“Raja”


Akhirnya “raja Jawa” itu wafat di usia 86. Suharto, bekas presiden Indonesia yang paling lama berkuasa itu, meninggal akibat kegagalan organ-organ tubuh. Salim Said mengatakan di ChannelNewsAsia (stasiun TV yang paling banyak dirujuk orang Singapura untuk berita terkini) bahwa awalnya Suharto itu “Great!“. Tapi sepuluh tahun kemudian, ketika anak-anaknya beranjak dewasa, ia mulai bertindak seperti raja. Ia memanfaatkan posisinya sebagai presiden untuk memperkaya dirinya, anak-anak dan kroninya. Ia mendirikan Suharto, Inc. Di negeri yang tak-demokratik, tangan besi dan korupsi bisa menghancurkan dirinya sendiri.

Empat puluh lima tahun pertama hidupnya tak banyak diketahui orang hingga ia “tiba-tiba” muncul lewat Kostrad dan memberantas PKI tahun 1965. Ia membuat Sukarno menjadi tahanan rumah, dan melalui surat sakti Supersemar (11 Maret 1966), ia menjadi presiden kedua Indonesia. Ia kemudian membangun Indonesia di segala segi, membangun ikatan dengan negara lain. Di masa itu, demokrasi jadi komoditi yang haram. Yang halal adalah kolusi, korupsi dan nepotisme; tapi tak bisa dijadikan obrolan biasa karena malah tak sakral. Tiga kata itu harus menjadi rahasia umum; harus menjadi tindakan yang diamini banyak pihak tanpa didenda, tanpa dijerat hukum, tanpa diprotes. Tiga kata itu tak muncul meski ada. Mereka invisible. Tapi tahun 1998 ia dipaksa lengser. Tiga puluh dua tahun hidupnya membuatnya jadi bapak pembangunan sekaligus bapak korupsi Indonesia. Oleh sebab itu, ChannelNewsAsia mengatakan bahwa masyarakat Indonesia memiliki pandangan yang campur aduk (mixed) mengenai Suharto. Ini disebabkan Suharto “menari” di antara yang-baik dan yang-buruk.

“Raja” yang pandai “menari” itu telah wafat. Hal lain, tanpa dia, barangkali Habibie tak pernah pulang dan membangun industri pesawat terbang. Tanpa raja itu, ilmu penerbangan tak muncul di Bandung yang bau sampah. Tanpa raja itu, tak seorangpun tahu makna demokrasi, tangan besi, korupsi dan keadilan yang gagal. Indonesia, sementara ini, berkabung.