Gitar


Awalnya, belajar nggitar itu susahnya minta ampun. Empat jari kiri mesti menekan senar pada fret yang berbeda-beda, senar ditekan tak terlalu kuat juga tak terlalu lemah (kalau terlalu kuat bisa sengkleh drijine, sedangkan kalau terlalu lemah ya senar gak bunyi tho …), selanjutnya genjreng enam senar yang ada di depan lubang resonansi, lalu jreng… kita bisa tersenyum meski hanya bisa satu kunci. Ini pemandangan hari pertama belajar gitar. Selanjutnya … ada yang menyerah karena jari-jarinya keburu dhedhel duel nglentheki (compang-camping mengelupas), ada yang lempar gitar karena memang tidak sabar untuk cepet selihai Rhoma Irama atau Joe Satriani (eh jomplang banget yo perbandingane? hehehe), karena tidak berbakat musik alias motorik plus sense musik memang dilahirkan cacat, tapi ada juga yang gigih belajar sampai menguasai satu lagi sederhana plus nyanyi dengan suara lirih (karena ingin ngetes genjrengannya bener atau nggak).

Belajar gitar di sekolah musik biasanya lebih terstruktur. Di sana kita diajari membaca not balok, belajar ketukan, belajar bermacam-macam lagu, diawasi guru dan ada pekerjaan rumah. Belajar pada teman sendiri agak berbeda. Di sini, tidak ada baca not balok dan PR: lebih relaks dan self-discipline memegang peranan penting.

Saya belajar gitar dari seorang kawan bernama Sunu. Setelah Sunu saya “nguping” di depan kaset Tohpati, Lee Ritenour dan Earl Klugh. Mirip dengan tiga begawan itu? Yo ora la … jauh. Tapi setidaknya saya mencoba. Hasilnya? Tidak ada, hanya bisa main gitar saja. Sederhana dan personal: kepuasan diri setelah bertahun-tahun melatih jari di atas fret. Karena tidak good enough, maka keahlian main gitar tidak bisa buat cari nafkah. Lagipula, “main gitar bosen juga ya” hehe (mengutip Balawan waktu manggung bersama Trisum).

Ngomong-ngomong, pernahkah anda main gitar di bawah ini? Saya belum, dan rasanya impossible buat mainin gitar ini … tapi nggak juga lho … gitar yang namanya Pikasso I ini benar-benar ada! Gitar 42 senar ini dimiliki Pat Matheny, gitaris jazz. Dan, gitarnya sendiri dibuat khusus oleh Linda Manzer (Kanada).

pikasso_i.jpg

Pikasso I

Kok yo ono gitar aneh koyok ngene …

Aku dan Meneer Janssens


Pagi itu aku murung: ayah-ibuku mati tertabrak lori. Air mataku menetes, lalu diseka Meneer Janssens, bekas majikan orangtuaku. Pada umur 11 tahun itu, aku diasuh Meneer: ini semacam privilege yang aku bayar dengan menjadi jongosnya.

Enam tahun kemudian, Meneer mengirimku ke Amsterdam. “Pendidikan adalah bekal untuk mandiri, ” pesannya. Di sana, aku belajar ilmu hukum di sebuah universitas. Setelah lulus, aku bekerja di sebuah firma hukum. Karena inlander, upahku rendah. Namun aku betah di Belanda: sebuah negeri yang berbeda dari Jawa, di mana sistem berjalan tanpa cambuk rotan.

Suatu sore aku mendapati surat Meneer: “Tole, pulanglah segera.” Alasannya tak jelas, tapi aku tahu bahwa Meneer memerlukan aku di Jawa. Balasan suratku mungkin menyakitinya: “Meneer, aku tak ingin pulang, karena aku menyukai kehidupan Belanda, dan aku memiliki perempuan idaman di sini.”

Beberapa hari kemudian, dugaanku benar: surat balasan Meneer membuat kita saling melukai. O, Meneer, bukan aku tak ingin membalas budi, tapi bisakah engkau membebaskan aku? Tak ada balasan. Lima tahun kemudian, aku pulang ke Jawa. Dalam pelukan rindu kami, Meneer berbisik: “Komunis di mana-mana, berhati-hatilah …”

Esoknya, aku melihat tubuh Meneer tak lagi bernyawa: ia kena serangan jantung.

Dua tahun kemudian, orang komunis diberangus, dipenggal, ditembak dan dibuang ke sungai. Bau anyir mayat mengundang mual. Aku tak mual, karena aku ada di antara tumpukan mayat-mayat itu.

Ringkasan: Eksistentialisme pada kedua kaki inlander (antara Timur dan Barat) ketika Indonesia masih Hindia Belanda dan kekacauan politik pada 1960an. Bagian dari Flash Flash Flash! Kumpulan Cerita Sekilas, Penerbit Gradien, 2006