Singapura


Sebelum ke Singapura tahun 2003, saya membaca buku Singapura. Sebuah buku panduan wisata yang berisi sejarah, peta, tempat wisata dan lainnya. Dalam bagian sejarah, ada sejumlah catatan bibliografi mengenai Singapura, seperti Hikayat Abdullah (Abdullah bin Kadir, 1849) dan Golden Chersonese (Isabella Bird, 1879). Namun hal yang paling menarik dari buku itu adalah puisi. “My Country and My People” ditulis oleh Lee Tzu Peng. Cuplikannya seperti ini:


My country and my people
I never understood
I grew up in China’s mighty shadow,
with my gentle, brown-skinned neighbours;
but I keep diaries in English.
I sought to grow in humanity’s rich soil,
and started digging on the banks, then saw
life carrying my friends downstream.

Entahlah, saya tak begitu memahami puisinya. Tetapi tahun lalu saya menulis interpretasi mengenai Lee. Lee Tzu Pheng adalah sastrawan yang gelisah dengan kemajuan. Ia tak ingin tumbuh di negeri yang penuh prasangka etnik. Dan, ia mencari rasa kemanusiaan di tengah-tengah kaumnya sendiri. Namun, ia gagal; ia tak menemukannya. Negeri ini kehilangan rasa kemanusiaan itu.

Masalah sekaligus solusi Singapura adalah pemerintahnya, negerinya sendiri. Seseorang tak perlu mencari. Setiap kondisi adalah terberi. Hidup hari ini ditentukan oleh kita, tapi hidup 30 tahun lagi ditentukan oleh negara. Jika sudah demikian maka negeri ini memiliki makna yang sama dengan “rumah” menurut Le Corbusier (arsitek legendaris), yaitu sebuah mesin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s