Menulis


Auto feed RSS from here

Di Bandung yang (dulunya) dingin, tahun 1997, saya mendengarkan radio (mungkin Rase FM). Radio ini mengundang seorang penulis dan menanyakan suatu yang lumrah, namun mendasar: bagaimana caranya menulis? Jawabannya “lucu”: setiap orang pasti bisa menulis; yang dia perlukan adalah diam, tutup mulut, dan mulai menggoreskan pena atau mengetik di komputer. Menulis, singkatnya, adalah aktivitas tutup mulut, tangan menulis. Yang dilupakan adalah bagaimana membuat otak bekerja sehingga bisa “tumpah” semua ide-ide atau keinginan menulis. Yang dilupakan adalah interface antara otak dan kertas/komputer. Tapi acara di radio itu berkesan hingga hari ini. Saya tidak bisa menulis sambil ngomong.

Goenawan Mohamad, seorang penyair dan esais “Catatan Pinggir” – TEMPO, pernah menulis dalam pengantarnya

Seperti halnya membentuk cawan yang tak habis untuk dipakai, menulis pada dasarnya adalah pekerjaan yang resah.

Saya tak benar-benar mengerti artinya, hingga hari ini baru menyadari bahwa menulis (dalam arti menuangkan gagasan sendiri) itu bukan motorik belaka: ia melalui proses bertanya, gelisah, mencari jawaban, menguji jawaban, membaca, berdiskusi, dan ini semua diwarnai aspek psikologis. Tentu ia melibatkan rasio atau logika, tetapi menulis juga berarti merasa. Menulis juga sebuah proses yang tak kunjung usai, ia kadang berupa repetisi, sesuatu yang berulang. Ia bukan sesuatu yang final, tetapi membebaskan dan memperpanjang perjalanan intelektual.

Matematikawan yang menyegarkan adalah mereka yang gemar menulis. Seperti Terence Tao. Ia rajin sekali meng-update blog-nya, serajin menulis risalah ilmiah dalam teori bilangan. Dalam hal tulis – menulis (khususnya paper ilmiah), dia mengutip W. Somerset Maugham:

Ada tiga aturan dalam menulis sebuah novel. Sayangnya, tak ada seorangpun yang tahu apa itu.

Menulis untuk tingkat penyair, novelist atau buku “berat”, adalah hasil dari proses pencarian. Pencarian ini unik, artinya setiap orang memiliki cara tersendiri. Ada aspek-aspek yang bisa diajarkan seperti komposisi, struktur, tata bahasa, teknik. Namun, yang seringkali tidak diajarkan (namun sangat penting) adalah bagaimana mendapatkan ide, membahasakan ide (padahal ide awalnya dibahasakan), mengelaborasi ide. Penulis pada dasarnya diminta untuk mengasah sensitivitas pikiran supaya mendapatkan ide.

Menulis untuk koran tentu berbeda dengan menulis untuk buku. Koran ini hard news: up-to-date, ide ditangkap di kalimat pertama, sekarang dibaca, besok lupa juga tak apa-apa. Feature lain lagi: ia mengandung opini, ilustrasi, gagasan baru atau long-standing issue (masalah yang tak kunjung usai). Menulis buku lebih berbeda lagi: ia adalah investasi jangka panjang, terstruktur dan memerlukan riset. Kesamaan dari ketiganya: bahasa dan kreativitas. Kemampuan bahasa dan kreativitas ini dimiliki bersamaan. Penulis yang membosankan akan mengulang kata yang sama berkali-kali. Ia bahkan mengulang idenya berkali-kali. Ini tanda tidak percaya diri bahwa pembaca bisa menangkap idenya di awal paragraf. Penulis perlu memposisikan diri di pembaca. Pembaca yang kritis tentu bertanya (banyak hal) ketika membaca judul. Apa sih maksudnya? Contohnya apa? Bagaimana bisa? Kenapa? Ini adalah basic questions yang setidaknya perlu dijawab oleh penulis. Singkat tidak apa-apa, yang penting meyakinkan. Ilustrasi atau contoh dan data ini semakin memperkuat. Referensi juga sangat memperkaya. Referensi harus relevan, jika tidak relevan, ia akan berupa daftar-panjang-tak-penting dan sekedar foto lemari buku kita (yang pertumbuhannya tidak pesat kecuali kita punya toko buku).

Menulis makalah ilmiah, khususnya di bidang teknik, juga unik. Teringat ketika SMP kita diajarkan “metode ilmiah” – sebuah jargon yang hari itu saya tidak mudheng. Terlalu berat, dan guru langsung menjelaskan langkah-langkahnya apa, tanpa mengajarkan, mengapa kita perlu memakai metode itu. Metode ini, setelah melewati perjalanan panjang, dipahami sebagai “cara meyakinkan orang lain bahwa gagasan, teknik, hasil perhitungan atau eksperimen kita mengandung nilai ilmiah (dan bermanfaat)”. That’s all. Nilai ilmiah ini diukur dari mana? Dari problemnya, dari cara mencari jawabannya, dari kuantitas (quantity, angka, magnitude), dari reasoning (jika ini maka itu; benda ini berperilaku begini karena begitu), dan kesimpulan.

Dalam menulis makalah ilmiah, sebuah buku menulis ini:

Struktur artikel koran adalah model yang baik untuk diikuti ketika menulis makalah ilmiah.

Alasannya: pembaca ilmiah seperti mahasiswa, dosen, peneliti punya sedikit waktu (dan konsentrasi) untuk menyerap hal-hal baru. Sampaikan idenya di awal-awal paragraf! Selanjutnya detil-detil menyusul, seperti halnya struktur atau komposisi koran: semakin ke bawah semakin detil. Namun koran yang buruk biasanya menuliskan spekulasi, atau hal yang sepertinya relevan tapi tidak sesuai konteks.

Judul paper ilmiah mirip judul di koran: yang menarik tentu akan dibaca. Abstract paper ilmiah mirip paragraf pertama. Introduction mirip dengan alasan mengapa kok ditulis, apa yang berbeda atau baru. Dan seterusnya.

Satu hal yang perlu dilakukan sebelum menulis: bertanya. Hal lain: mulailah sekarang. Pelengkap namun penting: banyak membaca, mengkritisi pendapat sendiri (self-critic), berdiskusi dan mencari ide (baik di warung kopi, WC atau bis kota). Saya pribadi seringkali mendapatkan ide di WC (oleh sebab itu WC disebut juga “kamar ide” ), atau ketika naik sepeda.

Penulis kaliber seperti VS Naipaul, Dostoevsky atau Pramudya Ananta Toer mungkin mendapatkan ide dari kegelisahan dan tekanan. Namun something in common: mereka mulai menulis sejak dini. Dan mereka tak pernah berhenti. Mereka terus mencari. Dan, mencari.

But when you can’t write, don’t be sorry. Be a cartoonist, like Gary Larson. The best thing in life is to share. Whatever it is, in an interesting way, joyful way, unforgettable way.


 

About these ads

3 thoughts on “Menulis

  1. “Penulis yang membosankan akan mengulang kata yang sama berkali-kali.”

    Tidak selalu begitu. Penggunaan jargon teknis yg konsisten membantu pembaca menangkap lebih cepat apa yg hendak disampaikan.

    “Ia bahkan mengulang idenya berkali-kali. Ini tanda tidak percaya diri bahwa pembaca bisa menangkap idenya di awal paragraf.”

    Ini tergantung juga panjang artikel yg ditulis. Kalau 6-8 halaman, ide utama boleh
    saja diulang sebagai pembuka sebuah section.

    Btw, di IEEE TPDS Feb’10, catatan editor ttg “menulis artikel untuk jurusan komputer & teknik”. Artikel lengkap ada di: http://www.site.uottawa.ca/~ivan/is%20vm%20full.pdf

    • #1
      “Penulis yang membosankan akan mengulang kata yang sama berkali-kali.”

      Ini konteksnya artikel koran atau feature di majalah. Tapi berlaku juga untuk jurnal ilmiah yg mengikuti “bentuk” koran, di mana hal-hal umum dijelaskan di awal, hal-hal detil dijelaskan kemudian dalam body paper. “Kelemahan” orang-orang teknik atau sains adalah pemilihan kata dalam menyampaikan ide, bukan jargon. Jargon harus tetap, supaya tidak membingungkan atau konsistensi penulis. Tetapi yang membosankan justru kata yang dipilih, yang menemani jargon itu. Misal:

      Di abstract:
      The objective of present research is to obtain elastic modulus of material A.

      Di introduction, boleh diulang, tetapi dibuat seperti ini:
      Present investigation aims at completing previous works by [1,2,dst] by performing experiment to attain material A’s elastic modulus.

      Contoh di atas menunjukkan bahwa penulis menyampaikan tujuan eksperimennya dengan memakai dua kalimat yang berbeda, tetapi jargon tetap sama, yaitu elastic modulus.

      Ini contoh kreativitas bagi penulis teknik/sains. Untuk bidang sastra, mungkin kosakatanya lebih kaya.

      #2
      “Ia bahkan mengulang idenya berkali-kali. Ini tanda tidak percaya diri bahwa pembaca bisa menangkap idenya di awal paragraf.”

      Kalimat di atas ini ditujukan untuk artikel populer, koran, feature, di mana ruang atau “space” sangat terbatas. Ide biasanya disampaikan satu kali di awal paragraf, selebihnya adalah bukti mengapa ide itu bagus, valid atau dapat dipercaya.

      Thanks link-nya. Lumayan … gw jg belajar sesuatu hari ini, karena comment-nya berbobot … hehe

      “… to repeat the description of main contribution four times: in the
      title, abstract, introduction (or chapter 1) and in the text…”

      Paper agak berbeda meski pilihan kalimat juga harus kreatif. Setuju bahwa kontribusi memang harus diulang, tetapi ini [sepertinya] mengakomodasi reviewer atau pembaca yang modular (pembaca yang hanya membaca intro, conclusion, referensi – hanya utk melihat apakah penulis menyitir papernya atau tidak], seperti yang ditulis oleh Ivan dan Veljko (This corresponds to the decreasing portion of readers for
      corresponding parts of the article). Untuk pembaca modular inilah pengulangan diperlukan di beberapa tempat. Juga, seperti ditulis oleh Ivan dan Veljko, jumlah katanya adalah 10 – 100 – 1000 – 10000. Capek juga sih nulis ide sampai 10000, tapi mungkin maksudnya harus semakin detail ketika semakin ke belakang.

      Thanks Ver!

  2. Pingback: Menulis Paper Ilmiah | Random Notes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s