Obama di Djakarta: 1967 – 1971


Barack Obama adalah seorang kandidat presiden dari Partai Demokrat – Amerika Serikat yang bersaing dengan Hillary Clinton. Ia lahir di Honolulu tahun 1961. Ia menyelesaikan sekolah hukum di Universitas Harvard dan pernah menjadi orang kulit hitam pertama yang menduduki kursi presiden Harvard Law Review. Saat ini ia adalah satu-satunya anggota senat AS yang berkulit hitam dan orang hitam ketiga yang pernah bertanding untuk kursi kepresidenan dalam 100 tahun terakhir sejarah Amerika (Jakarta Post, Nov 2006).

Obama datang ke Jakarta tahun 1967. Kala itu ia masih berusia enam tahun. Jakarta berada dalam transisi dari Soekarno ke Soeharto, dan kenangan berdarah G30S (“Gerakan 30 September” yang membuat Partai Komunis Indonesia diganyang habis-habisan) masih segar membekas. Barry, panggilan akrab Obama, lahir dari seorang ibu Kaukasian dan ayah dari Kenya. Orangtuanya adalah mahasiswa di Universitas Hawaii. Ia diberi nama persis seperti ayahnya, Barack Hussein Obama. Ayahnya meninggalkan Barry ketika ia masih dua tahun. Barry kemudian mengenal Lolo Soetoro, seorang mahasiswa dari Indonesia yang menjadi kekasih ibunya. Dan, ketika ibunya, yang bernama Stanley Ann Dunham, telah menikah dengan Lolo, ia mengajak Barry pergi ke Indonesia tahun 1967.

Dalam memoarnya Dreams from My Father – A Story of Race and Inheritance yang ditulis tahun 1994, ia bercerita tentang masa kecilnya di Jakarta – yang ia sebut “Djakarta”. Jakarta yang ia gambarkan kala itu barangkali masih mirip dengan Jakarta hari ini (setidaknya di beberapa tempat): tengah kota yang sedikit modern, toko-toko kecil yang berderet di jalanan, lalu lintas yang sesak dan macet, pendorong gerobak barang, matahari yang terik dan pengemis di persimpangan jalan.

Sosok lelaki asia, atau lebih khususnya Indonesia, yang melekat dalam ingatan Barry adalah Lolo Soetoro tentunya. Lolo dikenalnya sebagai pemuda yang sopan dan mudah akrab dengan siapa saja; ia juga pandai bermain tennis dan catur. Lolo beragama Islam, meski ia juga masih memberikan ruang bagi pandangan Hinduism dan animisme yang kuno. Jika mengikuti penggolongan Clifford Geertz, mendiang profesor antropologi AS, dalam The Religion of Java (yang lebih merupakan spekulasi ketimbang analisis, dan tak merepresentasikan masyarakat Jawa yang lebih luas), Lolo barangkali bisa dikategorikan “abangan” – pemeluk Islam nominal, yang tidak sepenuhnya mempraktekkan sholat wajib dan filosofinya didasarkan pada sinkretisme antara Hindu, Buddha, animisme, dan elemen-elemen Islam. Lolo bekerja sebagai ahli geologi untuk angkatan bersenjata (army) dan ia pernah ditugaskan di New Guinea sebelum Obama dan ibunya datang ke Jakarta. Barry sering bermain dengan Lolo di waktu senggang. Mereka berbagi kesenangan dengan memberi makan binatang peliharaan seperti ayam, bebek, anjing, kera, burung cendrawasih, burung kakatua dan buaya kecil. Lolo memberi hadiah Obama sarung tinju, yang kemudian ia gunakan untuk berlatih dengannya.

31063810.jpg

Lolo Soetoro, Stanley Ann Dunham, Maya Soetoro-Ng, Barack Obama (chicagotribune.com)

Dalam waktu kurang dari enam bulan, Barry mahir berbahasa Indonesia. Namun, ibunya tetap mengajarkan bahasa Inggris lima hari seminggu: mereka berdua bangun pukul empat pagi dan belajar selama tiga jam sebelum Barry pergi ke sekolah. “Ini juga bukan piknik yang menyenangkan bagiku, buster,” begitu ibunya mengingatkan ketika Barry pura-pura sakit atau malas belajar.

Obama juga bermain dengan siapa saja, termasuk anak-anak dari petani, pembantu rumah tangga dan birokrat kelas bawah. Ia bermain selayaknya anak-anak kampung di Indonesia: bekejar-kejaran di jalan kecil siang – malam, menangkap jangkrik dan adu layangan (kites battle).

Meski ia tak mendapatkan pengertian yang memuaskan mengenai “kemiskinan”, “korupsi” dan “instabilitas keamanan” (yang ia lihat di Indonesia kala itu), ia mendapatkan buku-buku tentang pergerakan hak-hak sipil, dan rekaman Mahalia Jackson (penyanyi gospel terkenal) serta pidato Dr Martin Luther King yang memukau. Di usia belia itu pula, Barry diajarkan memiliki nilai-nilai luhur manusia, seperti kejujuran, keadilan, berbicara lugas dan menilai secara independen.

Ibunya kadang bercerita tentang murid-murid kulit hitam di wilayah selatan Amerika yang miskin dan hanya mendapat buku-buku bekas dari murid kulit putih, lalu mereka tumbuh menjadi dokter, pengacara dan ilmuwan. Ibunya juga bercerita tentang mars anak-anak yang lebih muda dari Barry, yang berbaris untuk kebebasan. Setiap lelaki kulit hitam adalah Thurgood Marshall atau Sidney Poitier; setiap perempuan kulit hitam adalah Fanny Lou Hamer atau Lena Horne. Menjadi kulit hitam adalah pemilik keturunan yang agung, nasib yang spesial, beban kejayaan yang hanya dipikul mereka yang kuat saja. Di sini, Barry menjadi bersemangat dan memiliki kesadaran bahwa yang-hitam bukanlah yang-kalah dan tertindas, tetapi yang penuh daya juang dan yang merdeka.

Di Jakarta yang panas, Barry yang menjelang usia 10 tetap melihat bahwa penjelasan ibunya dan Lolo mengenai dunia belumlah lengkap. Ia melihat bahwa dunia itu kejam – suatu pengertian yang tak bisa dipahami oleh kakek neneknya di Hawaii yang tenang dan jauh dari negeri yang terbelakang di Asia Tenggara. Ia juga melihat bahwa ras dan warna kulit tak lagi menjadi indikator antropologi belaka, tetapi lebih mengerikan: menjadi prasangka dan rendah diri. Di sini, ia mulai menilai, dalam sikap percaya diri yang kadang tak terjustifikasi, bahwa dunia memerlukan perubahan, sebagaimana ia memandang dunia dengan mata yang berbeda.

Empat tahun adalah periode yang cukup bagi seorang anak untuk memahami bahwa dunia bisa tergerak oleh hal yang trivial seperti ras dan warna kulit. Dunia kadang dirundung kegilaan orang dewasa dalam melihat sesuatu.

Hari ini, Barry yang sementara ini memiliki perolehan delegasi lebih banyak dari Hillary Clinton (Obama: 1202 vs Clinton: 1042) terus berusaha melanggengkan jalannya untuk naik ke kursi kepresidenan AS tahun 2008. Jika ia terpilih menjadi presiden, ia akan menjadi presiden kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika. Janjinya mengenai perbaikan ekonomi, pelayanan kesehatan, green technology, energi, lingkungan, hak sipil, kemiskinan, pendidikan, kebijakan luar negeri dan isu penting lainnya akan segera diuji setelahnya.

28585925.jpg 28587177.jpg 28585944.jpg34172796.jpg

*Diterbitkan di Berita Harian Singapura 17 Maret 2008 dengan judul “Kaitan Obama: Kenya, Indonesia dan Amerika” (diterjemahkan ke bahasa Melayu)