αθεοι (atheist)


Ketika kecil saya ngeri mendengar kata “atheis” karena kata ini begitu dekat dengan komunis (baca: PKI). PKI, di tahun 80an, adalah aktor laga yang antagonis pada setiap 30 September malam di TVRI. Tentara adalah protagonis. Kita juga harus pro tentara, pro negeri ini. Begitu pesan implisitnya.

Namun, belakangan saya membaca ada tiga teori mengenai siapa pelaku G30S ini: (1) PKI, (2) CIA atau (3) Suharto. Siapa ya? Jadi bingung. Rasanya perlu membaca dokumen yang diterbitkan CIA baru-baru ini. Tapi saya lupa nyimpen di mana. Untuk sumber lain, tengah mencari (tanpa usaha berlebih).

Kembali ke atheisme. Teman dekat saya semasa kuliah di Singapura adalah seorang atheist. Ia tak mengenal tuhan. Sepertinya kalimat d’Holbach (1772) bisa diberlakukan pada teman saya ini, sonder masalah umur “Semua anak dilahirkan atheist; mereka tak mengenal konsep tuhan.” Masuk akal, bahkan semua anak tak mengenal siapa ayah-ibunya! (ha ha – ups) Teman saya ini “korban” Mao Zedong yang menggalakkan “no god solution”. Artinya: tak perlu ada gagasan untuk merujuk ke tuhan dalam segala aktivitas manusia. Ketika saya tanya (dengan analogi): jika ada bunyi klothak-klothek di dapur dan tidak ada makhluk apapun, percayakah kamu bahwa bunyi itu disebabkan hantu atau makhluk gaib? Ia bilang: itu pasti anjing atau kucing atau binatang lain, atau suatu mekanisme. Ia tak percaya sesuatu yang gaib, seperti halnya tuhan, tapi ia percaya mekanisme. Kini ia tetap atheist (atau biar lebih keren, ia sering menyebut dirinya “free thinker”), meski dulu sering mendengar saya bercerita tentang agama semit (yahudi, islam dan kristen), atau konsep “gusti” dalam kejawen, siddharta gautama, atau sang hyang widi wasya. Tak mempercayai sesuatu pun adalah suatu kepercayaan.

Pada 2001, setelah menulis “Hidup, Mati, Jiwa, Keabadian dan Bunuh Diri” sependek dua halaman, saya pernah disangka tak mempercayai kematian. Kalau yang bilang teman sendiri sih ga apa-apa. Lha ini dosen yang bilang! Saya bingung menjawabnya. Yang jelas sangat sulit menjelaskan tentang keabadian yang non-fisik dan “bersifat ateistik” yang kebetulan ditulis oleh seorang yang beragama. (ada gak sih?).

Tulisan memang ada yang ateistik. Artinya ia menolak salah satu konsep yang digariskan tuhan. Prior to that, ia pastinya menolak konsep tuhan. Seperti misal: fase hidup-mati yang digariskan tuhan lewat kitab-kitabnya. Ia lebih mempercayai garis abadi atau kekekalan yang memang ada — meski kita cenderung membagi fase hidup-mati menjadi fase fisik-non fisik, fase rasional – irrasional (masuk akal – tak bisa dipaksa masuk akal). Aduh tambah bingung ya. Sebenarnya tulisan itu hanya bunga rampai beberapa pemikiran dari jaman islam keemasan, hingga pemikiran Albert Camus. Tapi ya karena kurang pandai mengolah flow tulisan, jadinya malah dituduh tak percaya kematian.

Yah begitulah jika kebanyakan membaca buku Rusia dan Jerman. Sekarang makanya lebih sering baca buku masak (ha ha)

2 thoughts on “αθεοι (atheist)

  1. *nunggu jawaban, siapa sebenernya pelaku G30S*

    Orang2 yang diberi julukan ‘atheis’ selalu menolak konsepsi tertentu tentang ilah.

    Agama sesungguhnya bersifat pragmatik, kita akan menyaksikan bahwa sebuah ide tentang Tuhan tidak harus bersifat logis atau ilmiah, yang penting ‘bisa diterima’. Begitu kata Karen Amstrong..

  2. Sori ralat: dulu dikiranya menolak “kematian”, bukan tuhan. Sudah saya edit.

    Armstrong orang yg simpatik: “membela” orang bertuhan tanpa punya tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s