Kawan Lama


Semalam saya terlalu nganggur hingga akhirnya saya nelponin kawan-kawan lama masa SMP – SMA yang berdomisili di Jember dan Surabaya. Tidak banyak yang ditelpon karena bill telpon bisa melonjak.

Sunu. Dia sudah masuk blog beberapa kali. Dia yang mengajarkan bermain gitar waktu SMP. Ketika SMA, kami ikut ekskul pecinta alam dan mendirikan band yang bernama “Springfield”. Ia kemudian keluar dari band dan solo karir. Setamat SMA, Sunu pindah ke Yogya dan menimba ilmu Food & Beverage di AMPTA (akademi perhotelan). Tahun 1998, saya sempat mampir di Yogya dan menginap beberapa hari di kos-kosannya. Meski sempat menyaksikan sisa-sisa kerusuhan, kesan tentang Yogya masih sama: slow motion, friendly people. Sunu bertanya: wong Singapur opo nggapleki? kok soko critomu koyoke ngono (orang Singapura apa nyebelin? dari ceritamu sepertinya gitu). Saya lupa menjawab apa; barangkali “Iya, sebagian”. Sunu masih bermain band dan ia main bass. Ia bekerja untuk bagian manajemen di sebuah apartemen di Surabaya. Tidak memasak roti lagi sepertinya. Ia masih single dan tertawanya masih sama: menggelegar dan diskrit (seperti kita semua). Dan cara berbicaranya pun masih sama.

Hahang. Orang pasti bertanya “Kok namanya Hahang? Ini nama asli? Dari mana nama itu berasal?” Yah dia pun barangkali tidak tahu, kecuali bahwa itu pemberian orangtua lalu distempel di akta lahir. Awal Januari 2008 Hahang sempat patah hati, tapi hanya sebentar (seperti halnya laki-laki kebanyakan). Di hari ia memutus pacarnya, ia kemudian (katanya) pergi menjemput adik kelasnya yang lain (laaaa). Tahun 1996 ia bersekolah di Surabaya, mengambil jurusan kedokteran … hewan. Woof woof. Akhirnya ia lulus dan bekerja di perusahaan pakan ternak di Surabaya. Tetap sebagai dokter hewan. Dulu kami sering meledeknya: wah susah lho jadi dokter hewan … setiap kali nanya pasien “Kamu sakit apa? Di mana sakitnya? Pasti dijawabnya cuma dengan, misal, “Mbeeeek ….mbeeek” What a job. Hahang masih seperti dulu, cara bicaranya pun sama.

Reinhardt. Ini teman satu band di Springfield. Barangkali ia pemain gitar terbaik di angkatan saya. Dia orang Batak, tapi lahir dan besar di Jember. Kata seperti “Bah”, “cem mana la kau!”, “Eh kek mana ni…” kayaknya gak pernah saya dengar. Logatnya sudah Jawa, langgamnya pun Jawa. Dia belajar gitar 12 jam per hari, low profile, cepat membaca tempo dan playing by heart (meski ia juga bisa membaca not balok). Dia sempat main di beberapa kafe di Samarinda, Batam, dan kini ia di Surabaya. Dia sempat kena peluru nyasar waktu ada pertikaian gank di kafe di Samarinda itu. Sempat kritis, dan dioperasi bagian pipi hingga leher. Untung dia selamat, dan semalam bisa ngomong dengan lancar. Pertanyaan pertama saya waktu menelpon dia: “Heh … sik urip koen?? Hehe” (Eh masih hidup kamu?). Dia sedikit pendiam, kadang saya juga bingung mau ngomong apa sama dia. Tapi dia orangnya baik. Agak unik: pernah ditemukan tidur siang sambil ngelonin gitar, sampe ngiler. Hehe. (Mudah2an tulisan ini tak dibacanya!)

Kurniawan. Namanya panggilannya banyak, seperti Wawan, Beben, Kur-Kur, Brodin, dan terakhir ya Kurinawa. Tapi saya selalu memanggilnya Wawan. Kurniawan adalah satu kawan yang sukses jadi pengusaha. Dia selalu bilang “Aduh opone pengusaha … aku iki akeh utange, Rip…” (Aduh apanya pengusaha … aku ini banyak hutangnya Rip”. Benarkah? Sepertinya setiap orang pasti punya hutang; yang beda ya besar kecilnya, plus deadline-nya. Kurniawan memulai usahanya dengan membuka percetakan, kemudian merambah ke pengadaan hardware komputer, penyewaan mobil, cuci mobil, toko handphone, penyewaan game, kini membuka centrabiz di jalan Karimata. Wah pokoknya semuanya harus dijadikan duit. Orangnya cekatan, pandai berkomunikasi, mencari tahu dan pekerja keras. Ia juga penggemar kopi dan rokok. Dia masih bisa krama inggil! (this is something, man). Yang tidak pernah berubah adalah: ia selalu meminta saya jadi investor. Ha ha …. tunggu 10 tahun lagi kaleee ..

Begitulah sebagian kawan-kawan lama saya. Biasa saja. Tapi mereka yang memberikan hangatnya persahabatan selama 15 tahun lebih: dari jaman pake kathok SMP sampe umur 30 sekarang ini. How is yours?

One thought on “Kawan Lama

  1. Indahnya persahabatan…🙂

    Sudah baca tetralogi ‘Laskar Pelangi’ Andrea Hirata? (LP, SP, Edensor, *MK*);
    ah, cerita persahabatan yang penuh warna.. saya tak kuasa menahan air mata..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s