Perkoro Gawean


Beberapa minggu terakhir ini saya dapat tugas yang menarik sekaligus bikin frustrasi. Tugasnya menarik karena baru bagi saya, melibatkan technical skill yang bikin tangan kotor dan technically challenging. Yang bikin frustrasi: teman-teman kantor bilang “That’s impossible!” dan belum pernah ada yang ngerjain di kantor. Rata-rata dari mereka hanya bisa membongkar dan bikin HDD rusak; memakai spin stand. Apa tugasnya? Membuat prototipe hard disk drive.

Mampus kon …

Bos bilang berkali-kali saya harus resourceful. Ngomong-ngomong, tugas ini sebenarnya bukan tugas saya. Tapi karena beberapa staf yang seharusnya ngerjain ini pada pindah kompeni atau sibuk berat, maka saya yang disuruhnya. Alasannya tidak jelas; lan bos-ku iki pancen ora cetho kapabilitas ilmiahe (yo be’e pancen ora ndue). Penggawean sing nggarai deweke munggah pangkat koyoke mikro-manajemen, dhudhu tulisan ngilmiah sing akeh diwoco uwong liyo. Singapura pancen rodho ora jelas. Pokoke ndue gelar S3 terus pinter ngecap (“mbujuk”), iso dadhi bos lho. Yen takon iso tuajem tenan tapi yo tetep ora ngerti masalahe (takon nang di – nang di pancen guampil!). Alaaah … “c spasi d” … cepe de ngomongin dia … (opo maneh jowoan hehe…)

Singkat kata: tiba’e yo ono wong ethok-ethok dadi scientist

Setelah frustrasi dua hari, beberapa teman datang membantu. Tapi mereka juga gak tau mau bantu apa, lha wong sama-sama gak ngerti cara bikin hard disk. Kemudian saya teringat kata-kata Habibie: “bermula di akhir, berakhir di awal”. Saya kemudian menerapkan prinsip ini dalam mengerjakan “mission: impossible” saya.

hard_disk_platter_reflection.jpg

(1) Ambil HDD baru, bongkar dengan hati-hati di clean room. Kembalikan lagi komponennya. Waktu itu saya hanya mencopot disk lalu mengembalikan lagi. Hasilnya: HDD masih berfungsi. Artinya: disk tidak sensitif terhadap setting baru baik torque maupun sentuhan pada tepi outer diameter.

(2) Ambil disk dan suspension (aktuator yang bergerak-gerak membaca data) yang baru. Bongkar HDD lalu pasang disk dan suspension itu. Head pasti bikin goresan pada disk jika setting-nya tidak pas. Maka, saya mengatur ketinggian stacking disk-nya. Nah, pengaturan ketinggian stacking disk ini adalah trik perusahaan hard disk, yang pada akhirnya menentukan kemampuan terbang slider/head di atas disk yang berputar. Putaran disk biasanya 4200 RPM, 5400 RPM dan seterusnya. Head/slider ini biasanya dapat membaca data pada ketinggian belasan nanometer (1 nm = 1/1000000000 meter) . Untuk menentukan ini biasanya orang di kantor memakai spin-stand; yang memakai HDD langsung belum ada.

Setelah saya cerita langkah-langkah yang saya kerjakan, dan langkah selanjutnya, orang-orang di kantor bilang itu “possible”. Kok berubah pendapat? Hehe.

Proses membuat prototipe ini masin ongoing. Jadi belum ada hasil. Kapan-kapan cerita lagi jika berhasil. Oiya .. satu lagi yang bikin frustrasi adalah time frame. Saya punya waktu 8 minggu, dan ini memasuki minggu ke-3 … hix hix …

2 thoughts on “Perkoro Gawean

  1. salam kenal.
    bpk tinggal di singapura ya?
    saya di mangga2 jakarta.
    saya mau mengajak bisnis komputer dengan bpk?
    kalaw berminat hubungi saya di 6281808050420

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s