Rugby dan 19


Jaman kuliah di Bandung dulu, setiap mahasiswa dikenakan Wajib Olahraga pada tahun pertama. Semester 1, kami wajib ikut atletik. Semester 2, kami dibebaskan memilih olahraga yang digemari, atau diminati. Saya memilih rugby, olahraga asal Inggris yang keras dan berbola aneh. Alasan ikut rugby: supaya kenal cewek cantik. Salah besaaaaaar! Mana ada cewek yang ikut rugby! Ketika itu, yang paling banyak ikut rugby memang anak seni rupa (yang menurut saya ceweknya keren; bukan kerenmpeng); tapi sayangnya yang ikut cowok semua, sangar pula. Hehe. Tapi tak apa, yang penting tetap bisa belajar nendang bola berbentuk aneh.

rugby_ball.jpg

Rugby: Bastard Game Played by Gentlemen (thanks, Bi!)

Hari pertama, kami diajarkan teori bermain rugby. Sudah banyak yang lupa meski ujian teori ketika itu hampir dapat 100 (mau gak gampang gimana wong dosennya tidak ada yang punya gelar PhD bidang rugby hehe). Seingat saya, ngoper bolanya gak boleh ke depan, tapi ke samping atau ke belakang. Tidak boleh nyekek orang, tidak boleh main kasar (alias nendang selain bola), boleh megangin badan, kaki, pinggul dan lainnya. Boleh nindih orang lain, boleh menerjang orang, boleh nabrak tapi harus suam-suam kuku, alias tidak boleh ngawur: nabrak harus sopan. Hehe. Alhasil, setiap pulang rugby di Sabtu sore, badan rasanya legrek, mau patah tulang, kulit lecet dan otot nyeri. Tapi selalu puas dan senang hati; karena kadang dapat bonus njlungupno wong liyo hehe.

adidasythhomerep-c.jpg

Bukan seragam rugby saya; cuma sama nomornya aja

Seragamnya ketika itu hanya celana pendek selutut, baju lengan panjang berbahan sekian persen polyester, berlambang gajah. Tak ada pelindung di pundak atau bagian alat vital, tak ada helm, tak ada handuk di pantat. Untuk nomor jersey, saya memilih nomor 19. Alasannya: waktu masuk kuliah itu umurnya 19, dan 19 ini bilangan prima (tidak bisa dibagi apapun selain satu dan angka itu sendiri… halah gak ada hubungannya kok!).

Di pertengahan bulan, ada foto session. Pemain rugby berbaris, melipat tangan di depan dada, jepret! Keren. Tapi saya nampak kecil waktu di foto itu! (foto belum di-scan, sori). Lainnya berbadan bueeesar-bueeesar soalnya (ya hiperbola sedikit gak papa).

Entah, gimana nasib rugby ini sekarang. Apakah masih ada di ITB?