Ras


Di bawah selubung kota yang teratur diatur dan taat hukum (karena denda), orang Singapura “terbiasa” dengan (dan dibiasakan ber-) corak pikir rasis. “Are you Chinese? Are you Malay? Are you Indian?” terdengar rutin (selama 5 tahun hidup di Singapura). Ras ditulis jelas-jelas di kartu identitas. Untuk apa? Untuk membedakan hak dan kewajiban tentunya. Terdengar klasik? Iya. Dan di sana tumbuh purbasangka ras di benak setiap penduduk Singapura. Menyedihkan. Padahal sebuah nasion yang besar adalah nasion yang terbentuk oleh mozaik etnik yang kemudian melebur dan tak dipertanyakan lagi: sebuah negeri yang barangkali utopia (meski Amerika atau Indonesia) tengah berjuang ke arah sana. Tapi tidak Singapura.

Saya membaca “Minoritas” yang ditulis Goenawan Mohamad beberapa waktu lalu. “Minoritas” didasarkan pada apresiasi tari masyarakat Papua berjudul “In front of Papua” di mana keserempakan gerak, laku yang jenaka dan sayu, serta tata tari (koreografi) yang rapi adalah inti dari pertunjukan. Sekali lagi: apresiasi. Seorang penonton (Singaporean) lalu bertanya: “Apakah ini tarian dari kebudayaan minoritas?” Orang Singapura tak akan terkejut mendengar pertanyaan ini; malah makin penasaran. Tapi orang Indonesia menilai sebaliknya.

2440165800051181705kfyesl_ph.jpg

Tari Irian (sumber: travel.webshot.com)

Kemudian GM menulis panjang lebar:

“Minoritas” — tak seorang pun di Indonesia akan menggunakan kata itu buat orang Papua, ataupun sebuah suku kecil sekalipun di pulau itu. Tapi saya kira saya tahu mengapa orang ini bertanya demikian. Seperti kebanyakan orang Singapura, ia terbiasa hidup dengan ruang yang tak bersentuhan langsung dengan alam. Ia mudah melihat ekspresi yang “primitif”, “eksotik” – yang praktis tak ada di London atau New York — sebagai sesuatu yang terpencil, ganjil, dan nyaris hilang. Modernitas ada di mana-mana; yang beda dari itu adalah “minoritas”.

Barangkali GM masih halus. Tapi “mayoritas” dan “minoritas” dalam benak orang Singapura adalah ekspresi tak sadar (unconsciousness) yang kerapkali muncul di mana saja termasuk di warung kopi. Ras menjadi penting – sepenting antri membeli lotre, membayar CPF, merangsek dalam antrian bus kota (dan bergaya kiasu).

Dalam hal pertunjukan tari itu, kita sebaiknya hanya mengharapkan satu dari Singapura: menyediakan panggung dan sound system yang apik. Mengharapkan apresiasi tari? Next life maybe … ketika reinkarnasi tak menjadikannya tuna-seni.

3 thoughts on “Ras

  1. jd ingin bertanya balik ke singaporean..”jika ini seni kaum minoritas lalu kenapa?”..apa ada perbedaan apresiasi?..seni adl universal n jgn dicampuraduk sama purbasangka..ngono ae koq repot!!..wis sing akeh sepurone ae karo singaporean hehe..

  2. Rara – Barangkali masih ada sisi baik di sana, karena misal, Melayu/muslim berkewajiban kontribusi $8 untuk Yayasan Mendaki (pendidikan utk org Melayu), dan Cina berkewajiban kontribusi $1 untuk komunitas Cina. Ada semacam “gives back to community/roots”. Tapi jeleknya, ya ada perbedaan yang didasarkan pada ras. Yang kasihan ya yg minoritas; meski bolak-balik dikritik Far Eastern Economi Review, The Economist, yg “minoritas” di Singapura tetap termarjinalisasi.

    Tuti – pertanyaan tolol bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s