<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Random Notes</title>
	<atom:link href="http://ari3f.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ari3f.wordpress.com</link>
	<description>Jepang Kontemporer &#124; 1000 Hari di Tokyo</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 06:20:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ari3f.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Random Notes</title>
		<link>http://ari3f.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ari3f.wordpress.com/osd.xml" title="Random Notes" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ari3f.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Erdös</title>
		<link>http://ari3f.wordpress.com/2012/01/28/erdos/</link>
		<comments>http://ari3f.wordpress.com/2012/01/28/erdos/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 17:28:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari3f</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film & Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ari3f.wordpress.com/?p=1906</guid>
		<description><![CDATA[1 Pada suatu hari di bulan Juli 2008, ibu negara menemukan satu buku di bazaar buku, Expo, Singapura. Judulnya menarik: The Man Who Loved Only Numbers. Buku ini berisi biografi Paul Erdös yang ditulis oleh Paul Hoffman. Nama aslinya adalah Erdős Pál (dalam bahasa Hungaria, nama pertama adalah nama keluarga, persis nama orang Jepang atau China). Sampulnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ari3f.wordpress.com&amp;blog=1273435&amp;post=1906&amp;subd=ari3f&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>1</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu hari di bulan Juli 2008, <a href="http://tutee.wordpress.com/2008/07/25/the-man-who-loved-only-numbers-paul-erdos/">ibu negara</a> menemukan satu buku di bazaar buku, Expo, Singapura. Judulnya menarik: <strong>The Man Who Loved Only Numbers</strong>. Buku ini berisi biografi Paul Erdös yang ditulis oleh Paul Hoffman. Nama aslinya adalah Erdős Pál (dalam bahasa Hungaria, nama pertama adalah nama keluarga, persis nama orang Jepang atau China). Sampulnya seperti ini:</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1908" title="paul" src="http://ari3f.files.wordpress.com/2012/01/paul.jpg?w=199&#038;h=300" alt="" width="199" height="300" /></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah itu, ibu negara membuat ringkasan tentang Erdös.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><a>Paul Erdös</a> (menurut buku ini <a>Erdös</a> dibaca seperti <em>air-dish</em>) terlahir sebagai<em> prodigy</em> (bocah berbakat atau jenius) di Budapest, Hungaria. Saking cintanya dengan angka, dia selalu berhasrat untuk selalu memecahkan persoalan matematika. Dia tidak menikah. Selama hidupnya, dia pergi berkeliling dari satu tempat riset/universitas ke universitas lainnya hanya berbekal koper dan duit seadanya. Dia pernah memenangkan Wolf Prize, sebuah penghargaan paling bergengsi di bidang matematika. Panitia Wolf Prize memberinya hadiah $50.000. Dari uang sebanyak itu, dia hanya menyimpan $720 buat dirinya, sisanya disumbangkannya untuk mendirikan lembaga pendidikan di Israel. Dia pernah pergi ke Jepang hanya dengan bermodalkan satu koper berisi baju-bajunya dan uang $50 saja. Hidupnya unik. Sama menariknya dengan Richard Feynman. Hidup mereka berdua pun dituangkan dalam bentuk film. Bedanya Erdös bermain sebagai dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sepanjang hidupnya, Erdös menulis 1,475 paper ilmiah dalam bidang matematika. Orang yang pernah kerjasama langsung dengan Erdös diberi gelar Erdös No.1; orang yang bekerja sama dengan orang yang pernah bekerja langsung dengan Erdös mendapat Erdös No. 2; dan seterusnya. Einstein mendapat Erdös No.2.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasanya, Erdös juga satu-satunya orang di dunia yang memanggil anak-anak kecil dengan sebutan epsilon. Epsilon dalam matematika berarti jumlah yang kecil. Dia mempunyai istilah sendiri untuk hal-hal tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak ibunya meninggal, Erdös menghabiskan 19 jam sehari untuk matematika. Erdos juga sangat menggemari kopi, sampai-sampai Alfred Renyi pernah mengatakan bahwa <em>&#8220;A mathematician, is a machine for turning coffee into theorems</em>.&#8221; Setiap ditanya kenapa dia tak banyak beristirahat, Erdös selalu menjawab: &#8220;&#8230; Banyak waktu untuk beristirahat nanti ketika kita dikuburkan.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1909" title="erdos-n-is-a-number-michele-roohani1" src="http://ari3f.files.wordpress.com/2012/01/erdos-n-is-a-number-michele-roohani1.jpg?w=600" alt=""   /></p>
<p style="text-align:center;"><strong>2</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada bulan Juni 2010, untuk pertama kalinya saya mengunjungi Budapest. Saya senang sekali, karena pada akhirnya, saya bisa menginjakkan kaki di tanah kelahiran Erdös! Yay! Bagi saya Erdös adalah inspirasi. Bukan dalam hal matematika sebenarnya, tapi dalam hal kebaikan hati (terhadap siapa saja), dedikasi, kesederhanaan, ketajaman, produktivitas, keunikan, kemampuan kolaborasi, sikap hidup yang<em> pilgrimage</em> demi sesuatu yang dicintainya yaitu komunitas matematikawan, sikap menghormati ibu, penghargaan terhadap ilmuwan muda, sikap dermawan, dan banyak lainnya &#8230; ilmuwan dengan jiwa sangat mulia seperti Erdös sangat langka di dunia ini &#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Yang saya pikirkan ketika sampai di Budapest adalah mencari toko buku. Ketika saya menemukan satu toko buku yang menjual buku-buku bahasa Inggris, saya bertanya kepada staf toko: Ada buku Paul Erdös? Dia balik bertanya: Siapa itu? Saya jawab: Matematikawan Hungaria. Ada ya? Dia bilang: Wah, maaf saya tidak tahu ada orang Hungaria bernama itu &#8230; Gleg &#8230;. Tapi akhirnya dia cari juga di database, dan ketemulah satu buku yang akhirnya saya beli. Judulnya: <strong>My Brain is Open &#8211; The Mathematical Journeys of Paul Erdös</strong>. Penulisnya Bruce Schechter. Buku itu langsung saya tanda tangani, tertulis &#8220;Budapest, 10/06/2010&#8243;. Yang menarik, pada hari itu pula, Olit ulang tahun ke-4! Sungguh kebetulan yang luar biasa. Buku itu saya baca habis. Mungkin sudah beberapa kali. Tapi saya tidak bosan-bosannya. Buku ini sebagian diambil dari film tentang Paul Erdös yang berjudul &#8220;N is a Number&#8221;. Filmnya dapat dilihat di Youtube. Menarik sekali!</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1912" title="erdos" src="http://ari3f.files.wordpress.com/2012/01/erdos.jpg?w=197&#038;h=300" alt="" width="197" height="300" /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ari3f.wordpress.com/1906/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ari3f.wordpress.com/1906/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ari3f.wordpress.com/1906/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ari3f.wordpress.com/1906/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ari3f.wordpress.com/1906/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ari3f.wordpress.com/1906/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ari3f.wordpress.com/1906/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ari3f.wordpress.com/1906/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ari3f.wordpress.com/1906/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ari3f.wordpress.com/1906/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ari3f.wordpress.com/1906/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ari3f.wordpress.com/1906/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ari3f.wordpress.com/1906/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ari3f.wordpress.com/1906/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ari3f.wordpress.com&amp;blog=1273435&amp;post=1906&amp;subd=ari3f&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ari3f.wordpress.com/2012/01/28/erdos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4e89b11932e5ebcdca9233fc0253eed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ari3f</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ari3f.files.wordpress.com/2012/01/paul.jpg?w=199" medium="image">
			<media:title type="html">paul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ari3f.files.wordpress.com/2012/01/erdos-n-is-a-number-michele-roohani1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">erdos-n-is-a-number-michele-roohani1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ari3f.files.wordpress.com/2012/01/erdos.jpg?w=197" medium="image">
			<media:title type="html">erdos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Empat Hal</title>
		<link>http://ari3f.wordpress.com/2012/01/24/empathal/</link>
		<comments>http://ari3f.wordpress.com/2012/01/24/empathal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 06:09:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari3f</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ari3f.wordpress.com/?p=1900</guid>
		<description><![CDATA[Saya tidak menyangka bahwa tulisan &#8220;Jepang Tidak Mengubah Kita&#8221; ditanggapi orang. Bahkan teman yang sedang liburan di Jakarta pun mengirim pesan. Efek dari tulisan itu sedikit hay-wire. Padahal, tulisan itu untuk saya sendiri; sebagai refleksi, bahwa jika saya ada di posisi mereka, saya berusaha berubah. Seperti yang ditulis sebelumnya: Inti dari tulisan ini adalah jalan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ari3f.wordpress.com&amp;blog=1273435&amp;post=1900&amp;subd=ari3f&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Saya tidak menyangka bahwa tulisan &#8220;<a href="http://ari3f.wordpress.com/2012/01/07/jepang-tidak-mengubah-kita/">Jepang Tidak Mengubah Kita</a>&#8221; ditanggapi orang. Bahkan teman yang sedang liburan di Jakarta pun mengirim pesan. Efek dari tulisan itu sedikit <em>hay-wire</em>. Padahal, tulisan itu untuk saya sendiri; sebagai refleksi, bahwa jika saya ada di posisi mereka, saya berusaha berubah. Seperti yang ditulis sebelumnya:</p>
<blockquote><p>Inti dari tulisan ini adalah jalan menuju perubahan. Kita harus menemui persimpangan dengan banyak pilihan dulu sebelum tahu tujuan kita. Dalam memilih, kita mungkin melakukan kesalahan seperti yang disebut di atas. Namun, masih ada waktu untuk berubah. Tuhan masih berbaik hati memberikan nafas dan rizki lain yang baik. Tahun ini kita harus berubah. Tinggalkan keburukan di 2011.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak apologetik, apalagi berusaha jadi protagonis. Bagi saya orang baik hanya ada di komik, tidak di dunia ini. Nietzsche yang pernah jadi murid Schopenhauer juga memahami ini. Menjadi Hegelian di Berlin kala itu bukan pilihan Schopenhauer atau Nietzsche. Menjadi orang berpihak di satu sisi, bahkan pihak yang kritis, adalah sisi yang lumrah. Ia adalah pilihan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan yang baik, konon, adalah tulisan yang menggerakkan. Oleh sebab itu, <em>Das Kapital</em> yang murni buku filsafat dan ekonomi menggerakkan orang untuk berubah melawan kapitalisme yang menggerogoti Eropa. Tapi memang ada euforia di sana. Yang repot, euforia itu juga diderita mereka yang berseragam jenderal dan berbedil. Ketika militer turut menderita euforia <em>Das Kapital</em>, Marx mungkin jadi murung. Ia lalu berkata: &#8220;Aku tidak se-Marxis yang dikira&#8221;. Tapi Marx tidak apologetik terhadap tulisannya sendiri. Ia pergi ke Perancis untuk menghadiri rapat partai komunisme yang gegap gempita di sana.</p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan yang baik, konon, juga bukan hasil asumsi atau konon-kabarnya (<em>hearsays</em>). Tulisan saya sebelumnya, yang ramai mendapat tanggapan, adalah bagian tentang ramainya pojok Indonesia di lembaga penyiaran. Ada empat hal yang ingin disampaikan di sini:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Tentang kebisingan. Ketika saya mengambil kuliah <em>Aircraft Loads</em>, saya memahami fatalnya <em>acoustic fatigue</em>. Ini adalah fenomena lelahnya sebuah panel di struktur pesawat yang mengakibatkan terlepasnya panel tersebut. Sumber dari kelelahan ini adalah <em>noise</em> atau kebisingan. Kebisingan itu ada ukurannya. Katakan, dalam satuan dB (decibel). 100 dB tentu memekakkan telinga. Kebisingan itu juga punya frekuensi dan keterjadian: seberapa sering dia terjadi dan kapan saja. Untuk mengkuantifikasi kebisingan suatu mesin, kita tinggal tancapkan acoustic emission sensor dan mengukur secara berkala. Lalu kita simpulkan. Bising atau tidak bising, berisik tidak berisik, ditentukan dari pengukuran itu. Ada yang mengatakan satu kelompok itu berisik, ada yang mengatakan tidak. Ada yang mengatakan kelompok A lebih bising dari kelompok B. Bagaimana mendamaikan ini? Ya harus diukur dan dibandingkan. Jika tidak maka ia jadi relatif. Berisik adalah masalah relativitas sehingga ada orang yang akhirnya membeberkan data. Misal: dalam setahun, kelompok A selalu berisik pada hari Sabtu, dan ini berulang hingga 52 minggu. Itu jika di-plot dalam time-domain. Jika di-plot dalam frequency-domain maka kita bisa tahu berapa magnitude tertinggi dan berapa frekuensinya (ref: Control System)<em></em>. Karena saya tidak melihat (baca: mengukur) sendiri level kebisingan di pojok Indonesia di lembaga penyiaran itu, maka saya tidak tahu level kebisingannya. Dan saya tidak tahu apakah pojok itu lebih berisik/tenang daripada yang lain atau tidak. Saya percaya saja jika ada yang mengatakan bagian itu berisik. Tetapi saya harus memeriksanya sendiri; mengukurnya secara berkala. Sayangnya ini bukan <em>problem</em> di pesawat terbang. Jadi saya tidak berminat untuk mengukur.</li>
<li>Tentang asumsi. Tulisan saya tidak menyebut nama lembaga. Ia anonim. Orang memang jadi berasumsi; dengan asumsi pula mereka berargumen. Ini menggelikan. Karena argumen yang berasal dari asumsi itu pasti lemah. Sebelum adu argumen sebaiknya diluruskan dulu, itu lembaga apa sih. Tentu saya tidak akan memberi jawaban karena adalah hak saya untuk merahasiakan. Hak anda juga untuk berasumsi. Tetapi ketika tidak ada kesepakatan tentang nama lembaga atau nama orang, maka argumen tinggallah kenangan. Masing-masing orang jadi bertanya-tanya terus. Kami kah itu? Itu si A ya? Yah, mana saya tahu &#8230;</li>
<li>Pojok Indonesia? Siapa itu? Di mana mereka? Tidak ada yang tahu.</li>
<li>Lembaga penyiaran di Jepang? Siapa itu? Di mana mereka? Tidak ada yang tahu.</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ari3f.wordpress.com/1900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ari3f.wordpress.com/1900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ari3f.wordpress.com/1900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ari3f.wordpress.com/1900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ari3f.wordpress.com/1900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ari3f.wordpress.com/1900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ari3f.wordpress.com/1900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ari3f.wordpress.com/1900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ari3f.wordpress.com/1900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ari3f.wordpress.com/1900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ari3f.wordpress.com/1900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ari3f.wordpress.com/1900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ari3f.wordpress.com/1900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ari3f.wordpress.com/1900/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ari3f.wordpress.com&amp;blog=1273435&amp;post=1900&amp;subd=ari3f&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ari3f.wordpress.com/2012/01/24/empathal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4e89b11932e5ebcdca9233fc0253eed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ari3f</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jepang Tidak Mengubah Kita</title>
		<link>http://ari3f.wordpress.com/2012/01/07/jepang-tidak-mengubah-kita/</link>
		<comments>http://ari3f.wordpress.com/2012/01/07/jepang-tidak-mengubah-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 22:07:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari3f</dc:creator>
				<category><![CDATA[Japan Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ari3f.wordpress.com/?p=1857</guid>
		<description><![CDATA[1 Jepang menyukai kesunyian karena ia merepresentasikan harmoni. Di kereta, orang jarang saling bicara meski mereka pergi bersama-sama. Tapi ada juga yang ramai, misalnya anak-anak SMP yang baru pulang sekolah. Beberapa orang di kereta, ketika berdesak-desakan pagi hari menuju Tokyo Station, bercakap-cakap dengan agak kencang. Biasanya orang di sekelilingnya melirik dengan pandangan terganggu. Tapi seringnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ari3f.wordpress.com&amp;blog=1273435&amp;post=1857&amp;subd=ari3f&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong><em></em>1</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jepang menyukai kesunyian karena ia merepresentasikan harmoni. Di kereta, orang jarang saling bicara meski mereka pergi bersama-sama. Tapi ada juga yang ramai, misalnya anak-anak SMP yang baru pulang sekolah. Beberapa orang di kereta, ketika berdesak-desakan pagi hari menuju Tokyo Station, bercakap-cakap dengan agak kencang. Biasanya orang di sekelilingnya melirik dengan pandangan terganggu. Tapi seringnya suasana kereta diisi keheningan.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara pribadi saya menyukai ini. Oleh sebab itu, kereta Jepang mewajibkan penumpangnya mematikan bunyi telepon genggam. Bunyi ponsel mengganggu ketenangan. Herannya, di kereta Jepang, orang boleh makan dan minum. Berbeda dengan Singapura, makan minum dilarang; tapi <em>ngomong</em> kencang ya silakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang Indonesia memang cepat akrab meski baru kenal. Keakraban itu diisi dengan perbincangan yang seru (diselingi canda) dan bersifat pribadi (misal: &#8220;Sudah menikah? Agama x kah?&#8221;). Di tengah negara yang asing dan bertemu teman senegara memang menyenangkan. Setidaknya bagi mereka yang membenci keterasingan dan solilokui. Masalahnya, ketika pertemuan itu terjadi di kereta, apa yang harus dilakukan? Ya diam. Atau, jika sulit, berbicaralah perlahan, kecilkan volume. Mengecilkan volume suara tidak biasa bagi sejumlah orang. Apalagi bagi mereka yang terlahir ekstrovert dan <em>juweh</em> (Jawa: susah diam dan selalu mengomentari banyak hal). Ketika kita bersentuhan dengan entitas sosial lain, apalagi jumlahnya besar (yaitu masyarakat Jepang), patuhilah pesan keharmonisan mereka. Kecilkan suara, hormati orang lain yang ingin menikmati ketenangan perjalanan. Ini tidak hanya berlaku di kereta, tapi juga di ruangan kerja. Di sebuah perusahaan penyiaran Jepang, konon, pojok yang paling ramai (entah akrab atau berisik) adalah pojok Indonesia. Saya belum pernah melihatnya sendiri. Tapi jika ini benar maka orang lain boleh jadi melihat &#8216;keakraban&#8217; itu sebagai representasi Indonesia, yang akrab dan berisik. Tidak masalah dengan akrab, tapi jangan berisik dong. <strong>Berisik</strong> kan bisa dikurangi dengan mengecilkan volume &#8230; dengan mengontrol nafas, getaran pita suara &#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:center;"><strong>2</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada 10 &#8211; 12 Juni, saya mengikuti sebuah &#8216;rapat tahunan&#8217; ilmiah yang diadakan mahasiswa Indonesia di Jepang. Senang sekali rasanya, karena saya bisa sekali-kali ketemu ramai orang Indonesia di sana. Saya juga merasa bangga karena teman-teman Indonesia bersemangat sekali mengadakan acara seminar itu. Acara dibuka oleh beberapa orang. Ada rektor Tokyo Institute of Technology (TIT), ada Dubes Indonesia untuk Jepang Bapak Muhamad Lutfi. Acara hari pertama berjalan lancar. Namun, Dubes Lutfi nampak mencari-cari seseorang. Rupanya ketahuan beliau tidak menemukan ketua panitianya. Ketua panitia acara itu adalah peneliti Indonesia yang bekerja di lembaga riset Jepang bertahun-tahun. Padahal, ketua panitia seharusnya ada di acara tersebut mendampingi dubes, rektor TIT dan profesor lainnya; selain itu, wajar saja, jika ketua panitia harus memastikan semua berjalan lancar. Dia mungkin mendelegasikan kepada seseorang. Tapi mungkin dubes tidak mengetahui masalah delegasi itu. Dubes akhirnya mengeluh dan kesal karena ketua panitia tidak ada. Ini bisa dimaklumi sebagai salah paham (<em>miscommunication</em>) atau informasi tidak tersalurkan dengan baik; tapi bisa juga karena kelalaian yang disebabkan oleh <strong>persiapan yang buruk</strong>. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ini agak memalukan memang. Belakangan ketahuan bahwa ketua panitia sedang menjemput (mengantar jalan-jalan) rektor bekas almamater dia. Jadi, yang seharusnya didelegasikan yang mana ya?</p>
<p style="text-align:center;"><strong>3</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Cerita masih seputar seminar itu. Hari ke-2 saya datang lagi pagi-pagi sekali karena saya harus memberikan presentasi pada sesi pertama yang dimulai pukul 8:00. Dari rumah, saya berangkat jam 6:00. Tidak masalah dengan berangkat pagi, dan gerimis pula. Tapi masalahnya, ketika sampai di sana, saya tidak bisa membuka ruangan tempat sesi akan dilangsungkan. Kemudian saya mencari-cari di mana sekiranya panitia berada. Tapi suasana sepi sekali. Saya kebetulan juga bertemu 1-2 orang yang nampak tergopoh-gopoh karena mengira terlambat. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 8:20. Tapi seminar belum juga dimulai. Untungnya, saya bertemu ketua organisasi pelajar Indonesia di Jepang dan seorang peneliti yang bekerja di sebuah universitas swasta. Akhirnya, saya diajak ke ruang panitia. Di ruang panitia, saya melihat seorang dari panitia masih baru bangun tidur, lengkap dengan celana pendek dan sarung (atau jaket, saya lupa), garuk-garuk badan pula! Sudah jelas: panitia <strong><em>ngaret</em></strong> (budaya ngaret masih dibawa aja ke Jepang). Selain itu, banyak sekali presenter yang tidak bisa hadir di pagi hari. Mereka rata-rata datang siang harinya. Memang sih, cuaca saat itu hujan gerimis dan cocok untuk <em>selimutan</em>. Memang sih, kehadiran waktu itu tidak sewajib nge-<em>tap</em> kartu kereta PASMO di pintu stasiun. Tapi <em>kan</em> ini acara teman-teman Indonesia yang harus dihargai kerja kerasnya. Lebih jauh, ini <em>kan</em> acara kita sendiri dan untuk kita sendiri (sudah bayar pula!). Jadi, tidak ada alasan untuk tidak hadir. Akhirnya, karena <em>chairman</em> ingin cepat mulai, maka ia berinisiatif menggabungkan beberapa <em>presenter</em> menjadi satu sesi. Sesi saya, yang seharusnya masalah <em>Material Science and Applied Science</em>, digabung dengan sesi lainnya: kesehatan/kedokteran, ekonomi, makanan dan biologi. Untungnya, sesi &#8216;gado-gado dadakan&#8217; itu berjalan lancar. Saya jadi belajar juga tentang masalah regionalisme ekonomi di Asia Timur, riset tentang kanker, bioteknologi, sistem informasi rumah sakit. Sesi &#8216;gado-gado&#8217; itu memberi secuil pengetahuan baru yang berharga.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya melanjutkan ke sesi lainnya, dimana seorang kawan mempresentasikan makalahnya. Setelah itu, saya ijin pulang karena kepala sangat pusing. Besoknya saya istirahat di rumah, tidak hadir di hari ke-3. Sebelumnya, saya mengirim email kepada ketua organisasi ini, memohon maaf karena tidak dapat hadir.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sulit membayangkan bahwa perilaku yang sama (<strong>ngaret</strong> dan <strong>mbolos</strong>) dilakukan orang Jepang. Pernah dulu, di seminar yang diadakan oleh orang Jepang setahun sebelumnya, saya lihat orang Jepang sudah duduk rapi sebelum jam 8:00 pagi. Dan, pas jam 8:00, acara dibuka. Tepat waktu! Semua hadir! Tidak heran jika Jepang maju. Mereka sangat menghargai waktu dan kawan sejawat. Tidak dapatkah kita mencontoh etos yang baik dari Jepang?</p>
<p style="text-align:center;"><strong>4</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Yang saya heran, rata-rata orang Indonesia yang di Jepang adalah pelajar berbakat yang mendapat beasiswa. Jika tidak ambil program master, ya doktor. Beasiswa berarti: ada orang atau lembaga melihat prestasi akademiknya baik dan layak dibayari sampai <em>mentok</em>. Tapi prestasi akademik dan jenjang akademik yang sedang ditempuh tidak menentukan pengetahuan etos sosial. Dua hal itu juga tidak menentukan orang punya empati atau tidak. Empati (menempatkan diri dalam perasaan dan pikiran orang lain) adalah buah pendidikan keluarga dan sekolah, selain merupakan bakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulan saya boleh jadi sepele dan ini merupakan kesan pribadi semata: Jepang tidak mengubah perilaku dan etos kita. Kita terlahir dan besar di negara yang sebagian besar orangnya beragama. Bagi yang Islam, menghargai waktu adalah tuntunan agama yang konformal terhadap alam. Jika tidak, mengapa sholat ditentukan waktunya dengan tepat dan mengikuti musim? Penghargaan terhadap waktu sangat krusial. Yang kedua adalah ketenangan. Orang dikatakan baik jika ada interaksi antara dia dengan orang lainnya; jika tidak, maka dia baik hanya untuk diri sendiri. Dalam Islam, sholat membuat orang jadi baik. Tapi kenapa orang-orang Indonesia yang dominan Islam itu (yang mungkin rajin sholat), tidak bisa menghargai orang Jepang yang menyukai ketenangan? Bisakah kita memberi manfaat &#8220;ketenangan&#8221; kepada lingkungan, kepada orang Jepang? Kita tamu di negeri asing; tamu haruslah menghargai tuan rumah, bukan?</p>
<p style="text-align:justify;">Mengutip Muhammad Abduh (1849-1905) modernis Islam asal Mesir, dan memodifikasi sedikit:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">I went to Japan and saw Islam, but no Muslims; I got back to Indonesia and saw Muslims, but not Islam.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Inti dari tulisan ini adalah jalan menuju perubahan. Kita harus menemui persimpangan dengan banyak pilihan dulu sebelum tahu tujuan kita. Dalam memilih, kita mungkin melakukan kesalahan seperti yang disebut di atas. Namun, masih ada waktu untuk berubah. Tuhan masih berbaik hati memberikan nafas dan rizki lain yang baik. Tahun ini kita harus berubah. Tinggalkan keburukan di 2011.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ari3f.wordpress.com/1857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ari3f.wordpress.com/1857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ari3f.wordpress.com/1857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ari3f.wordpress.com/1857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ari3f.wordpress.com/1857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ari3f.wordpress.com/1857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ari3f.wordpress.com/1857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ari3f.wordpress.com/1857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ari3f.wordpress.com/1857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ari3f.wordpress.com/1857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ari3f.wordpress.com/1857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ari3f.wordpress.com/1857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ari3f.wordpress.com/1857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ari3f.wordpress.com/1857/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ari3f.wordpress.com&amp;blog=1273435&amp;post=1857&amp;subd=ari3f&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ari3f.wordpress.com/2012/01/07/jepang-tidak-mengubah-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4e89b11932e5ebcdca9233fc0253eed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ari3f</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kim Jong Il</title>
		<link>http://ari3f.wordpress.com/2011/12/27/kim-jong-il/</link>
		<comments>http://ari3f.wordpress.com/2011/12/27/kim-jong-il/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 21:59:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari3f</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ari3f.wordpress.com/?p=1844</guid>
		<description><![CDATA[Kim Jong Il, diktator Korea Utara itu, wafat minggu lalu, 17 Desember 2011. Usianya 69 tahun ketika ia meninggal. Ia menggantikan kedudukan ayahnya, Kim Il Sung, sebagai pemimpin besar Korea Utara pada 1994. Kim Il Sung adalah teman Bung Karno. Kim Jong Il (16 Februari 1941 &#8211; 17 Desember 2011) Di Jepang, barangkali tak ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ari3f.wordpress.com&amp;blog=1273435&amp;post=1844&amp;subd=ari3f&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:left;">Kim Jong Il, diktator Korea Utara itu, wafat minggu lalu, 17 Desember 2011. Usianya 69 tahun ketika ia meninggal. Ia menggantikan kedudukan ayahnya, Kim Il Sung, sebagai pemimpin besar Korea Utara pada 1994. Kim Il Sung adalah teman Bung Karno.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://ari3f.files.wordpress.com/2011/12/kji-11.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1850" title="KJI-1" src="http://ari3f.files.wordpress.com/2011/12/kji-11.jpg?w=259&#038;h=300" alt="" width="259" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><em>Kim Jong Il (16 Februari 1941 &#8211; 17 Desember 2011)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Di Jepang, barangkali tak ada satu orang pun yang mengenal dekat Kim Jong Il kecuali Kenji Fujimoto (64 tahun). ‚Kenji Fujimoto‘ (bukan nama sebenarnya) adalah bekas koki pribadi mendiang diktator Korea Utara itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Keahlian Fujimoto adalah membuat sushi (nasi bercuka yang dibubuhi irisan ikan, telur ikan atau sayuran). Namun, setelah bukunya yang bertajuk ‚Koki Kim Jong Il‘ (Fuso Publishing, Inc.) diterbitkan pada 2004, satu stasiun TV Jepang memberinya julukan: &#8220;Ahli Kim Jong Il&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Fujimoto awalnya bekerja di sebuah restoran sushi di Pyongyang pada 1982. Kedatangan Fujimoto berdasarkan undangan kantor perdagangan bilateral Jepang – Korea Utara.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam satu acara kenegaraan, ia pernah melayani Kim Jong Il. Ketika itu, Kim nampak terkesan dengan sushi buatannya. Karena itu, Kim memintanya untuk menjadi koki pribadi pada 1988. Kim memberinya gaji Rp 60.5 juta per bulan. Konon, ia juga diberi dua mobil Mercedes oleh Kim.</p>
<p style="text-align:justify;">Fujimoto mengenang Kim sebagai orang yang suka makanan unik berkualitas tinggi. Untuk keperluan itu, Kim sering meminta Fujimoto terbang ke negara lain untuk berbelanja.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk membeli ikan tuna dan sotong, misalnya, Fujimoto diminta pergi ke pasar Tsukiji di Jepang. Untuk membeli buah, ia terbang ke Urumqi, China. Untuk membeli durian dan pepaya, ia terbang ke Thailand atau Malaysia. Untuk membeli bir, ia terbang ke Chekoslowakia. Untuk membeli daging babi, ia terbang ke Denmark. Untuk membeli kaviar, ia terbang ke Iran atau Uzbekistan.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal, saat yang bersamaan, banyak warga Korea Utara yang kelaparan karena bencana banjir, embargo ekonomi dan kediktatoran Kim.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai pada suatu hari di bulan Maret 2001, Fujimoto mengajak Kim melihat acara TV Jepang berjudul &#8220;Makanan Manakah Ini?&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Kim menyukai landak laut (sea urchin) yang termasyhur di Jepang. Dan, ketika ia melihat landak laut di acara itu, ia berteriak: &#8220;Wah, itu kelihatan lezat!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Fujimoto dengan cepat menanggapi: &#8220;Saya akan segera pergi ke Pulau Rishiri, Hokkaido, untuk membelinya. Saya juga akan belajar cara memasaknya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Kim membalas: &#8220;Ide cemerlang. Pergilah!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah hari terakhir Fujimoto melihat Kim.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesampainya di Hokkaido, Fujimoto melarikan diri dari pengawalan dan mencari tempat persembuyian. Fujimoto tak pernah kembali ke Korea Utara sampai detik ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://ari3f.files.wordpress.com/2011/12/kji-21.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1848" title="KJI-2" src="http://ari3f.files.wordpress.com/2011/12/kji-21.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><em>Kenji Fujimoto dan buku tentang Kim Jong Un</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pengalaman Fujimoto, meskipun menarik, agaknya berbeda dengan pengalaman Shin Dong-hyuk (29 tahun), pemuda Korea Utara yang lahir di kamp konsentrasi. Shin lahir dari pasangan penghuni kamp Kaechon, atau biasa disebut Kwan-Li-So No. 14. Kamp ini berada di Pyongan, 90 kilometer selatan Pyongyang.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun tinggal di kamp konsentrasi, Shin sama sekali tak mengenal siapa itu Kim Jong Il! Di dalam kamp, tidak ada seorangpun yang membicarakan Kim Jong Il. Hukumannya berat jika ketahuan menggunjingkan Kim.</p>
<p style="text-align:justify;">Baru-baru ini, Shin jadi terkenal karena satu hal: Ia satu-satunya orang yang berhasil melarikan diri dari kamp konsentrasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah wawancara, Shin bercerita bahwa penghuni kamp dipaksa bekerja di pabrik dan konstruksi bangunan dari pukul 5 pagi hingga 11 malam. Penghuni kamp juga wajib memakai baju seragam.</p>
<p style="text-align:justify;">Agar penghuni kamp tidak lari, tentara Korea Utara memasang pagar listrik di sekeliling kamp.</p>
<p style="text-align:justify;">Sehari-harinya, penghuni kamp yang jumlahnya antara 150 ribu hingga 200 ribu orang itu hanya diberi makan butiran jagung dan kuah asin.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika penghuni kamp bekerja dengan baik maka lelaki dan perempuan di antara mereka diperbolehkan menikah. Namun, pasangan yang sudah menikah hanya boleh bertemu dua hingga tiga kali dalam satu tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Korea Utara membangun dua jenis kamp konsentrasi:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Zona Revolusi untuk mereka yang melakukan kesalahan ringan</li>
<li>Zona Kendali Penuh untuk mereka yang melakukan dengan kesalahan berat</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Penghuni Zona Revolusi &#8220;hanya&#8221; ditahan beberapa tahun saja, kemudian mereka dibebaskan. Sedangkan di dalam Zona Kendali Penuh, orang dihukum seumur hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">Shin dan keluarganya adalah penghuni Zona Kendali Penuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesalahan berat bagi tentara Korea Utara biasanya berupa kesalahan remeh bagi rakyat biasa. Misalnya, lupa memakai lencana bergambar Kim Il Sung atau Kim Jong Il; duduk di atas koran yang kebetulan ada gambar Kim Jong Il; melipat koran yang ada gambar Kim Jong Il.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika seseorang melakukan kesalahan tidak hanya dia saja yang masuk kamp konsentrasi. Seluruh keluarganya, termasuk orang tua, adik, kakak, anak dan cucu, otomatis masuk kamp konsentrasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam kamp pula lah, Shin menyaksikan ibu dan kakak lelakinya disiksa dan dihukum mati. Alasannya, mereka mencoba melarikan diri. Setelah keduanya meninggal, Shin juga disiksa. Tangan dan kaki Shin diikat, perutnya ditusuk dan dikaitkan dengan besi dan punggungnya dipanggang bara api yang panas.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena benar-benar tidak tahan, ia dan kawannya, bernama Park, merencanakan pelarian dari dari kamp. Malangnya, Park tewas tersengat pagar listrik. Hanya Shin sendiri yang akhirnya berhasil lolos masuk perbatasan China.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini, Shin hidup dalam perlindungan Korea Selatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, pertanyaan tersisa hari ini: bagaimana nasib ratusan ribu penghuni kamp lainnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih penting lagi, bagaimana masa depan Korea Utara?</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum meninggal, Kim Jong Il menyiapkan Kim Jong Un (27 tahun) menjadi penerusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia adalah anak bungsu Kim Jong Il dari selir yang bernama Ko Young Hee. Ko Young Hee lahir dan besar di Osaka, Jepang, sampai usia 7 tahun. Setelahnya, Ko kembali ke Korea Utara mengikuti orangtuanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tahun lalu, Kim Jong Il mengukuhkan Kim Jong Un sebagai Daejang (Jenderal). Ini suatu cara untuk mempersiapkan kepemimpinan di bawah anaknya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Kim Jong Un sebenarnya penuh misteri, bahkan bagi rakyatnya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun demikian, ada satu orang asing yang mengenal Kim Jong Un dengan baik, iaitu João Micaelo. João adalah sahabat selama Kim Jong Un  bersekolah di Liebefeld, Bern, Switzerland, antara 1998 sampai 2001. Kim Jong Un waktu itu memakai nama samaran Pak Un.</p>
<p style="text-align:justify;">João mengatakan bahwa Kim Jong Un menggemari olahraga basket, menonton film, bermain komputer dan Playstation. Kim Jong Un juga lancar berbahasa Jerman.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun demikian, sulit memprediksi apakah ‘sedikit’ pendidikan Barat yang dialami Kim akan mengubah pandangannya tentang dunia luar.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang jelas, untuk beberapa waktu ke depan, Kim Jong Un akan memimpin Korea Utara dengan bimbingan &#8220;pembisik&#8221; bernama Chang Song Taek, pamannya sendiri. Masa depan Korea Utara ada di tangan keduanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi yang pasti, seluruh dunia berharap ia tidak melanjutkan kediktatoran ayahnya. Korea Utara mungkin salah satu negara yang masih mempunyai kamp konsentrasi <em>a la</em> Hitler di jaman modern ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ari3f.wordpress.com/1844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ari3f.wordpress.com/1844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ari3f.wordpress.com/1844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ari3f.wordpress.com/1844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ari3f.wordpress.com/1844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ari3f.wordpress.com/1844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ari3f.wordpress.com/1844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ari3f.wordpress.com/1844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ari3f.wordpress.com/1844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ari3f.wordpress.com/1844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ari3f.wordpress.com/1844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ari3f.wordpress.com/1844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ari3f.wordpress.com/1844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ari3f.wordpress.com/1844/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ari3f.wordpress.com&amp;blog=1273435&amp;post=1844&amp;subd=ari3f&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ari3f.wordpress.com/2011/12/27/kim-jong-il/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4e89b11932e5ebcdca9233fc0253eed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ari3f</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ari3f.files.wordpress.com/2011/12/kji-11.jpg?w=259" medium="image">
			<media:title type="html">KJI-1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ari3f.files.wordpress.com/2011/12/kji-21.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">KJI-2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ekonomi Jepang (2)</title>
		<link>http://ari3f.wordpress.com/2011/12/22/ekonomi-jepang-2/</link>
		<comments>http://ari3f.wordpress.com/2011/12/22/ekonomi-jepang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 22:01:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ari3f</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Japan Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ari3f.wordpress.com/?p=1639</guid>
		<description><![CDATA[Lanjutan dari Ekonomi Jepang (1) Ekonomi Jepang mencapai titik tertinggi pada 1970-an. Pertumbuhan ekonomi mencapai dua angka. Ini membuat Amerika Serikat gelisah karena gelar negara adikuasa bisa pindah ke Asia. Namun, satu dekade kemudian, Jepang memasuki fase antiklimaks pada 1980-an. Ekonomi Jepang terus menurun meskipun ia masih membayangi Amerika di tempat kedua dalam hal Hasil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ari3f.wordpress.com&amp;blog=1273435&amp;post=1639&amp;subd=ari3f&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>Lanjutan dari <a href="http://ari3f.wordpress.com/2011/05/09/ekonomi-jepang-1/">Ekonomi Jepang (1)</a></em></p>
<p style="text-align:justify;">Ekonomi Jepang mencapai titik tertinggi pada 1970-an. Pertumbuhan ekonomi mencapai dua angka. Ini membuat Amerika Serikat gelisah karena gelar negara adikuasa bisa pindah ke Asia.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, satu dekade kemudian, Jepang memasuki fase antiklimaks pada 1980-an. Ekonomi Jepang terus menurun meskipun ia masih membayangi Amerika di tempat kedua dalam hal Hasil Bruto Dalam Negeri (GDP) selama hampir dua dekade. Tahun lalu, China mengambil alih tempat Jepang. Jepang kini menjadi nomor tiga. Ini membuat Jepang bak kebakaran jenggot. Ekonomi China meningkat karena banyak negara maju membangun pabrik di sana. Negara maju terus menginvestasikan uangnya karena gaji karyawan di China relatif murah, tetapi daya produksi dan keterampilan karyawan sangat tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini Jepang yang ganti gelisah. Saat ini, Barat dan negara lainnya melihat Asia Timur dengan dua bola mata yang terbagi dua: China dan Jepang. Jepang bukan lagi tujuan tunggal di Asia Timur.</p>
<p style="text-align:justify;">Jepang harus melakukan sesuatu. Oleh sebab itu, ia menyiapkan strategi ekonomi-politik jangka pendek dan jangka panjang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Strategi Jangka Pendek</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Menteri Luar Negeri Jepang, Seiji Maehara, meninjau kembali bantuan pembangunan luar negeri (Overseas Development Assistance atau ODA) ke China yang telah diberikan Jepang sejak 1970-an. ODA berupa bantuan hibah langsung (grant aid) yang berbentuk pinjaman dengan bunga rendah dan kerjasama teknis. Pada 2008, ODA yang diberikan Jepang ke China senilai 5.4 milyar yen. Alasan revisi ODA: ekonomi China sudah cukup mapan, maka bantuan keuangan kepada China sudah tidak diperlukan lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, sejumlah pihak di dalam pemerintahan Jepang sendiri melihat bahwa bantuan untuk China tetap penting  karena menguntungkan secara politik. Bantuan Jepang kepada China dapat</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Menurunkan sentimen anti-Jepang karena penjajahan Jepang selama Perang Dunia II</li>
<li>Mempermudah pedagang Jepang di China dalam melakukan alih teknologi sehingga pabrik-pabrik mereka dapat menjadi lebih produktif</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Maehara akan menentukan apakah Jepang masih akan membantu China pada bulan Juni.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Strategi Jangka Panjang</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk strategi jangka panjang, Jepang kembali ke hal yang mendasar, yaitu pendidikan globalisasi (penyejagatan). Pendidikan globalisasi dapat berhasil bila sekat sosial antara warga Jepang dengan warga asing semakin tipis. &#8216;Jembatan&#8217; dengan warga asing dapat dibangun dengan mengajar bahasa Inggris dan pengajaran ini harus dimulai sejak awal.</p>
<p style="text-align:justify;">Jepang sadar bahwa di kawasan Asia, nilai Pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa Asing (TOEFL) siswanya antara yang terendah &#8211; berarti penguasaan siswa Jepang dalam bahasa Inggris juga rendah. Pada 2004 dan 2005, nilai TOEFL Jepang hanya 191. Afghanistan saja melewati Jepang dengan 198. Negara yang paling tinggi di Asia dalam nilai TOEFL adalah Singapura yang siswanya meraih 254. Oleh sebab itu, mulai 1 April 2011 (permulaan tahun fiskal Jepang), bahasa Inggris akan diajarkan kepada siswa sekolah dasar kelas lima dan enam. Pelajaran bahasa Inggris akan diajarkan sekali dalam seminggu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya sejak 2007, pemerintah Jepang sudah melatih 400 ribu guru sekolah dasar dalam bahasa Inggris. Beberapa sekolah, khususnya di daerah pedesaan, akan mempekerjakan guru pembahasa asli (<em>native speaker</em>). Di Sekolah Dasar itu, guru-guru tidak hanya memperkenalkan kosakata dan ungkapan dalam bahasa Inggris, tapi juga budaya dari luar Jepang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sepertinya Jepang agak tertinggal dibandingkan negara Asia lainnya dalam pengajaran bahasa Inggris. Thailand mulai mengajar bahasa Inggris pada 1996; Korea Selatan melakukannya pada 1997; China juga meniru langkah ini dengan mengajarkan bahasa Inggris pada 2001.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya, tidak semua orang Jepang setuju dengan rencana jangka panjang ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kumiko Torikai dalam bukunya Ayaushi! Shogakko Eigo (&#8216;Berbahaya! Bahasa Inggris di Sekolah Dasar&#8217;) menyatakan bahwa tidak ada bedanya antara mereka yang belajar bahasa Inggris sejak kecil dengan mereka yang belajar ketika dewasa. Torikai setuju jika bahasa Inggris cukup diberikan sejak sekolah menengah.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun ada protes di sana sini, pemerintah Jepang akan tetap meluncurkan program bahasa Inggrisnya bulan depan. Penyejagatan dalam bahasa Inggris jauh lebih mendesak.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang beruntung dari langkah pemerintah Jepang ini adalah lembaga-lembaga bahasa Inggris. Mereka membantu pemerintah dalam merancang kurikulum. Banyak orang tua yang bakal mengirim anaknya untuk mengikuti kursus bahasa Inggris setelah berjam-jam di sekolah atau pada akhir pekan. Ini semua demi penyejagatan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ari3f.wordpress.com/1639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ari3f.wordpress.com/1639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ari3f.wordpress.com/1639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ari3f.wordpress.com/1639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ari3f.wordpress.com/1639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ari3f.wordpress.com/1639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ari3f.wordpress.com/1639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ari3f.wordpress.com/1639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ari3f.wordpress.com/1639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ari3f.wordpress.com/1639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ari3f.wordpress.com/1639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ari3f.wordpress.com/1639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ari3f.wordpress.com/1639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ari3f.wordpress.com/1639/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ari3f.wordpress.com&amp;blog=1273435&amp;post=1639&amp;subd=ari3f&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ari3f.wordpress.com/2011/12/22/ekonomi-jepang-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4e89b11932e5ebcdca9233fc0253eed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ari3f</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
