Interview (ping papat)


Sejak pertengahan 2005, baru empat kali saya menjalani interview (dua pekerjaan sebelumnya tak memerlukan interview berkat kedekatan dengan bekas dosen). Empat interview itu dilakukan di (1) lembaga riset milik pemerintah Singapura, (2) firma engineering milik dosen ITB, (3) perusahaan turbin angin milik Denmark dan (4) pabrik pesawat kecil di Singapura.

Interview pertama: where is Bondowoso?

Ini interview pekerjaan yang pertama seumur hidup saya. Empat hari menjelang kepulangan saya ke Indonesia, yang barangkali untuk selamanya, saya ditelpon HRD lembaga riset. Saya memang pernah melamar ke lembaga ini bulan Mei 2005, tapi kemudian saya lupa (karena tidak berharap banyak).

Siang hari bulan Agustus itu saya mesti membatalkan penerbangan ke Jakarta untuk datang ke interview. Pada hari yang ditentukan saya datang ke sana. Saya masuk ke dalam ruang rapat dengan meja besar dan beberapa kursi. Saya mengisi formulir kemudian menyerahkan kembali kepada staff HRD. Seorang lelaki yang nampak masih muda, memakai baju polo memperkenalkan diri. Saya lupa namanya.

Dia lalu bertanya: Where is Bondowoso?

Saya hanya menjawab: Ha?

Dia kemudian tersenyum dan bertanya lagi: Where is it? Bondowoso?

Saya lalu menjawab: Oh … that’s my hometown, city I was born (padahal saya lahir di Jember; Bondowoso adalah tempat ortu saya membuat akte kelahiran). It’s in  the eastern part of East Java. Four hours drive from Surabaya , the capital of province.

Kemudian dia bertanya mengenai material pesawat, bertanya mengenai finite element. Dia juga bilang bahwa dia ingin memodelkan hard disk drive jatuh dari ketinggian tertentu, membentur lantai dan hancur berkeping-keping. Dia bertanya: Can you simulate that? Saya mengatakan bahwa software finite element bisa memodelkannya, tapi saya belum tahu caranya. Saya membutuhkan waktu untuk mempelajari software-nya.

Ada juga beberapa pertanyaan lain yang saya merasa gagal menjawabnya. Dia menggeleng sambil mengatakan: That’s not what I meant. Wah rasanya bodoh banget deh! Dia ramah, murah senyum. Tapi barangkali tidak banyak berguna kecuali bahwa saya lebih relaks dalam menjawab (dengan ngawur hehe). Setelah 30 menit, dia mengatakan bahwa ia mengenal supervisor saya. Yah, setidaknya supervisor saya orang yang lumayan kesohor (dalam publikasi ilmiah dan temperamen-nya).

Setelah 45 menit, orang ini mempersilakan saya pulang. Eh iya, saya sempat bertanya: How much is the wage? Haha! Hari itu saya butuh uang. Jadi saya ingin tahu berapa saya dibayar. Dia bilang dia tidak tahu. Hah … bagaimana mungkin? Jadi, berapa gaji saya tetaplah misteri.

Kemudian saya pulang dan merasa setengah berhasil setengah gagal. Setengah berhasil karena saya bisa haha-hehe di dalam ruang interview, dan berhasil mengalahkan sikap gugup saya. Setengah gagal karena banyak jawaban saya yang tidak memuaskan orang itu. Jadi, entahlah, bisa diterima atau tidak. Tapi setidaknya, untuk dua bulan ke depan saya tidak memerlukan pekerjaan itu karena ada proyek lain di Bandung. Tapi setelahnya … nah ini cilaka … saya mesti lamar ke tempat lain.

Interview ke-2: kami hanya butuh komputer dan orang pinter!

Kerja di perusahaan minyak adalah cita-cita saya. Di perusahaan minyak, para insinyur biasanya digaji di atas rata-rata insinyur lain. Di pabrik pesawat terbang, gaji kawan saya hanya dua juta. Di perusahaan minyak, bisa 3 – 4 kali lipatnya. Ngiler pokoke … Sebuah firma engineering kecil miliki dosen di jurusan lain membutuhkan seseorang untuk mengurusi asset integrity management. Binatang apa itu saya juga tidak tahu. Yang penting saya segera memasukkan resume ke dosen itu.

Tak berapa lama, saya dipanggil dan hari Sabtu saya datang ke kampus. Ada 5 orang yang hadir di sana. Dua orang sudah saya kenal sebelumnya karena bekas teman SMA. Lainnya: satu orang dosen, satu orang engineer dari firma itu dan satu lagi dari client mereka. Yang paling banyak bertanya adalah client-nya. Dia bertanya banyak hal mengenai maintenance pesawat (yang saya tidak banyak tahu).

Kemudian saya bertanya: anda membutuhkan apa dan orang yang bagaimana untuk pekerjaan ini? Dia bilang: kami membutuhkan komputer yang bagus dan orang yang pinter! Wah general banget batin saya. Batin saya yang sebelah bilang: Lha sampeyan wis nemu lek ngono hehe.

Setelah interview selesai, saya pulang. Dua minggu kemudian, saya mendapatkan kabar bahwa saya diterima di lembaga riset Singapura. Segera saya menelpon teman saya untuk mengatakan bahwa review hasil wawancara dengan saya dibatalkan saja; saya mau ambil pekerjaan yang di Singapura.

Saya harusnya bekerja mulai 15 Oktober. Tapi karena pengurusan Employment Pass yang bertele-tele, saya akhirnya bisa mulai bekerja 1 Februari. Lama juga. Saya murni jobless tiga bulan. Pada saat yang bersamaan saya merevisi thesis saya.

Interview ke-3: cool!

Sebuah perusahaan turbin angin terbesar di dunia membuka kantor riset di Singapura. Beberapa bulan kemudian mereka melakukan rekruitmen. Salah satu posisi yang sangat menarik adalah composite structures engineer. Wah, ini sangat sesuai dengan background saya. Saya memasukkan aplikasi dan menunggu hasilnya.

Satu bulan kemudian, HRD perusahaan ini menelpon untuk janji interview. Pada saat interview, seorang perempuan umur 35 datang. Dia datang dari Australia dan bekerja sebagai project engineer di sana.

Pertanyaannya sangat banyak!! Pendek-pendek, tapi buanyak. Bicaranya yang cepat, membuat saya balapan juga. Sampai-sampai kata Jawa juga ikut mencolot (misal: it can be done by mmm … anu …eh …).

Dia bertanya: do you have any questions? Saya spontan bilang: I have many…. hehe. But I will give you two questions instead. Saya lupa saya nanya apa … he he he …

Yang paling berkesan buat saya adalah pertanyaan ini: What do you wanna be for the next 3 years, or 15 years? Jawaban saya: for the next 3 years I wanna become a manager, and for the next 15 years I’ll have my own company! Dia bilang: “cool!” sambil senyum-senyum.

Nah, kata “cool” yang keluar dari mulutnya ini kalau dihitung selama satu jam interview barangkali muncul tiap 3 menit. Miss cool, pancene.

Setelah pulang, saya agak menyesal: Lha lapo cek pedene … wong durung karuan diterimo haha. Tapi dungakno rek … iki dudu pabrik dolanan soale.

Interview ke-4: when did you get married?

Saya iseng-iseng memasukkan lamaran ke pabrik pesawat. Pabriknya kecil, dan mirip workshop atau gudang komputer. Ada dua orang yang memberikan interview. Oiya, pabrik ini memproduksi pesawat yang terbang 1-2 meter di atas permukaan laut, dengan memanfaatkan gaya angkat permukaan air. Intinya, tenaga dorong mesin terbantu oleh gaya angkat ini. Jadi lebih efisien.

Ketika di Bandung saya sempat membantu orang-orang ITB menghitung pesawat model ini. Tapi saya hanya selesai sampai badan pesawat saja, bagian sayap dan ekor belum sempat terhitung. Saya kemudian pergi ke Singapura. Nah karena punya pengalaman itu, saya nekat mendaftar.

Seorang lelaki kecil, berkacamata agak tebal, banyak sekali bertanya. Dia bilang: Let’s make this interview as informal as possible. Tapi nyatanya: Wah dia membuat seolah interview ini seriusssss sekali!! Sampai kerongkongan saya kering kerontang. Goro thok wong iki! Pertanyaannya kritis-kritis tapi selalu menthal kena jawaban saya yang khas ngawur dan sok PD. Contohnya ini:

Inteviewer (I): Software ini kayaknya gak bisa dibuat ngitung komposit karena bla bla bla …

Saya (S): Wrong! Kalau kamu mengerti teori-teorinya dan parameter yang perlu dimasukkan apa saja maka kamu bisa … bla bla bla

I: Kamu tipe follower atau risk taker?

S: (Dengan mata tajam dan wajah 1000% sok serius) case-by-case! (laaa … kok pendek jawabane mas .. hehe)

Tapi yang paling ngawur adalah yang ini …

I: When did you get married?

S: (Jangkrik koen gak ngerti privacy opo??) Februari 2004. (gak wani ngetokno jangkrike hehe…)

Di sela-sela interview itu, saya sempat (dengan sok tahu) “berceramah” mengenai campur tangan politik dalam bisnis pesawat. Saya juga berceramah mengenai perkembangan riset komposit dan analisis struktur pesawat. Wis pokoke gak akan tak ulangi maneh. Ngisin-ngisini! … Untungnya mereka mlongo dan manggut-manggut. Jadi ya sempat nglunjak pas itu PD-nya. Haha … (ojo gelem digoroi wong koyok aku rek!)

Yah begitulah kesan-kesan selama interview di sini dan di sana … gak bakal kapok. Bakal ada interview yang lain. Cihui!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s