Doa


Tuhan menyukai sesuatu yang spesifik. Jika berdoa padanya mintalah sesuatu sedetil-detilnya. Dia tak akan tertawa meski permintaan kita agak konyol dan pragmatis. Toh dia juga bukan penonton ketoprak atau pelawak.

Sejak kecil saya diajari berdoa memakai tiga bahasa: Arab, Indonesia dan Jawa. Khusus yang terakhir ini, ayah saya mengajari doa ketika menghadapi ujian. Ia sudah menggunakannya sejak dulu kala, dan (katanya) sering berhasil. Doanya pendek, tapi jelas dan efektif (jika persiapan belajarnya matang).

Ya Allah … mugo-mugo opo sing tak sinaoni mambengi metu kabeh dino iki, lan aku iso nggarap ora kangelan

(Ya Allah … mudah-mudahan apa yang aku pelajari semalam keluar semua hari ini, dan aku bisa mengerjakan tanpa kesulitan)

Tuhan juga menyukai sesuatu yang ganjil. “Ganjil” di sini berhubungan dengan angka. Bismillahirrohmanirrohim itu 19 huruf. Asmaul Husnah itu 99 nama. Dan seterusnya. “Ganjil” ada yang berarti lain: seorang tetangga di masa kecil kerapkali melantunkan doa ini sembari ngakak setelahnya (ganjil banget tho?):

Duh Gusti … paringono waras dhewe sing lain gak usah!

(Aduh Tuhan … berikanlah kesembuhan untukku sendiri yang lain tidak usah)

Entah gimana nasib tetangga ini sekarang.