Skip to content

Dua Problematika Bahasa di Jepang

May 24, 2010

Auto-forwarded from http://ari3f.wordpress.com

Ketika Singapura – suatu negeri di mana bahasa Inggris adalah medium administratif dan pendidikan –  menghimbau penduduknya agar melestarikan bahasa ‘daerah’, seperti Mandarin, Melayu dan Tamil, masyarakat Jepang justru ingin berbahasa Inggris. Di Singapura, ada semacam ‘kompetisi’ antara bahasa daerah dan  bahasa Inggris. Jepang belum sampai pada tahap kompetisi, namun ujian sudah datang duluan: generasi muda Jepang kerap salah mengartikan kata dan kesulitan menulis Kanji!

Bahasa Inggris

Banyak orang bilang: Jepang tak perlu bahasa Inggris, mereka sudah maju. Namun, jaman kian berbeda. Tanpa bahasa Inggris, Jepang tak dapat memperluas bisnis dan diplomasinya ke luar negeri. Tanpa bahasa Inggris, jumlah wisatawan ke Jepang tak lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Tanpa bahasa Inggris, Jepang tak akan mempelajari teknologi bangsa lain, dan berpartisipasi dalam karya ilmiah.

Jepang tak tinggal diam: pusat bahasa Inggris pun dibangun, pembahasa asli (native speaker) didatangkan, petunjuk di stasiun atau tempat wisata ditulis dalam bahasa Inggris, instruksi kereta (seperti Chuo line) sudah berbahasa Inggris. Selain mempermudah wisatawan, usaha-usaha ini menyadarkan masyarakat Jepang mengenai pentingnya bahasa Inggris. Tak hanya bahasa Inggris: bahasa Portugis pernah juga terlihat di papan peringatan. Banyak juga imigran dari Brazil yang bermukim di Jepang.

Bahasa Inggris diajarkan selama delapan tahun di Jepang: 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA, ditambah 2 tahun di universitas. Tapi kenapa orang Jepang seperti kurang mahir berbahasa Inggris?

  • Masalah bahasa pengantar. Metode pengajaran bahasa Inggris di Jepang menggunakan pengantar bahasa Jepang. Padahal di negara lain, biasanya guru memakai bahasa Inggris ketika mengajar.
  • Masalah isi. Guru hanya menekankan kemampuan bahasa Inggris pasif seperti membaca. Artinya, setelah lulus, siswa hanya bisa membaca, tapi tak dapat berbicara dalam bahasa Inggris.
  • Masalah buku teks. Penjelasan dalam buku-buku bahasa Inggris ditulis dalam bahasa Jepang; hanya kata Inggris saja yang masih asli.
  • Masalah perspektif. Karena orang Jepang bangga akan bahasa Jepang, informasi apa saja ditransformasikan dalam bahasa Jepang. Buku-buku asing diterjemahkan dalam bahasa Jepang; film asing disulihsuarakan (dubbed) ke dalam bahasa Jepang; kata asing diucapkan secara Jepang (misal, toilet menjadi to-i-re).
  • Masalah syarat bekerja. Di Jepang, perusahaan masih menganut nilai-nilai konvensional. Mereka hanya memerlukan pegawai yang jujur, pekerja keras dan dapat dilatih untuk menganut nilai-nilai perusahaan. Mereka tak tertarik untuk mengetahui kemampuan bahasa Inggris pelamar kerja.

Namun Jepang kini berubah. Tapi perubahannya hanya dalam aspek yang kelima saja, yaitu syarat bekerja. Dengan semakin banyaknya jumlah imigran di Jepang, yaitu mendekati 1 juta jiwa pada 2010, perusahaan-perusahaan Jepang selalu menanyakan nilai TOEIC (Ujian Bahasa Inggris untuk Komunikasi Internasional) ke pelamar kerja. Ujian TOEIC diikuti 1.5 juta lulusan baru (fresh graduate) setahunnya. Apabila nilai TOEIC tak mencukupi, mereka tak dapat bekerja di perusahaan besar, seperti Toyota atau Mitsubishi. Ini mendorong orang Jepang untuk menguasai bahasa Inggris.

Bahasa Jepang

Masalah bahasa yang kedua adalah menurunnya kemampuan menulis kanji dan salah mengartikan kata.

Jepang punya tiga jenis aksara: hiragana (fonetik seperti a-b-c), katakana (fonetik, namun khusus untuk kata asing) dan kanji (‘dipinjam’ dari huruf Cina, artinya mirip, tapi pelafalan beda). Sejak pemerintah mengeluarkan program pendidikan yang lebih luwes (Relaxed Education), orangtua jadi terkejut melihat anak-anak mereka kurang mahir menulis kanji.

Mengapa?

Anak-anak cenderung memakai perangkat lunak pengolahan kata (word processing software). Mereka tak perlu menulis: cukup mengetik hiragana atau katakana, dan perangkat lunak secara otomatik mengubahnya jadi kanji. Perangkat lunak ini tak hanya digunakan anak-anak, bahkan mahasiswa pun menggunakannya.

Mengetik dan menulis tangan sangat berbeda. Dalam mengetik, seseorang cukup hanya mengetik fonetik dan hafal bentuk saja. Sedangkan dalam menulis, mereka harus memperhatikan letak stroke (tanda garis pendek dalam kanji). Bila letak tanda salah, kata akan berubah makna. Karena arti kata berasal dari ‘bentuk’ tulisannya, maka generasi muda Jepang juga kadang kurang paham perbedaan kata. Satu kata kadang terdengar mirip, padahal tulisan dan maknanya berbeda.

Untuk mengatasi ini, empat stasiun TV Jepang membantu pemerintah menyiarkan kampanye kokugo (bahasa ibu). TBS membuat program “Quiz! Nihongo-O!” yang dipandu oleh pelawak. Kuis ini diikuti 30 selebriti yang harus menebak tulisan kanji mana yang benar. TBS juga membuat program “Anata Setsumei Dekimasu Ka” (Dapatkah anda menjelaskan?) yang diikuti selebriti untuk menebak beda kata, misal ‘sake’ (ikan salmon) dengan ‘shake’ (salmon yang sudah matang). Fuji TV menyiarkan “Tamori no Japonica Rogosu” di mana seorang pemandu berkacamata hitam berkeliling Jepang mencari kesalahan kata – kata pada tanda jalanan, kemasan atau iklan. Selebriti diminta untuk menerka di mana letak salahnya. Program yang mendukung bahasa ibu ini lucu dan menarik, meski belum efektif. Namun, kesadaran akan bahasa ibu terus digalakkan oleh TV. Di sisi lain, makin banyaknya orang asing di Jepang ‘memaksa’ orang Jepang berbahasa Inggris pula.

*Email dari Tokyo, Berita Harian Singapura, 17 Mei 2010

One Comment leave one →
  1. June 11, 2010 4:28 pm

    nihongo ga muzukashi,tanoshi desu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: