Sekolah di ITB


Tahun 1998, seorang senior di ITB mengekspresikan kembali sebuah mimpi:

Jika kamu ingin jadi apa saja, masuklah ITB.

“Apa saja”? Sebenarnya tidak hanya ITB saja, semua sekolah pasti juga menyiapkan lulusannya untuk bertahan hidup di segala cuaca. Namun, khusus alumni ITB pekerjaannya memang beragam, dan ada juga yang jadi ‘apa saja’.

Ada yang dulunya ambil jurusan Matematika dan Sipil lalu jadi seniman seperti Sujiwo Tedjo. Ada yang belajar elektro lalu jadi musisi seperti (alm) Harry Roesli. Ada yang belajar penerbangan lalu jadi politikus seperti Sri Bintang Pamungkas, atau Joko Anwar yang jadi sutradara film. Ada yang belajar seni rupa lalu jadi pelawak/entertainer seperti Amink. Ada yang kuliah di teknik sipil lalu jadi penulis buku atau naskah film seperti Adithya Mulya.

Yang sebenarnya perlu diketahui sebelum mereka menjadi demikian itu ialah prosesnya. Apa yang terjadi selama periode sekolah hingga mencapai “puncak” karir mereka itu. Singkat kata: prosesnya menjadi ‘orang’! Pasti banyak dan bakalan panjang banget. ITB, sepanjang pengetahuan saya, memfasilitasi banyak hal:

(1) Lingkungan yang mendukung untuk jadi unik. Dalam keragaman suku yang tinggi di sana, semua orang jadi anonim, tak dikenal. Bagaimana caranya supaya dikenal? Gemarilah sesuatu yang berbeda, jadilah orang yang berbeda, lakukan dengan cara yang berbeda, bebaskan pikiranmu, pelajari segala hal. Practically, everythiiiiiing!!

(2) Dosen yang mendorong mahasiswanya untuk kerja keras. Dosen memberikan tugas yang cukup banyak sepanjang semester. Satu semester, seorang mahasiswa mengambil 7 – 8 kuliah yang notabene baru, susah dan perlu diresapi. Ketika menjalaninya ada mahasiswa ITB yang stress karena menumpuknya pekerjaan rumah, praktikum dan tugas. Hal ini diperburuk dengan individualisme di ITB  yang cukup tinggi: setiap orang ada kecenderungan bekerja sendiri, karena mereka punya gaya  sendiri dalam mengerjakan sesuatu, dan prime-time mereka juga berbeda. Stress adalah proses yang dilewati ketika tugas datang berlimpah. Dan kerja keras adalah satu cara menghindari stress. Tidak ada pilihan lain, kecuali kalau mau tidak lulus. Cara lain menghilangkan stress: banyak bercanda dong!🙂

(3) Ada yang bilang sebelum masuk ITB, bahwa iptek di ITB itu ketinggalan 30 tahun dari luar negeri. Ini salah; yang benar adalah 31 tahun (ngarang). Ya siapa sih yang tahu teknologi suatu sekolah itu ketinggalan berapa tahun? Pasti memerlukan benchmark. Fasilitas komputasi tingkat tinggi (high performance computing)? Mungkin ada, tapi tidak besar. Coba dibandingkan dengan universitas di Amerika? Wah jauh sekali bedanya. Yang tidak ketinggalan itu kemampuan dosennya. Dosen di ITB memfasilitasi mahasiswa untuk jadi orang mandiri. Mereka juga approachable, mudah didekati dan bersahabat. Ada juga yang killer, tapi hampir punah. Dosennya juga banyak pengetahuan, pandai bercerita dan memperoleh gelar doktor dari universitas ternama (MIT, Imperial College, Caltech, TU Delft dan lainnya). Budaya yang dibawa dosen adalah budaya riset, mencari tantangan, menjawab rasa ingin tahu. Mereka juga pandai membuat yang rumit jadi sederhana di muka kelas. Tapi ketika ujian tiba, jangan harap simplisitas itu muncul.

(4) Nama besar membuat orang lebih percaya diri. Sedikit banyak iya. Tapi tidak absolut. Karena seseorang akan dibuktikan lewat kemampuannya sendiri, bukan lewat nama besar, bukan lewat reputasi universitas. Dan kemampuan dialah yang membuatnya makin besar hati, makin percaya diri.

(5) Minimnya jumlah perempuan (cantik!). Perempuan biasanya memberikan estetika di lingkungan kampus. Mereka juga memberikan tambahan energi di pagi hari lewat wanginya dan wajahnya yang berseri. Karena estetika dan energi ini hanya 20% (sekarang mungkin lebih) maka setiap mahasiswa berkompetisi membuat atau mencari dua hal itu sendiri. Suka “berkompetisi” ini yang akhirnya membuat mahasiswa maju. (nyambung gak sih? ha ha ya ngarang lah).

Hal lain….silakan ditambahkan …

Btw, meski saya tidak tenar seperti nama-nama tokoh di atas, tapi setidaknya saya punya achievement yang saya banggakan: jadi ayah dan suami!🙂

6 thoughts on “Sekolah di ITB

  1. >(5) Minimnya jumlah perempuan (cantik!)

    ahaha..mau yg cantik2 adanya di ekonomi(seperti daku contohna) ato sastra kali ya ;D

    >achievement yang saya banggakan: jadi ayah dan suami!

    ya!ya!ya!

  2. (5) Minimnya jumlah perempuan (cantik!).

    Mas Arief, konon ada pepatah kuno enggak tahu bener tidaknya bahwa kalau wanita, kecantikan jarang sekali berbanding lurus dengan kecerdasan, tetapi kalau laki-laki, ketampanan jarang berbanding lurus dengan kesolehan…mungkin itu kali alasannya, tapi kenapa di NUS sama NTU banyak yang cantik-cantik yah. Jangan-jangan pepatah itu hanya berlaku di Indo hehehehe

  3. Pepatah lain bilang: “Cantik itu relatif, ganteng itu absolut” hehe …

    Kayaknya di NUS yang cakep2 ada di Arts and Social Science atau Business School; kalo di Engineering, kayaknya sama dengan ITB deh🙂

  4. kecantikan jarang sekali berbanding lurus dengan kecerdasan

    berarti saya termasuk yg jarang sekali itu..sudah cantik..pintar pula ;D terima kasih..terima kasih..

  5. Huehehehhehe..
    yang namanya dunia “engineering”, dimana-mana di dunia ini sama, Mas! Nggak ceweknya, nggak cowoknya.. sebelas-dua belas lah.. jarang yang oke.

    Waktu di Perancis aku baru ngeh.. Di sana kan ada seminar (from different entities and different nationalities). Aku perhatiin kalo orang-orang non-engineer dari manapun(sebagaimana halnya di Indonesia juga) kok tampak cakep dan modis ya?!

    Bagaimana dengan engineernya? yaaa sama lah sama engineer-engineer di sini. Penampilan seadanya. Ternyata “being bule” pun nggak mengubah ke-katroo-an gaya para engineernya.

    Huehehehehehhe..
    Ada apa ya di dalam pikiran para engineer ini dalam berpenampilan? kok bisa kompak? (terutama buat engineer cewek.. termasuk dirikuuu.. muke jauh banget..!!!) :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s