TGIF


Hari ini hari Jumat. Thank God It’s Friday. Ada beberapa cerita …

Permanent Resident (PR). Rasanya tidak ada orang yang ingin tukar kewarganegaraan di dunia ini kecuali terpaksa. Alasan terpaksa bisa macam-macam: diusir, mencari suaka, menjadi orang eksil, terdampar, mudah cari kerja dan lainnya. Singapura memberi kemudahaan bagi warga asing untuk punya “banci” (baca: dual) citizenship tanpa paspor: jadilah PR. Dengan menjadi PR seseorang punya privilege yang “lebih” dibanding foreigner – khusus masalah pekerjaan. Hal-hal lain? Sekarang PR mbayar medical fee lebih mahal dibanding citizen. Dan kemerosotan benefit lainnya. Di sini, pesan moralnya: “Wahai PR jadilah engkau warga negara Singapura”. Jadi PR atau citizen pun tidak mudah. Perlu antri di imigrasi, dicek macem-macem sertifikat, dicek punya gelar apa dan nunggu tiga bulan atau lebih. Berhubung Singapura pengen punya penduduk yang minimal bergelar S1, maka yang S1 ke atas agak mudah apply PR. Ya maklumlah, mungkin karena banyak juga yang masih lulusan SMP (secondary school atau O-level), lalu ambil short course, atau ambil diploma/degree ketika umur 30/40.

Ganesa: Gemuk atau Kurus? Di dalam taksi, saya membaca majalah bisnis yang disediakan sopir di belakang kursinya. Ada gambar yang menarik: patung Ganesh dengan muka gajah (as usual), gading yang gumpil sebelah, tapi perawakannya kurus. Sedangkan lambang ITB yang juga Ganesa itu gemuk sekali. Saya tanya istri saya: “Lha kok gajahe ITB iku lemu, trus iki kuru nemen??” Istri saya bilang: “Bandung kakehan panganan enak. Dadi lemu.” She got the point. Gemuk atau kuruskah Ganesa?

Tuva. Saya membaca buku Tuva or Bust! Richard Feynman’s Last Journey sore ini di Koufu (saingan Kopitiam) di dekat kantor. Anak saya tidur di strollernya. Ia lelap 1.5 jam. Saya bisa tenang membaca buku dan ngopi. Di manakah Tuva? Ia terletak di inner Mongolia. Yang unik darinya banyak, tapi saya sebutkan beberapa: perangkonya segitiga dan bentuk diamond, ada penyanyi kerongkongan (throat singer), penunggang kuda yang hebat dan ia tak dikenal (bahkan oleh guru geografi sekalipun!). Mengapa Feynman tertarik dengan Tuva? Sederhana: karena ibukotanya bernama Kyzyl. K-Y-Z-Y-L. Semua konsonan. Nah itu yang membuat Feynman tertarik. Serius? Iya. Baca sendiri bukunya🙂

Benazir Bhutto. Saya sedih karena pejuang demokrasi yang cantik itu mati. Sebenarnya saya tidak terlalu mengikuti perkembangan politik, apalagi di Pakistan. Yang saya tahu dari Pakistan adalah (1) seorang kenalan yang ketika pertama kali saya menjejakkan kaki di Singapura, ia memasakkan ayam kari dan menyuruh saya memakannya dengan roti – “Heh aku iki wong Jowo! Lek gak mangan sego artine yo gak mangan!” – tapi ayam karinya wenak! (2) seorang profesor tambun yang mengajar metode manufaktur, yang kemudian saya tahu ia dikeluarkan dari universitas – ia dari Pakistan, katanya (3) scientist-nya didukung pemerintah dalam hal teknologi pertahanan – jadilah negara di Asia yang punya senjata nuklir – dan lumayan ditakuti Amerika (4) ya Benazir Bhutto. Mengenai Benazir, saya selalu ingat guru ngaji saya waktu SD. Guru saya ini orang NU tulen, mengajarkan Quran secara terstruktur, sabar, makanan favoritnya kerupuk, suka membaca buku (ketika SD, kosakatanya sering membuat saya terperangah – iku ngarang opo ono tenan?), menikah di usia senja. Untuk yang terakhir ini, ia katanya sangat mengagumi Benazir Bhutto dan ingin mencari pasangan hidup yang sama dengan Benazir Bhutto. Wait a second: ini Bondowoso ya … sedangkan Benazir ini yang mbrojol ke dunia lewat keluarga high politics, lalu dididik di Oxford dan Harvard. Adakah seorang perempuan Bondowoso yang latar belakangnya sama? Di jaman saya sih gak ada. Gak tau hari ini … Tapi saya yakin hari Kamis lalu, guru ngaji saya itu sedih, seperti halnya pengagum Benazir lainnya. Mengapa pejuang demokrasi mesti cepat sekali berpulang?

Ini foto Benazir waktu umur 19. Saya suka angka 19 ini. Entah kenapa. Mungkin karena paras seorang perempuan bisa sempurna di umur ini. Alah sok romantis!

Btw, inalillahi wa inna ilaihi rojiun. Mugo-mugo gusti Allah maringin panjenengan omah sing apik nang suargo…

ben.jpg

4 thoughts on “TGIF

  1. YES..!! TGIF😀 plus libur panjang menjelang pergantian tahun.. duh, indahnya..

    Pertama : Pagi tadi, waktu denger berita Benazir Bhutto meninggal, merinding.. sedihnya sampe ke ulu ati..😦

    Kedua: ‘PR’ jadi, semua udah aman?? syukurlah.. Ketiga: ‘Ganesa’ sing jenenge gajah kuwi yo guede.. sekurus2nya gajah, tetep aja gede. trus, kenapa ganesa ITB tampak lebih gemuk? secara dia kan duduk, perutnya kelipet, jadi keliatan deh buncitnya😀 Keempat: Apakah Tuva termasuk kota tuv-va? *maksa*

    Eniwei, Happy Holiday.. Selamat menyambut tahun baru.. Salam dari kami untuk keluarga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s