Rapapan


Entah di Singapura bagaimana, tapi di Bondowoso, SD jaman saya (80s) ada sistem yang namanya CBSA alias cara belajar siswa aktif. Intinya: setiap anak dibiasakan menyampaikan pendapat lewat forum diskusi. Bagi yang pemalu, forum diskusi ini momok: pasti kebelet pipis kalau kebagian jadi pembicara.

Waktu itu yang paling bikin saya malas adalah memilih nama kelompok. Guru biasanya menyuruh mencari nama pahlawan, atau orang besar, atau nama ilmuwan. Yah karena kurang baca jadinya saya selalu tidak punya ide kalau disuruh cari nama.

Suatu hari (kayaknya hari Senin), setiap kelompok sudah membawa plakat kertas berisi nama kelompoknya. Tapi, saya lupa! Kelompok lain ada yang bernama Alexander Agung, Enrico Fermi, dan nama orang besar lainnya. Wah saya sama sekali tak ada ide dalam kondisi darurat ini! Tapi kemudian karena sangat-sangat mendesak saya kemudian mengambil nama yang ada di sampul buku harian. Isinya sih motto “Rajin Pangkal Pandai”. Terlalu panjang kayaknya. Jadi saya singkat: Rapapan.

Rapapan wafat setelah dua hari. Alasannya: jeneng kok ngisin-ngisini...

Yang ketawa ngakak kalau ingat “legenda” Rapapan ini cuma dua: papaku dan Tuti.