Membunuh Sepi dengan Musik


Tiga minggu lalu, saya kedatangan kawan lama dari Jember. Pagi sampai sore hari saya antar dia jalan-jalan, dan setelah makan malam, saya biasanya ngobrol-ngobrol sambil bermain gitar. Saya tidak terlalu pandai bermain gitar karena saya tidak sekolah musik secara formal, tidak menekuni musik dengan level yang keterlaluan, tidak menjadikan musik sebagai cita-cita luhur dan mata pencaharian; aslinya sih kurang berbakat . Tapi, setidaknya dibandingkan teman-teman lain di SMA dulu, saya masih sedikit lebih baik dalam bermain gitar karena setidaknya saya pernah ngarang beberapa lagu (ada yang cengeng tapi ada juga yang jazz). Kawan saya itu bertanya: “Eh, saya dan istri saya itu latihan musik juga, i.e. keyboard dan gitar, tapi kok gak bisa-bisa ya?”

Saya berhenti bermain gitar, lalu secara sok-teoretik mengatakan: dalam bermain musik, seseorang memerlukan sedikitnya dua hal, eh salah salah, tiga hal.

(1) Kemampuan mengikuti irama atau ritme. Misal: ketika kamu mendengarkan lagu, kamu mampu mengikuti irama drum-nya saja dan tidak pernah meleset sedikitpun dalam menghentak ikut irama. Ini bisa dilatih dengan sering mendengarkan lagu. Bisa dilatih dengan mendengarkan drum saja, lalu pindah mendengarkan piano saja, lalu mendengarkan gitar saja, lalu bass. Alat-alat musik itu bermain dengan ritme yang biasanya berbeda. Fokuslah pada salah satu, dan mulai ikuti iramanya.

(2) Kemampuan mengenali nada. Kalau si vokalis dalam CD atau kaset bilang “doooooo” ya kamu mesti bisa juga ikut “doooooo” dengan tinggi nada yang sama. Kalau meleset, itu namanya fales atau kamu memang mengidap tone-deaf alias tuli nada. Ini penyakit yang sulit disembuhkan karena berhubungan dengan bakat secara genetik. Ada orang yang dia pikir suara dia match dengan penyanyi dalam CD, eh padahal kita yang mendengarnya tahu bahwa dia out-of-tune alias fales.

(3) Berlatih! Bermain musik itu tidak bisa membaca teori saja, tapi mesti langsung pegang alat musiknya dan mulai bermain. Musik itu seperti olahraga di mana keterampilan anggota badan sangat berperan. Membuat otak sinkron dengan jari atau tangan itu sulit pada awalnya, tapi latihan setiap hari selama minimal tiga jam sampai berbulan-bulan mungkin akan memberikan bekal yang cukup untuk memainkan suatu lagu. Dalam berlatih ini, self-motivation, target dan ketekunan sangat berperan. Ada yang main 20 menit saja sudah frustrasi.

Oya, bermain musik itu tidak boleh puas dengan mampu memainkan satu mainstream saja. Misal, karena kita suka klasik (dan kagum karena melodi klasik sangat elegan dan mahal), maka kita main klasik saja. Kita harus bisa juga memainkan jazz, pop, rock atau bahkan dangdut. Ini melatih versatility atau kemampuan adaptasi terhadap musik. Main musik juga mesti “berguru”. Berguru ini bisa formal, bisa informal. Kalau ada teman yang pandai bermain musik, bertanyalah teknik-tekniknya. Kalau ada duit lebih ya pergilah kursus musik dan pilihlah sekolah yang tepat.

***

Di Bondowoso (1988), saya dulu berlatih bermain organ kepada Pak Surya Adi dari Yamaha. Di Jember (1992), saya belajar gitar kepada teman bernama Sunu Srurespati Astari. Di Bandung, saya belajar gitar secara otodidak dengan mendengarkan Tohpati, Dewa Budjana dan Lee Ritenour. Di Singapore, saya mendengarkan Balawan untuk mempelajari kecepatan bermain.

Belajarlah musik hari ini … supaya tidak terbunuh sepi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s