo, reog yang mereka tampilkan tidak memiliki unsur kuda kepang yang kasurupan. Aspek ini biasanya ditampilkan kelompok-kelompok reog dari Tulungagung, Madiun dan wilayah luar Ponorogo lainnya. Orang Ponorogo melihat bahwa kasurupan ini adalah ketidakmurnian dalam reog asli. Kasurupan ini kemungkinan lebih dekat ke kesenian ebeg dari Banyumas (Jawa Tengah), seblang dari Banyuwangi (Jawa Timur), jaranan sentherewe dari Tulungagung (Jawa Timur) dan kuda lumping dari Cirebon (Jawa Barat).

Pelestarian reog oleh pesantren-pesantren di Jawa

Di Jawa sendiri, reog ini masih dilestarikan oleh sejumlah pesantren. Pesantren Tegalrejo di Magelang, Jawa Tengah, malah mendatangkan ragam kesenian selain reog, seperti ketoprak, wayang kulit, barongsai, warangan dari pelbagai daerah. Selain menyukai cerita-cerita wayang, mereka juga melihat kandungan filsafat yang sejalan dengan nafas Islam di balik cerita itu. Kesenian di Jawa ini juga dipercaya sebagai alat pemersatu warga.

Integrasi antara agama Islam dan budaya Jawa ini telah terjadi ketika Wali Songo (sembilan wali) menyebarkan Islam di tanah Jawa mulai abad ke-14. Alih-alih memusnahkan budaya asli, mereka menggunakan kesenian Jawa sebagai medium penyampaian ajaran Islam.

Oleh beberapa kyai di Jember dan Tulungagung, beberapa gerakan dalam jaranan dimaknai sebagai proses pengambilan air wudlu. Pesantren-pesantren ini dipercaya hanya melestarikan keseniannya saja, tidak aspek lain seperti pemanggilan roh.

Berita Harian, Singapura, 30 April 2008

About these ads
4 Comments leave one →
  1. Rara permalink
    May 3, 2008 11:02 am

    saya ‘benci’ kuda kepang :)

  2. May 5, 2008 11:32 am

    Dari majalah Tempo yang dulu saya baca mengenai sejarah dan perkembangan Reog Ponorogo, ditengarai bahwa beberapa kelompok kesenian yang membawakan reog, mempraktekkan sosiopat (pedofilia) antara Warok dan Gemblak. Entah sampai mana kebenarannya dan entah juga apakah berlanjut sampai sekarang atau tidak.

  3. ari3f permalink*
    May 6, 2008 12:39 am

    Menurut Ian Douglas Wilson dalam “Reog Ponorogo: Spirituality, Sexuality, and Power in a Javanese Performance Tradition” warok selalu menyangkal bahwa mereka punya hubungan seksual dengan gemblaknya. Alasannya kehilangan sperma akan mengakibatkan hilangnya kesaktian sehingga mereka tidak lagi menjadi warok asli, melainkan warok-warokan. Hal ini juga menjadi alasan bahwa mereka tidak menikah, atau berhubungan seksual dengan perempuan. Tapi, menurut seorang warok, hal yang paling-paling terjadi antara warok-gemblak adalah ciuman ringan dan cuddling.

  4. December 7, 2008 4:33 pm

    … jaran kepang bukan berasal dari ponorogo, tetapi dari trenggalek …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: