Kopi


Di Jawa, misalnya, ketika kata “Indonesia” belum lahir, kopi tak memiliki label. Tapi ia memiliki aroma, pecandu dan harga. Ia hanyalah biji, tapi ia salah satu penyebab imperialisme. Dan perdagangan adalah titik mula suatu kekejian di perkebunan. Kopi, dan teman sejawat seperti cokelat, teh, tembakau, pala, menghisap ide invasi sebuah negeri ke negeri lain hegemoni Belanda, Spanyol dan Portugis di Indonesia Timur abad ke-16. Tapi kopi tetap tak bisa dibawa ke pengadilan untuk bersaksi.

Kopi membuat saya sakit perut. Sial. Tapi seringkali saya bandel: menjadi test bud (pengetes rasa) beberapa kopi di lingkungan kantor. Bermacam-macam rasanya. Tapi “rasa” itu hanya terbentuk oleh komposisi air, kopi, gula dan susu. Bukan komposisi di dalam kopinya. Kopinya seperti seragam, seperti halnya kopi di belahan sudut lain di Singapura. Barangkali supplier kopi pun dimonopoli di sini [ha ha]. Akhirnya disimpulkan bahwa kopi yang lumayan adalah kopi yang kental (highly concentrated), tak terlalu banyak di”tumpuk” sehingga mirip recycled-kopi (bukan fresh-coffee lagi). Setidaknya kopi ini (letaknya di Koufu, Kaki Bukit Avenue) jauh lebih enak daripada kopi di hotel dan kantor di San Jose. Di sana, seolah-olah, lidah tak memiliki indera, lidah tak diberi kenikmatan, lidah mengalami resesi sebagaimana ekonomi Amerika saat ini.

Kopi tetap membuat saya sakit perut (sebenarnya). Nama kafe tak penting. Jika itu kopi maka ia bisa mengalamatkan saya ke toilet berkali-kali. Atau, setidaknya, perut jadi tak nyaman. Mengapa masih minum kopi? Karena kopi adalah gaya hidup barangkali. Gaya hidup yang sedikit mempedulikan fungsi jantung. Orang Singapura suka kopi. Oleh sebab itu di setiap blok, ada kedai kopi (kopi tiam). Rasanya sama. Gelasnya sama. Ia adalah gaya hidup.

2 thoughts on “Kopi

  1. Ngopi, nge-teh.. adalah ritual yang mengasikkan saat kita menikmati koran pagi atau pada saat menikmati ‘momen’ selepas hujan diiringi musik atau petikan gitar.. *halah*

    ngopi, life style? tak bisa dipungkiri, ngopi sepulang kantor sambil ‘curhat’ sama temen, bisa mengurangi kepenatan..

  2. Lho? Ngopi iku enak Rif. Aku nyandu kopi sejak dicritani kancaku di kuliah. Sekarang jadi sedikit kecanduan, tapi masih bisa membatasi. Sehari 1 cangkir/gelas dan harus ada 1 hari dalam seminggu yang bebas kopi. Tapi kelasku masih kopi level bawah semacam Indocafe ato Torabika, blum ke Starbuck😀 Kopinya juga kopi instant. Yang kopi kental + ono ampase jantungku ga kuat, berdebar2 terus😦

    Dulu sempat sering sakit perut setelah minum kopi. Pengaruh asam lambung kah, karena aku punya maag? Sekarang udah jarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s