Bosan


Beberapa hari ini pekerjaan saya jauh lebih membosankan dari kata bosan itu sendiri. Meski awalnya, sistem hard disk drive adalah sesuatu yang kompleks, terintegrasi, tapi jika sudah sering melihat, mendengar, mendiskusikan dan mengerjakan, lama-lama kok ya bosen. Karena bosan itu akhirnya badan saya jadi pegel-pegel, tidak enak. Sempat loyo dan hawa panas-dingin (terik-hujan) di sini menambah buruknya mood saya. Jadinya, Senin pagi saya meriang, dan pengen tidur, dan mbolos (alias MC). Kemudian Selasanya saya masuk. Rabu saya MC lagi. Kerja kok kelap-kelip lampu di kota?

Bos saya ceria sekali waktu melihat saya hari Selasa lalu. Dia bilang, pulang lebih awal tidak apa-apa supaya masuk kerja tidak malah membuat sakitnya lebih buruk. Dia malah nanyain kabar anak dan istri saya sebelum nanya tentang saya. Wah, baik sekali tho? Bos saya ini orangnya memang memperhatikan well-being staff-nya. Ia dididik dan dibesarkan di Silicon Valley, jadi culture bekerjanya sangat family-oriented, namun tetap profesional.

By the way, saya barusan pinjam buku “Silicon Valley Way”, buku mengenai membangun bisnis high-tech a la perusahaan terbaik di Silicon Valley, California. Baru membaca pengantarnya saja. Sepertinya menarik sekali karena seperti buku know-how, sehingga ia bisa secara praktis diterapkan. Buku ini adalah buku yang selama ini saya cari mengenai “bagaimana memulai bisnis yang berbasis teknologi dan riset”.

Bosan. Apa obatnya? Entahlah. Saya juga bosan menunggu artikel saya (yang ketiga) dimuat oleh Berita Harian, Singapura. Judulnya “Obama di Djakarta: 1967 – 1971”. Pasti judulnya bakal diubah lagi sama mereka, seperti halnya dua artikel terdahulu mengenai “orang Jawa di Singapura” dan “Bengawan Solo”. Saya udah pinjam dua film, baru ditonton yang “The Brave One”.

Menulis, bosan. Main gitar, bosan. Nonton film? Membaca buku? Atau ambil PhD? Ha ha. Yang terakhir ini malah bikin bosan, terutama di tahun ke-2 dan seterusnya. Believe me. Sebenarnya keinginan mengambil PhD itu masih ada. Cuma kok ya agak malas kalau bidang engineering. Pengennya ambil bidang fisika murni. Tapi kok ya otak tidak nyucuk rasanya, apalagi jika dihadapkan pada persamaan diferensial yang sekarang sudah lupa total. Ada juga ide melakukan PhD research bidang kebudayaan Indonesia, seperti yang dilakukan orang-orang Cornell yang saya kagumi. Topik risetnya: Kehidupan Orang Jawa di Luar Jawa: New Caledonia, Singapura, Malaysia, Suriname. Aduh, siapa yang mau membiayai? Dan siapa yang bertanggungjawab jika saya tetap bosan? hix hix.