Goncharov


Ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda, barangkali hanya orang Eropa (Belanda, Inggris, Portugis, Spanyol), Timur Tengah dan India saja yang tercatat mengunjungi, berdagang atau menjajah kita. Adakah bangsa lain yang mengunjungi Hindia Belanda?

Dalam buku “Kampus Kabelnaya – Menjadi Mahasiswa di Uni Soviet”, Koesalah Soebagyo Toer menulis tentang Goncharov dan Wasili Maligan. Dua orang ini terpisah waktu, tempat, aksi dan cerita. Tapi keduanya orang Rusia yang pernah menginjakkan kaki di Indonesia.

Di sini saya tulis tentang Goncharov saja …

Ivan Goncharov (1812 – 1891) lahir di Simbirsk, dan dibesarkan di lingkungan aristrokat. Ia menyelesaikan pendidikan perdagangan di Universitas Moskow, dan menjadi pegawai pemerintahan selama tiga puluh tahun. Ia bertemu penyair Apollon Maikov dan Valerian yang kemudian mendorongnya menjadi penulis.
 
Goncharov hanya menulis tiga novel sepanjang hidupnya: Kisah Biasa (1847), Oblomov (akhir 1840an) dan The Frigate Pallada (1859). Meski demikian, Dostoevsky menganggap Goncharov adalah rival yang patut dicatat dalam dunia sastra realisme Rusia. Tolstoy juga melihat Goncharov sebagai penulis yang tak terinspirasi oleh kaum buruh dan masyarakat bawah, seperti halnya kebanyakan penulis Rusia lainnya; Goncharov terinspirasi masyarakat aristokrat dan mengkritik mereka sebagai pemalas dan masyarakat tak berguna. Goncharov yang pernah singgah di Jawa (Banten) tahun 1852 menulis:

Saya merasa sangat gembira bahwa akhirnya saya sampai ke pantai yang sama sekali tak punya masa lalu dan tak punya sejarah itu.

Apakah Anyer itu? Suatu perkampungan Melayu yang sama sekali tak pernah mengalami perubahan. Perkampungan ini pernah ditulis oleh Turnberg. Keadannya masih seperti itu juga sekarang ini.

Batavia terletak dua hari perjalanan dengan jalan darat. Kami pergi ke sana, tinggal di sana sehari dan kembali lagi. Pikir kami, di sana ada jalan besar dan kendaraan yang baik. Ternyata tidak ada apa-apa. Dua minggu sekali dari Anyer dikirim pos ke Batavia; tukang pos naik kuda … Hari berikutnya kami tinggalkan tempat itu tanpa melihat seorang Eropa pun, sedang di Anyer hanya ada tiga orang.

The watering point at Anjer point in the island of Java (William Daniell, 1794)

“Tak punya sejarah”? Apakah Goncharov tak membaca sejarah Jawa? Apakah Goncharov hanya melihat akibat Cultuurstelsel tapi tak memahami kejamnya kata itu? Apakah Goncharov tak menemukan priyayi atau aristokrat yang pemalas di Jawa?

3 thoughts on “Goncharov

  1. BAru nemu blognya. Bagus. Boleh komen ya?

    Maksudnya “tidak punya sejarah” itu mungkin dijelaskan di alinea keduanya: “tidak pernah berubah”. Bukankah sejarah adalah kisah tentang perubahan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s