29: “Menulis” Seseorang


Hari ini istri saya ulang tahun. Bingung mau ngado apa. Pas saya tanya dia juga bingung. Mungkin karena banyak keinginan tapi tahu kocek saya gak setebal balast (dudukan rel kereta).

Eh kok “kereta” lagi? Mungkin karena postingan sebelumnya barangkali ….

Kemarin dia langsung bilang: kadonya tulisan aja! (baca: esai). Wah, ini baru kado yang “mahal”. “Mahal” karena ide esai tidak bisa dibeli. Ide itu datang sekonyong-konyong. Dan supaya tidak terkesan “tukang” (baca: supaya dibilang seniman), ide mesti datang di waktu yang kurang tepat: ketika diceramahin bos, ketika melihat limpahan bill bulanan, ketika digencet penumpang bus (yang kekar dan punya gank), saat ditilang pak pulisi, saat membantu pengamen nyetem (tune in) gitar, saat ditabrak sepeda kumbang, saat duduk di toilet dan kehabisan tissue dan keran lagi macet (kebangetan kayaknya!) dan lainnya. Intinya: 50 + 50 = ce_pe (cape deh – bahasa gaul saat-saat ini?).

Tapi, demi istri, saya harus menulis. Dulu sering juga memberi kado tulisan, tapi ke orang lain. Menulis orang lain jauh lebih mudah dibanding menulis seorang terdekat. Karena “menulis orang lain” tidak punya konsekuensi logis yang berkepanjangan. Jadi nulisnya seperti nebak-nebak (ilmiah) aja (mirip psikolog lah). Kalau menulis seorang terdekat dan tulisannya meleset, bisa dapat sabda: Lho, kamu gak kenal aku ya?? Kamu gimana sih bertahun-tahun tapi tidak memperhatikan …. Bingung jawabnya. Mendingan ya tidak menulis. Takut diomelin he he.

Nah, hari ini saya harus menulis mengenai istri saya. Tapi mulai dari mana ya?

Ya dari belakang dong …. Dari 29 (umur dia sekarang!)

*Kepada teman-teman yang dulu pernah saya tulis: mohon jangan dibuang tulisan itu karena saya tidak bisa mengulang lagi :p

Mancal di Rel Kereta


Bisakah orang mancal (mengayuh) kendaraan di rel kereta? Ya bisa. Tapi perlu kendaraan yang dimodifikasi sehingga ban-nya bisa jalan di atas spoor (rel), punya pedal, dan body-nya mesti bisa kuat digenjot (perlu material yang ringan – tapi biasanya mahal atau dua tukang mancal).

 ejava36.jpg

Kereta-pancal? (sumber: http://www.bikebrats.com/indomal/glinjl.htm)

Unik sekali dan inovatif. Perlu di HaKI*-kan? Gak kebayang kalo mesti mancal dari Jember ke Bondowoso: banjir keringat, dengkul copot, jantung mesti ditransplantasi. Yo ta?? 

*Hak atas Kekayaan Intelektual 

Rumah Bambu


Tahun 1998 saya sempat main ke gang Kuwera, Yogyakarta. Ada rumah yang agak tertutup di sana. Dari luar nampak sebuah ruang di tingkat dua yang penuh buku. Ia tak memiliki balkon, dan hanya dilapisi kaca besar, terawang, sehingga orang bisa mengintip tatanan buku di lemari. Rumah siapakah itu?

Dua tahun kemudian (2000) saya membaca Rumah Bambu. Buku ini berisi cerpen-cerpen yang ditulis YB Mangunwijaya. Kemudian saya melanjutkan ke buku-bukunya yang lain seperti Burung-Burung Manyar, dan beberapa biografinya, sehingga saya “mengenal” YBM. Rumah di gang Kuwera itu rumah YB Mangunwijaya. Sayangnya, 1 tahun sebelumnya ia meninggal.

YBM ini unik: arsitek/engineer, pastor, pekerja sosial, agamawan, sosiolog (antropolog), penulis dan banyak lagi atribut lainnya. Gus Dur bilang “Ia adalah pemilik moral yang absolut.” Desain rumah yang dibuatnya di Kali Code, Yogya, memenuhi kriteria “rumah”, layak huni, ventilasi dan pencahayaan yang baik dan dibuat dengan bahan yang mudah didapat. Rumah-rumah itu dibangun untuk penduduk tak mampu di sana. Ia juga terlibat dalam INTERFIDEI (lembaga dialog antaragama).

Satu cerita dalam Rumah Bambu masih saya ingat: Rheinstein. Barangkali ini cerpen paling panjang dalam buku itu (long short-story) dan ia bercerita tentang kebosanan, kerinduan, keinginan, gairah, seks dan kesetiaan.   

Tunggu … ada suara petikan Dewa Budjana dan tiupan Embong Rahardjo dalam Early Mornin’ (album SAMSARA) … indah sekali.

Seseorang dengan baik hati meng-upload potongan cerpen Rheinstein. (Potongannya bisa dibaca di Yendi’s Blog). Rheinstein menulis tentang perempuan. Kadang ia muak dengan kesetiaan:

Jangan tanya. Kesetiaan memang memuakkan. Makanya setiap pagi aku muntah-muntah, persis seperti perempuan hamil yang mengidam untuk mencium aroma lelakinya. Pun hanya selembar kemejamu yang tertinggal. Ya, kesetiaan memang membuat mual. Apalagi setiaku tumbuh merambat seperti tanaman di dinding lumut. Liar dan menjalar.

Tapi kadang ia membuktikan kesetiaan dengan menunggu:

Tepat di pukul empat, aku pasti menunggu. Menunggu memang bisa membunuh, seperti yang kurasakan. Tepat pukul empat, tubuhku seperti ditusuk-tusuk ratusan jarum. Rasanya aneh. Pertama geli, lalu aku mulai kejang karena kesakitan dan disambung perih yang tanpa jeda. Begitu setiap hari sampai menjelang malam, rasa itu akan hilang dengan sendirinya dan aku jadi terbiasa.

Untungnya, menungguku adalah bagian dari setia padamu. Jadi perih itu bisa kunikmati. Karena kesetiaan hakikinya memang indah. Kalau istilahmu, cantik. Cantik itu setia. Cantik itu menunggu. Aku ingin cantik di matamu jadi aku setia dan menunggu. Menunggu waktu berbaur dengan harapan dan mungkin ditambah setengah tetes doa, bisa jadi mantra untuk hidup bahagia.

Lalu ia membuat pengakuan

Tapi aku mau membuat pengakuan. Pernah aku hampir menyerah kalah. Saat tubuhku mulai kebal dari rasa perih dan cecap darah di sudut bibir justru terasa manis. Aku menangis meraung-raung. Kugigiti tubuhku sendiri. Semalaman. Aku tidak ingin menunggumu lagi. Aku bosan, dan aku mulai terbunuh oleh setiaku sendiri. Tersiksa sekali rasanya. Mungkin karena aku manusia. Bukan titisan Drupadi yang punya kesabaran tanpa batas cakrawala atau kekuatan seperti milik Mutjingga2 yang bisa menyatukan segala roh dan membuatnya terlahir kembali dengan suci. Tapi untung saja aku kembali terjaga dalam setiaku. Dalam menunggumu. Kembali kuperca kain yang kali ini kupilihkan dengan warna biru awan. Agar kamu tahu bahwa kesetiaanku hanya langit batasannya.

Dan ia hanyalah perempuan …

Aku perempuan. Dan hanya kesetiaan yang bernilai untuk kupersembahkan padamu. Bukan gerai rambut yang kuronce dengan melati atau tarian srimpi yang kutarikan dengan cadar emas atau selembar dua daun mindi yang kubiarkan kering agar aromanya menempel di tubuhku.

Aku perempuan dan terlanjur mencintaimu.

Seriously, bagaimana YB Mangunwijaya bisa begitu pandai membahasakan perempuan? Bagaimana ia bisa berempati dengan perempuan lewat perasaan yang terbahasakan? Sampai sekarang masih terkesan dengan cerpen dan kata-kata dalam cerpen itu.