1000 Hari di Singapura


Seribu hari di Singapura bukan tempo yang pendek: “waktu”, dimensi ke-4 yang bisa ditangkap indera kita, memberikan garis yang konstan untuk pelbagai pengalaman berharga, perubahan, mindset dan sahabat-sahabat baru, terlepas dari luas wilayah yang hanya 683 km2. Tak banyak yang saya bisa ceritakan mengenai 1000 hari di Singapura, kecuali secuil hal spesifik sebagai fungsi persona, daya ingat, persepsi dan solusi.

SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome)
Ekonomi Singapura sempat menggeliat ketika SARS menyerang wilayah kecil ini. Pemerintah dengan ketat memeriksa temperatur badan setiap pendatang lewat monitor detektor panas, atau lewat temperatur yang dimasukkan ke telinga. Setiap orang dengan temperatur lebih dari 38.5 deg C dikategorikan terjangkit SARS dan segera diisolasi. Jika ketahuan ngluyur, bisa kena denda beberapa ribu dolar. Jika kita datang dari Hongkong atau China, maka pemeriksaan jadi lebih ketat. Ketika itu saya duduk di sebuah laboratorium dengan teman-teman dari pelbagai negeri di Asia. Dan, setiap pagi dan sore, saya diwajibkan meng-update temperatur tubuh di intranet.

SIFT (Strain Invariant Failure Theory)
Saya ditanya “Do you know SIFT?”. Entah karena sedang ngelamun atau telinga sedang budeg, saya jawab iya (dengan asumsi bahwa profesor saya menanyakan SIF – stress intensity factor). Dia heran. Kemudian dia tahu bahwa saya salah dengar. Dia menyodorkan beberapa lembar kertas berisi rentetan angka yang menurut saya meaningless. “This is strain amplification factors for SIFT. Your job is to find out how Boeing people got these chunks of numbers.” Saya tertegun, tak tahu mesti menjawab apa (tapi ujung-ujungnya tetap mengangguk bilang IYA karena tak ada pilihan lain). Beberapa bulan saya membaca beberapa buku dan sejumlah paper yang agak useless karena SIFT masih baru “matang”, dan di-release Boeing tahun 2001 sebagai promising theory untuk mendeteksi kegagalan pada komposit. Setelah 4 bulan meratapi angka-angka itu, sebuah titik terang muncul, dan metode mendapatkan angka-angka itu saya catat dalam log book penelitian. Masalah terpecahkan!

Ni Qu Na Li Chi Fan?
Saya sadar bahwa bahasa bisa menjadi pembatas sekaligus pemersatu. Beberapa teman di lab sering berbahasa Cina daripada Inggris. Jadi mau tak mau saya juga mesti belajar supaya bisa menangkap apa yang mereka bicarakan, sekaligus memupuskan pembatas etnis. Tulisan Cina nampak seperti rumput dan semak bagi saya, jadi saya belajar hanyu pinyin saja (translasi fonetik bahasa Cina ke latin). Saya mencatat setiap kata Cina yang saya dengar dan tanyakan, lalu mengulangnya. Setiap mau makan siang, saya selalu mengatakan ini: Ni qu na li chi fan? (kamu mau makan di mana?). Selebihnya mungkin wo ai ni – ni ai wo (tanpa perempuan cantik di depan saya *sigh*)

SMOC (solid mechanics outing club)
Empat di antara kami sangat akrab: Serena Tan, Zahid, Guangyan dan saya. Lalu muncul Zhang Bing yang datang 1.5 tahun setelah saya berlabuh di lab itu. Serena mengerjakan perambatan retak pada komposit (2-dimensi), Zahid mengerjakan metode penyambungan blood vessel, Guangyan mengerjakan retak pada komposit (3-dimensi), saya mengerjakan micromechanics untuk SIFT, dan Zhang Bing (post-doc dari China yang ahli biochemistry dan MPI – message passing interface). Setiap bulan kami selalu makan bersama di luar dan outing ke pelbagai tempat: Lau Pa Sat (tempat makan favorit), ke Malaka, ke Johor Bahru, ke Botanic Garden, ke zoo, Sentosa dll. Penelitian kadang membosankan, jadi kami berusaha membunuh kebosanan itu dengan membentuk club kecil untuk jalan-jalan.

Singlish (Singapore English)
Dulunya saya berbahasa Inggris dengan logat Jawa. Kini, terjadilah integrasi yang unik: saya berbahasa Singlish dengan logat Jawa😀 Singlish adalah destilasi bahasa Inggris, Melayu dan Hokkien. Intinya: bahasa inggris yang benar-benar mengalami metamorfosis tak sempura dan penuh simplifikasi di sana-sini. Grammar? Forget it. Pelafalan kata Inggris yang benar jadi berkesan sok Barat (paradox: padahal Singapore mati-matian mengadopsi Barat dalam infrastruktur dan living style). Singlish menjadi ikon yang melekat bagi Singaporean (dan saya). Banyak juga yang mencemooh Singlish, tapi Singlish bagi saya adalah perekat yang solid dengan kolega di sini.

Enam bulan pertama
Saya menyewa sebuah kamar dalam flat dengan fasilitas minimum. Saya berbagi kamar dengan mahasiswa lain. Ia baru mendapatkan Master dari Australia, lalu mengambil Master lagi di sini. Dia bilang, supaya gelarnya jadi MAMA (alias Master of Arts dua kali). Perbincangan santai kami sangat menarik: ia sangat melek dengan isu politik dan agama, sedang saya tidak; jadi saya lebih banyak bertanya. Kalau bosan, saya biasanya gantian bercerita: biasanya tentang 2P (pesawat terbang dan perempuan). Selama 6 bulan itu, saya tidur di matras tanpa dipan yang makin lama makin tipis. Ini tidak saya ceritakan kepada orang tua, supaya tidak malu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s