Dari pesawat ke HDD: nyambungnya di mana?


Berapa banyak orang yang profesinya benar-benar nyambung dengan kuliahnya dulu? Jika membicarakan jurusan teknik, barangkali jawabnya: sedikit sekali! ITB barangkali lupa mencatat apa yang kini dikerjakan oleh tiap angkatan di ITB, yang jumlahnya sekitar 2000 orang, dan 4-5 tahun dari detik itu mempelajari bidang teknik, sains, seni dan desain. Sebagian mungkin masih konsisten di bidangnya (barangkali juga karena mereka dosen atau peneliti!), tapi sebagian besar barangkali mencangkul di ladang lain — yang lebih menarik , sesuai bakat, menumbuhkan passion dan, tentunya, lebih subur duitnya.

Di teknik penerbangan ITB, yang didirikan tahun 1962 di bawah jurusan mesin, setiap mahasiswa “dicekoki” pelbagai ilmu penerbangan (mekanika terbang, sistem kendali, mekanika bahan, perawatan, perancangan pesawat, pengendalian satelit, aerodinamika, statistik, aeroelastisitas, kalkulus lanjut dan lainnya). Mahasiswa diberi bekal matematika yang (katanya) lebih advanced dibanding jurusan lain; mahasiswa dituntut berpikir logis dan terintegrasi ketika mengerjakan perancangan pesawat; mahasiswa diminta rajin mengerjakan PR dan teliti dalam menghitung (sampai tiga digit di belakang koma). Ada yang kandas dan mutung, sehingga dropped-out atau mengundurkan diri. Ada juga yang terseok-seok, dan memompa diri untuk lulus. Ada juga yang berprestasi sangat baik, sehingga bisa lulus doktor dari MIT. Macem-macemlah…

Mereka yang lulus tentu bercita-cita bekerja di maskapai penerbangan, PTDI (ex IPTN) dll. Tapi sayangnya, cita-cita mereka tinggal impian, terutama mereka yang lulus di masa krisis ekonomi (1997 – 1998). Hingga 2003 (mungkin juga sampai sekarang?) lapangan kerja bagi lulusan teknik penerbangan sangat sulit dicari; meski belakangan akhirnya ada juga yang pergi ke Bandung, Jakarta dan Surabaya untuk bekerja di pabrik pesawat dan maskapai. Namun bagi yang tidak bekerja di industri penerbangan, hikmahnya: lulusan mesti kreatif mencari kerjaan lain. Ada yang jadi penulis, ada yang menekuni bidang IT, ada yang kerja di perbankan (sedikit mirip “penerbangan” kan? hehe), ada yang sekolah S2-S3, ada yang kerja di bidang konstruksi dan bidang teknik non-penerbangan lain.

Saya termasuk yang “murtad” dari penerbangan dan masuk bidang hardware komputer, yaitu hard disk drive (HDD). Bagaimana bisa ke HDD? Nyambungnya di mana dengan teknik penerbangan? Setelah lulus dari NUS, saya lumayan confident dengan pengetahuan FEM (finite element method) saya. Lalu saya melamar ke sebuah lembaga riset (data storage technologies) sebagai ahli FEM. Meski “mainan”-nya bukan pesawat lagi, melainkan HDD, saya punya tekad untuk belajar mainan baru ini. Saya belajar dari web Storage Review dan Hitachi GST mengenai pengenalan HDD.

Hampir dua tahun saya di sana dan akhirnya saya memutuskan untuk terus berkarir di industri HDD. Sekarang saya tak lagi mengerjakan FEM, tapi benar-benar meluas ke teknologi servo, material, mekanika, recording physics, chemical, proses produksi, hingga manufaktur HDD.

Saya mesti berterima kasih kepada FEM (yg sudah saya tekuni 6 tahun) sebagai alat penyambung karir. Sukses buat teman penerbangan yang lain! Pasti banyak cerita juga dari kalian!

Nyambungnya barangkali juga di gambar ini (link mohon dibaca supaya “nyambung” idenya):

hdd_4htm_txt_boeing_disk.gif

8 thoughts on “Dari pesawat ke HDD: nyambungnya di mana?

  1. ‘penerbangan’ yang jelas jurusan paling susah.. *katanya* sehingga ‘produk2’ yang dihasilkan tak diragukan kemampuannya..

    ‘data storage institute’ itu gudang pendingin buat nyimpen ikan tuna dan ikan hiu ya?😀

  2. dan jurusan yg susah cari kerja kalo di indonesia he he he … susah^2 pokoknya.

    yak betul sekali! selain itu juga tempat pembeku otak; sehingga jgn berlama-lama di sana; kalo kelamaan bisa geblek he he he …

  3. hehe,
    mas Arief ini bisa aja
    Daku termasuk salah satu yg belom berkecimpung di bidang sendiri.
    hehe, tp seneng sih, di lahan lain bisa survive. Kadang malah ndak pd di bidang sendiri.

    Mukhlason
    2 tahun setelah mas Arief

  4. romi – murtad dari jurusan sendiri, tapi jadi mualaf di bidang lain :))

    mukhlason – sukses buat wirausahanya! hanya sedikit yang berani seperti sampeyan…

    jagrag – tidak ada seorangpun yang niat mencari kesulitan, tapi kok ya ndilalah selalu diberi cobaan. mungkin supaya bisa kreatif mencari solusi. intinya: kreativitas, daya juang lahir setelah kesulitan terlewati

  5. Pingback: Surat Perpisahan di Kantor « random notes in small island

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s