30


Kilas Balik

Tepat tiga puluh tahun silam saya lahir di Dinas Kesehatan Tentara, Jember. Entah bagaimana saya dilahirkan di sana. Barangkali setelah ayah saya selesai wamil (wajib militer) ia tengah ditugaskan di Jember.

Kemudian saya dibawa ke Gending, sebuah kecamatan di Probolinggo, tempat kakek-nenek dari ibu saya. Di rumah dinas pegawai PG (pabrik gula) itu saya tumbuh sampai usia dua tahun. Saya tak memiliki akte lahir. Dan baru ketika pindah ke Bondowoso saya mendapatkannya; jadi yang tertulis di paspor ya Bondowoso.

Dua belas tahun saya tinggal di Bondowoso. Kota ini, yang saya kunjungi minggu lalu, masih tetap memberikan ambience yang sama: ia tenang, berpenduduk ramah dan saling mengenal, punya hawa menyegarkan dan menyediakan makanan sederhana, enak dan murah. Meski dibesarkan di lingkungan Jawa, saya memahami dan bisa bercakap-cakap dalam bahasa Madura. Dengan bahasa ini, saya cepat relate dengan penduduk sekitar. Meski tidak selancar dulu, minggu lalu saya ngobrol dengan tukang pijat dalam bahasa Madura (ngoko alus – intermediate). Di kota ini, saya bertemu dengan beberapa teman masa kecil. Mereka sudah berkeluarga dan rata-rata mbalik kucing ke Bondowoso setamat kuliah. Bukan hanya untuk mengabdi, tapi supaya dekat dengan keluarga dan agak malas meninggalkan masa lalu. Sebagian yang lain, pergi ke kota besar dan menetap di sana. Bukan hanya untuk bekerja, tapi sudah jenuh dengan ritme Bondowoso dan ingin melihat dunia luar.

Tidak ada yang percaya ketika saya bilang bahwa saya sebenarnya pemalu dan pendiam ketika kecil. Tentu saja, karena mereka tidak hidup di masa lalu saya, dan kalaupun iya, mereka terlalu ignorant untuk mengingat bahwa seseorang itu pemalu atau tidak. Pergi ke toko dan bertanya harga suatu barang saja saya malu, apalagi berdiskusi di dalam kelas/berpidato/menyanyi. Saya biasanya memilih kegiatan yang minim bersuara, seperti bermain musik, berkemah, menjadi pengibar bendera, menjelajahi alam, menyukai teman perempuan, berkelahi, gerak jalan atau main bola. Saya pun kurang gemar membaca, kecuali komik, ensiklopedia dan buku bergambar. Tapi saya memiliki banyak teman dekat dan teman baik. Barangkali saya tidak berbakat jadi public figure yang dikerumuni orang; yang cocok ya jadi tukang wawancara, karena berhadapan dengan satu atau dua orang saja.

Sepuluh tahun lalu, saya hidup di Bandung. Bandung punya kesan berikut: kota anak muda, kota pendidikan, kota mojang priangan, kota jazz. Di Bandung saya murni hanya belajar teknologi pesawat terbang (karena terpengaruh buku Habibie) dan mempelajari jazz. Ketika itu, yang saya impikan adalah lulus sebagai insinyur penerbangan, lalu bekerja di pabrik pesawat, memiliki rumah di Bandung, dan setiap malam minggu bisa bermain jazz bersama teman-teman. Sepuluh tahun kemudian, saya di Singapura dan berumur tiga puluh. Saya (untungnya) lulus sebagai insinyur penerbangan, tapi bekerja di pabrik hard drive, menyewa flat di Singapura barat, dan setiap malam minggu nonton film di DVD bersama istri saya.

Hari Ini

Di umur 30 ini saya sungguh bersyukur karena dikaruniai keluarga kecil yang setiap hari adalah tujuan saya untuk pulang. Keluarga kecil ini adalah “rumah” bagi saya. Ia memberikan keceriaan, ketenangan, kebahagiaan dan cinta. Meski si kecil belum pandai berbicara, tapi ia adalah cahaya bagi saya. Saya juga bersyukur karena ditemani seorang istri yang setia dan gigih dalam memperjuangkan keutuhan rumah tangga. Ia sekarang pandai memasak; dengan kata lain, ia bisa membuka restoran. Ia pandai menghafal lagu anak-anak dan suka membaca; dengan kata lain, ia bisa menjadi guru playgroup anak saya.

Di umur 30 ini saya baru sadar bahwa saya gagal mendapatkan PhD sebelum umur 30. Tapi hal ini tak akan saya sesali karena PhD tidak lagi membawa pesan yang subtil. Ia adalah suatu komoditi. Ia menjadi sesuatu yang harus dimiliki. Meski di satu sisi ia adalah academic achievement, tapi yang lebih penting adalah di kemudian hari ia akan diuji oleh lingkungan, masyarakat dan alam: ia perlu memberikan inspirasi, ia perlu bermanfaat bagi orang banyak, ia perlu memperluas batas-batas ilmu pengetahuan, ia perlu dipertanggungjawabkan tanpa tesis. Ia terlalu berat untuk diselesaikan dalam waktu singkat karena ia telah dikurung oleh sistem, silabus, panel dan tesis. Ia dipasung. Oleh sebab itu PhD bukan lagi kebebasan dan esensi.

Di umur 30 saya memiliki pekerjaan yang menyenangkan, hidup yang tenang, saudara-saudara baru (yang asli Singapura maupun yang ketemu di sini) dan harapan. Benar sekali: harapan. Tanpa harapan, seseorang tak akan pernah menikmati indahnya ketakterdugaan.

Hari ini istri saya membuat Bakwan Malang dan membelikan kue tart kecil rasa mocca. Yang ikut makan: saya, istri, Verdi dan Pak Ali. Si Olit turu. Sudah jam 9pm. Terima kasih Tuhan: ijinkan saya menghirup O2-mu hingga 30 tahun lagi.

6 thoughts on “30

  1. seorang istri yang setia dan gigih dalam memperjuangkan keutuhan rumah tangga

    koq kedengarannya ky pendekar ya?hehe..selamat ulang tahun suamiku tercinta🙂 n selamat hari jadi pernikahan yg ke-4..doanya buanyakk banget jd ngga usah disebut satu persatu..yg pasti bahagia dunia akhirat🙂..amen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s