PhD


Seorang kawan lama menelpon semalam. Ia baru pulang dari berlibur ke Malaysia bersama pacarnya. Obrolan kami biasanya seputar pekerjaan, sekolah (lagi), keluarga, engineering dan lainnya. Kami tak suka bola: klop – jadinya tak ada percakapan mengenai klub mana meng-hire siapa, golnya berapa-berapa, atau seputar info bola. Ia tak main musik atau secara spesifik menggandrungi sebuah genre; oleh sebab itu, obrolan musik di-skipped.

Topik yang terus dibicarakan (tapi tak ditindaklanjuti) selama 3 tahun belakangan ini adalah sekolah PhD. Berasal dari lab yang sama – namun dengan tema riset yang berbeda – kami sama-sama berhenti hingga master’s degree, dan meniti karir di industri. Dulu melanjutkan PhD adalah impian yang menggebu. Tapi setelah mendapatkan master, kok ya capek sekali mau sekolah lagi.

PhD mungkin bukan jalan kami; di mana, jika hal itu dilakukan di Singapura, paling-paling (saat ini) bisa kerja di Singapura saja, atau kembali ke kampung halaman (mengajar di almamater). Mengajar, riset, membimbing mahasiswa, memberikan ujian barangkali memiliki kesenangannya sendiri. Tapi seringkali kesenangan ini tidak terbayar dengan gaji bulanan (khususnya di Indonesia). Seorang dosen muda (assistant professor) di banyak negeri memang tak dibayar mahal (kecuali di Singapura, Hong Kong). Oleh sebab itu, hanya mereka yang terpanggil untuk riset hingga menyelesaikan PhD saja yang menjadi dosen. Mereka yang melakukan PhD for “fun” (ono ta??) – maksudnya for the sake of research or science, biasanya berakhir kerja di lembaga riset, pindah haluan jadi enterpreneur, atau jadi pegawai biasa yang tidak ada hubungannya dengan sains lagi.

PhD barangkali bukan jalan kami. Kami merasa tak ada bakat untuk itu. Saya bilang: PhD memerlukan daya tahan (endurance) dan kesabaran. PhD juga memerlukan kreativitas dalam mencari persoalan, memecahkan lalu menyiarkannya lewat buku tesis atau paper ilmiah. PhD tidak berhenti di sana. Ia terus menggali, melebarkan batas-batas domain pengetahuan di mana ia bermain. Ia juga bertugas mencari penerus dengan membimbing calon-calon PhD. Tidak mudah. Dan, saya merasa tak punya prerequisite untuk ke sana.

Pilihan saya dan dia saat ini adalah berkarir di industri. Lalu, mau ke mana setelahnya. Ya, kami harus meniti corporate ladder hingga titik maksimum. Bisa juga nyempal dari perusahaan dan mendirikan perusahaan sendiri. Hal ini barangkali tak memerlukan PhD, tapi memiliki kesamaan dengan melakukan PhD research, yaitu terus belajar, memecahkan masalah, berinovasi, mengajarkan sesuatu kepada yang lebih muda, membimbing orang lain, dan pada saat yang bersamaan, bisa punya income (yang lumayan).

9 thoughts on “PhD

  1. Menurutku, PhD layak diambil ada passion ke sana.. maksudnya emang punya niat “mau jadi dosen!”. You’re right, pasalnya kadang “bayaran”nya ga sesuai sama effortnya.. bertahun-tahun research

    Tapi.. konon, kata temenku di belanda sana, kadang industri membutuhkan juga lho orang yang punya gelar PhD, again, buat research-nya mereka.. dan tentunya dengan bayaran sesuai.

    Kalau aku, jangankan PhD! Ngambil master aja rasanya udah males banget. Dulu sih, pas tingkat 2 dan tingkat 3, keinginan ngambil master sangat-sangat-sangat menggebu-gebu.. tapi entah kenapa keinginan itu langsung drop sepulang aku kerja praktek. Pengennya kerja, dan setelah kerja, emang jadi keenakkan.. (dan, kalo aku pikir lagi, kalo aku jadi ngambil master saat itu, bisa-bisa nggak ada ayodya dehh sekarang.. hehehehe)

    Passion buat sekolah lagi ternyara nggak dipunyai oleh setiap orang lhoo.. jadi kalo mas arip masih punya passion sekolah lagi, ambil aja mas!

    Hmm,

  2. Menurutku, PhD layak diambil jika dan hanya jika ada passion ke sana.. maksudnya emang punya niat “mau jadi dosen!”. You’re right, pasalnya kadang bayarannya ga sesuai sama effortnya.. bertahun-tahun research

    Tapi.. konon, kata temenku di belanda sana, kadang industri membutuhkan juga lho orang yang punya gelar PhD, again, buat research-nya mereka.. dan tentunya dengan bayaran sangat sesuai.

    Kalau aku, jangankan PhD! Ngambil master aja rasanya udah males banget. Dulu sih, pas tingkat 2 dan tingkat 3, keinginan ngambil master sangat-sangat-sangat menggebu-gebu.. tapi entah kenapa keinginan itu langsung drop sepulang aku kerja praktek. Pengennya kerja, dan setelah kerja, emang jadi keenakkan.. (dan, kalo aku pikir lagi, kalo aku jadi ngambil master saat itu, bisa-bisa nggak ada ayodya dehh sekarang.. hehehehe)

    Jadi, kesimpulannya, passion buat sekolah lagi ternyata nggak selalu dipunyai oleh setiap orang lhoo.. jadi kalo mas arip masih punya passion sekolah lagi, ambil PhD, ambil aja mas!

  3. Rara – daftar PhD apa daftar kerja? Hehe

    Putie – Iya bener sekali, harus ada passion. Berhubung tidak punya lagi, maka harus dipadamkan api PhD😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s