Rumah Bambu


Tahun 1998 saya sempat main ke gang Kuwera, Yogyakarta. Ada rumah yang agak tertutup di sana. Dari luar nampak sebuah ruang di tingkat dua yang penuh buku. Ia tak memiliki balkon, dan hanya dilapisi kaca besar, terawang, sehingga orang bisa mengintip tatanan buku di lemari. Rumah siapakah itu?

Dua tahun kemudian (2000) saya membaca Rumah Bambu. Buku ini berisi cerpen-cerpen yang ditulis YB Mangunwijaya. Kemudian saya melanjutkan ke buku-bukunya yang lain seperti Burung-Burung Manyar, dan beberapa biografinya, sehingga saya “mengenal” YBM. Rumah di gang Kuwera itu rumah YB Mangunwijaya. Sayangnya, 1 tahun sebelumnya ia meninggal.

YBM ini unik: arsitek/engineer, pastor, pekerja sosial, agamawan, sosiolog (antropolog), penulis dan banyak lagi atribut lainnya. Gus Dur bilang “Ia adalah pemilik moral yang absolut.” Desain rumah yang dibuatnya di Kali Code, Yogya, memenuhi kriteria “rumah”, layak huni, ventilasi dan pencahayaan yang baik dan dibuat dengan bahan yang mudah didapat. Rumah-rumah itu dibangun untuk penduduk tak mampu di sana. Ia juga terlibat dalam INTERFIDEI (lembaga dialog antaragama).

Satu cerita dalam Rumah Bambu masih saya ingat: Rheinstein. Barangkali ini cerpen paling panjang dalam buku itu (long short-story) dan ia bercerita tentang kebosanan, kerinduan, keinginan, gairah, seks dan kesetiaan.   

Tunggu … ada suara petikan Dewa Budjana dan tiupan Embong Rahardjo dalam Early Mornin’ (album SAMSARA) … indah sekali.

Seseorang dengan baik hati meng-upload potongan cerpen Rheinstein. (Potongannya bisa dibaca di Yendi’s Blog). Rheinstein menulis tentang perempuan. Kadang ia muak dengan kesetiaan:

Jangan tanya. Kesetiaan memang memuakkan. Makanya setiap pagi aku muntah-muntah, persis seperti perempuan hamil yang mengidam untuk mencium aroma lelakinya. Pun hanya selembar kemejamu yang tertinggal. Ya, kesetiaan memang membuat mual. Apalagi setiaku tumbuh merambat seperti tanaman di dinding lumut. Liar dan menjalar.

Tapi kadang ia membuktikan kesetiaan dengan menunggu:

Tepat di pukul empat, aku pasti menunggu. Menunggu memang bisa membunuh, seperti yang kurasakan. Tepat pukul empat, tubuhku seperti ditusuk-tusuk ratusan jarum. Rasanya aneh. Pertama geli, lalu aku mulai kejang karena kesakitan dan disambung perih yang tanpa jeda. Begitu setiap hari sampai menjelang malam, rasa itu akan hilang dengan sendirinya dan aku jadi terbiasa.

Untungnya, menungguku adalah bagian dari setia padamu. Jadi perih itu bisa kunikmati. Karena kesetiaan hakikinya memang indah. Kalau istilahmu, cantik. Cantik itu setia. Cantik itu menunggu. Aku ingin cantik di matamu jadi aku setia dan menunggu. Menunggu waktu berbaur dengan harapan dan mungkin ditambah setengah tetes doa, bisa jadi mantra untuk hidup bahagia.

Lalu ia membuat pengakuan

Tapi aku mau membuat pengakuan. Pernah aku hampir menyerah kalah. Saat tubuhku mulai kebal dari rasa perih dan cecap darah di sudut bibir justru terasa manis. Aku menangis meraung-raung. Kugigiti tubuhku sendiri. Semalaman. Aku tidak ingin menunggumu lagi. Aku bosan, dan aku mulai terbunuh oleh setiaku sendiri. Tersiksa sekali rasanya. Mungkin karena aku manusia. Bukan titisan Drupadi yang punya kesabaran tanpa batas cakrawala atau kekuatan seperti milik Mutjingga2 yang bisa menyatukan segala roh dan membuatnya terlahir kembali dengan suci. Tapi untung saja aku kembali terjaga dalam setiaku. Dalam menunggumu. Kembali kuperca kain yang kali ini kupilihkan dengan warna biru awan. Agar kamu tahu bahwa kesetiaanku hanya langit batasannya.

Dan ia hanyalah perempuan …

Aku perempuan. Dan hanya kesetiaan yang bernilai untuk kupersembahkan padamu. Bukan gerai rambut yang kuronce dengan melati atau tarian srimpi yang kutarikan dengan cadar emas atau selembar dua daun mindi yang kubiarkan kering agar aromanya menempel di tubuhku.

Aku perempuan dan terlanjur mencintaimu.

Seriously, bagaimana YB Mangunwijaya bisa begitu pandai membahasakan perempuan? Bagaimana ia bisa berempati dengan perempuan lewat perasaan yang terbahasakan? Sampai sekarang masih terkesan dengan cerpen dan kata-kata dalam cerpen itu.

2 thoughts on “Rumah Bambu

  1. Dear arief..salam kenal..gw ninta, temennya Jias..
    b’berapa kali bc blog loe..keren bgt! serius..koq bs ya, loe n jias kompak bgt bikin blog yg kereen2..hehehe..
    btw, Rheinstein bagus bgt ya?sepakat, YBM pinter bgt mendeskripsikan kesetiaan dan perempuan..2 hal yg katanya emang “jamak”..”Kudu”..”Sudah sewayahnya”..
    Tp gw cm berharap, mudah2an jadi Inspirasi juga..klo yang kudu ada itu kolerasi “manusia” dan “kesetiaan”..gak peduli gender..semoga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s