Cerai


Cerai, sebuah kata yang mengandung kengerian dan ketakutan: ada nyeri di hati, ada luka di kepala, dan ada monumen yang terbentuk di pelupuk. Ada yang bilang: separasi dan pembaruan. Ada yang nyeletuk: jalan keluar yang halal. Ada yang bermimpi: cerai bukan milik manusia. Tuhan tak suka tapi menghalalkan—karena Dia pikir itu kontekstual dan berakhir dengan fifty-fifty. Dua kutub akan saling melengkapi—dua orang akan menyumbang perbedaan yang berwarna. Ini adalah kemajuan yang tak dipuji. Mungkin tetaplah sebuah antitesis.

Pada makan siang, ibu teman saya—yang tetap memiliki ketegaran hidup dan semangat yang menyala di usia 50—bercerita tentang “cerai”. Dia berkisah: semua dimulai dengan perkenalan, pacaran bertahun-tahun, toleransi, pernikahan, dan tinggal berpindah-pindah. Ada yang ganjil di sana: keluarga yang berlangsung utuh dan harmoni bisa memicu kebosanan yang dahsyat. Ada semacam kebisuan dan kekakuan dalam sesuatu yang utuh dan harmoni. Namun, dia tetaplah seorang ibu dari tiga anak yang aktif. Dia mungkin asertif untuk orang seusianya. Tapi, dia juga memiliki kerinduan akan perbincangan yang hangat dan kelengkapan foto keluarga. Saya mendengarkan tanpa menyela, kecuali mengangguk dan berupaya untuk paham.

Ibu itu—yang tanpa sadar bahwa dapurnya cukup besar untuk sepak takraw dan cukup bersih untuk sembahyang—adalah ibu yang cukup berani mengambil sisi. Sisi yang-berbeda dan yang-tak-absurd. Yang berbeda: seperti beda agama dan beda karakter. Yang tak absurd: pragmatis, dominan, dan logik. Berbicara dengannya, saya seakan lupa bahwa saya menghadapi perempuan (yang biasanya penuh perasaan dan bertele-tele). Ada hegemoni dalam percakapan kami: ibu itu menjadi source yang ramai, sedangkan saya adalah sink dalam fluida yang mengalir. Saya memahami yang dia bicarakan namun saya tidak qualified membicarakan “cerai”. Saya mengatakan dengan jujur bahwa saya tak bisa membayangkan jika keluarga saya sendiri mengalami hal itu. Dia mengerti. Tapi dia segera beralih ke tema yang berbeda. Dia memang seorang teman bicara yang mobile.

Cerai mungkin adalah pilihan. Sepihak atau mendadak itu tak soal. Siapa bilang perceraian membawa kebuntungan? Siapa bilang perceraian bukan pilihan? Namun—setelah perceraian terjadi—siapa yang bilang bahwa harmoni dan kehangatan menjadi menu yang mudah disantap setiap hari? Korban selalu ada. Dan biasanya sang korban tak punya adrenalin yang cukup untuk berkorban atau dikorbankan. Sang korban lebih memilih mengambil sisi dan mempersiapkan antibodi yang secara inheren disemaikan agar perceraian tak terulang. Alternatif ketiga dipersiapkan untuk masa depan yang lebih baik. Mungkin tanpa kekakuan dan harmoni. Tapi berbekal keyakinan dan kesabaran dalam menjalani hidup yang kian tak bersahabat. Ada sesuatu yang genap di sana: anak-anak tetaplah punya orangtua, meski tak lagi seatap dan sebilik. Anak-anak tetap mampu mengikat dirinya dengan rasa persaudaraan yang hangat. Sebuah fraternity yang polos—yang tak mampu dipisah apapun selain kematian dari Tuhan.

Beberapa lama kemudian, teman saya itu berkirim surat. Dia bercerita: di Surabaya yang lembab dan pekat, rasa sakit muncul tanpa permisi. Sakit sekali. Sakit ini berasal dari realita perceraian orang tuanya. Saya menghitung kata ‘sakit’ dalam tulisannya: dalam tulisan 1.5 halaman itu ada delapan kata sakit—dalam 1 paragraf.

Dia lalu menulis: masih ada harapan ketika sakit dan perceraian itu tiba. Dia membutuhkan waktu untuk belajar, waktu untuk melihat apa yang terjadi kemudian. O, waktu, ke mana dirimu ketika perceraian itu belum terjadi? Manusia memang membutuhkan keanehan di setiap harinya, di tempat ia merenung dan bertindak, di kala hati yang resah mendadak terserang ego yang ekstraordinari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s