Ayu Utami dan AAC


Ada beberapa orang yang nanya ke saya: sudahkah membaca Ayat-Ayat Cinta (AAC)? Saya selalu jawab belum. Kalau AAS (Ayat-Ayat Setan – Satanic Verses – Salman Rushdie) dulu pernah baca tapi gak tuntas. Katanya juga, filmnya sudah beredar di Indonesia dan ditonton 3 juta orang. Sensasional kayaknya. Dan, ini bukti bahwa saya kuper (ha ha).

Saya nemu komentar Ayu Utami mengenai AAC ini. Novel Ayu Utami yang saya kagumi adalah Saman. Novel lainnya, seperti Larung, kurang ‘menggigit’. Dalam Saman, Ayu mendobrak pintu sastra yang kokoh, rapi, bersih dan keramat. Ia tidak seperti itu: ia vulgar, apa adanya, sedikit ‘kotor’ dan ramai kritik. Sastra memang seperti itu: membuka pergulatan, bukan memberi solusi. Yang memberi solusi (khususnya happy ending) biasanya ya Hollywood. Kalau Bollywood? Ada lapangan, ada lagu, ada pertempuran, ada hero, ada nangis (tapi kadang kocak juga).

Saya percaya Ayu Utami memberi komentar yang objektif mengenai AAC. Seperti:

Ayat-ayat Cinta itu novel Hollywood, novel yang akan membuat senang pembacanya. Cara membuat senang itu dengan memakai resep cerita pop, misalnya berita happy ending, katakan yang orang ingin dengar, jangan katakan yang tidak ingin didengar.

Nah kan …

Cerita novel ini sangat laki-laki, memenuhi keinginan dan impian semua laki-laki untuk dicintai banyak perempuan, yang perempuan istri pertama menyuruh dia kimpoi lagi. Lalu penyelesaiannya untuk kompromi simpel, perempuan yang istri kedua mati.

Kalau dalam novel ini, kasus poligami disikapi dengan pengecut. Dalam arti, sebagian besar perempuan tidak mau dipoligami. Bila pun ada, perempuan yang mau dipoligami itu, biasanya mereka sebagai istri kedua, ketiga, atau keempat.

Kekuatan novel ini?

Judulnya kuat, ini mengingatkan pada Ayat-Ayat Setan, atau lagu Laskar Cinta. Kemudian enak dibaca, dia punya keterampilan menulis. Tapi saya kira kekuatan Ayat-Ayat Cinta ini adalah kemampuannya untuk menyenangkan, untuk mengkonfirmasi apa yang dipercaya kebanyakan orang. Mental masyarakat itu merindukan orang untuk masuk ke agamanya, kita senang bila ada yang masuk agama kita. Di sini, masuk Islam, di Hollywood masuk Kristen.

Kelemahan novel ini?

Paling lemah, kalau menurut saya, adalah nafsunya pada kebenaran. Begitu bernafsu untuk menunjukkan kebenaran. Tapi dia mengakui ini novel dakwah, jadi nggak masalah.

Benarkah? Mesti membaca sendiri kayaknya. Ada yang berbaik hati mengirimi saya? hehe

 

12 thoughts on “Ayu Utami dan AAC

  1. buat saya dan mungkin bagi kebanyakan perempuan, yang menarik dari novel ini adalah tokoh ‘Fahri’ yang bisa dibilang sosok sempurna seorang laki-laki.. *duh, Fahri*. Dan sesungguhnya apa yang didambakan perempuan adalah kehidupan bersama ‘sosok Fahri’ dengan jalan cerita yg tentu saja berbeda dg cerita AAC ini.. Hepi ending, tanpa poligami.. Ah, indahnya..

  2. satu lagi ayu utami : si parasit lajang, suka krn berani dan apa adanya (dg bahasa yg ngga sok intelek)..wah kita memang ketinggalan banyak buku2 indonesia..ada yg berbaik hati mau mengirim LP & AAC??..poligami?no way dong ahh..pd dasarnya ngga ada wanita yg mau dimadu

  3. saya sepenuhnya setuju dengan ayu. AAC terlalu ‘bersih’ untuk sebuah novel sastra. Memang memanjakan pembaca, menuruti apa yang diinginkan. Ending yang hepi, kisah yang banyak kebetulan. Wis mirip bacaan perempuan ala Barbara Cartland. Secara dakwah? memang sempurna.

  4. Saya suka pesan agama dan moral dari pengarang buku ini, yg hadir tanpa pesan menggurui dan mengalir bersama situasi dan kondisi yg tepat. Ini seperti menjadi pakem yang dirindu pembaca setia buku2 nya.

    Ada versi e-booknya, namun lebih baik beli yg asli. Kalau sudah baca yg asli baru simpan e-book nyaπŸ™‚ Lhoo jelas saja, mencetak atau memfotokopi buku ini hampir sama mahal dgn ongkos tinta printer/kertas atau biaya fotokopi.

    http://www.dhuha.net/en/downloads/ebook-islam?page=4

    ari3f: Pengennya beli yang asli, tapi berhubung anda kirim e-booknya jadi saya harus ngeprint nih karena lebih enak baca hardcopynya…. terima kasih banyak ya!

  5. Tahun 2005 aku numpang baca AAC punya temenku.

    Lupa-lupa inget sih ceritanya. Menurutku sih biasa aja jadi banyak lupanya. Yaa seperti novel-novel cinta pada umumnya deh. Sampe heran kok banyak yang suka novel itu apalagi filmnya. Sampe sekarangpun aku belum nonton filmnya. Nggak tertarik. Ceritanya tentang poligami pula. No way lah.

    Meskipun katanya cerita “dakwah”, tapi aku tetap nggak bisa melihat sisi dakwahnya ada di bagian mana. Di bagian “istri pertama harus rela dimadukah?”, atau di bagian “pria berpoligami pasti nggak bisa adilkah?”, atau dari sisi “bersedia menjadi madu akan merusak kebahagiaan rumah tangga orangyang sudah terbangun?”. Basi lah.

    Harusnya nggak usah didakwahkan juga orang-orang sudah tahu kalo poligami itu bener2 untuk kondisi darurat, bukan hanya akibat manajemen syahwat yang gagal. Kalo nggak, kenapa Tuhan menciptakan satu adam dan satu hawa bukannya satu adam dan empat hawa?! Abisnya di novel itu diceritain si Fahri ternyata akhirnya menikmati juga berpoligami walaupun awalnya “menolak”. Cape dehhh…😦

    Pokoknya ceritanya nggak semengesankan LA VITA E BELLA. Jadi dijamin nggak nyesel nggak baca novelnya ataupun nonton filmnya.

  6. Bleki : gimana brun, dah nonton film ayat2 cinta yg katanya oke itu?

    Bruno : emoh ah. tema yg ada dalam film ini sebetulnya ndak beda dg yg ada dlm sinetron kita. apalagi produsernya ternyata dhamoo punjabi dan manoj punjabi yg dikenal merupakan ‘mafioso’ persinetronan indonesia. dibayari nonton pun aku ndak sudi, buang2 waktu, enerji cuma utk liat tema sampah, dg pendekatan klise. ini film dibuat krn mumpung momentum popularitas novelnya masih hangat dan belum menguap. ini kan sama saja memindahkan sinetron ke dalam bioskop.

    Bleki : lho jangan sinis gitu dong, produser dan sutradara kan juga pedagang oportunis yg harus jeli melihat peluang bisnis. kan biasa maksain bikin film dg mengekor, numpang larisnya suatu novel?

    Bruno: ya itu sih terpulang kepada publik pembaca dan penonton aja yg akan membeli dan menelan buatan2 para oportunis tsb. tapi kalo aku sih enggak lah yaow. bagiku novel, sinetron, film, sekadar teks dalam bentuk lain. islam adalah teks besar. kadang film sbg teks – apalagi kalo yg bikin pedagang oportunis berlabel sutradara dibawah produser kapitalis – juga bisa mengandung simplifikasi yg malah bisa mendistorsi pemahaman thd teks besar yg coba diwakilinya. belum lagi jika bicara soal pemeran2 film tsb yg umumnya emang dibesarkan oleh kultur sinetron.

    Bleki: tapi yg penting kan film itu skarang lagi jadi buah bibir, jadi ‘box office’, meraih jumlah penonton terbanyak dlm waktu sekian minggu, ditonton pejabat/politisi..

    Bruno: ya itu justru menegaskan bhw akhirnya aspek agama tak lebih sekadar aksesoris dlm industri film kita. alih-alih ingin menawarkan nilai-nilai spiritual tapi akhirnya terperangkap juga dlm mindset yg kapitalistik, dg statistik sbg ukuran, dg angka-angka, market/profit-oriented, target/rating-minded, jumlah penonton, siapa yg nonton, dsb. lebih mementingkan segi kuantitatif diatas segi kualitatif. ini belum masuk ke aspek penokohan, karakterisasi, setting dlm film itu lho..

    Bleki: kok kesannya jadi nda ada yg bener. kayaknya semuanya salah melulu..

    Bruno: ini bukan soal benar atau salah. ini soal membaca ulang dg pespektif yg lain. dg begitu kita bisa dpt pemahaman baru. artinya tiap org boleh dong punya pembacaan yg lain thd suatu gejala. agar kita tdk nelan mentah2, tdk digebyah uyah, tdk di-angka-kan, tdk dihegemoni oleh para pemilik modal, produser film, dsb. dan yg namanya kritik ataupun resistensi adalah suatu yg niscaya dlm pembacaan ulang tsb. ya anggap aja ini sbg narasi kecil yg coba mengcounter narasi pasar, narasi industrial, narasi pop.

    Bleki: trus kalo aspek lainnya dlm film itu piye..

    Bruno: meski katanya ‘bernuansa’ religi dan sebagainya, film ini genrenya masih ikut mainstream yaitu genre pop. problematika dan konflik nya masih klise, asyik dlm ‘dunia’nya sendiri, yaitu berangkat dari/seputar keharuan romantika hubungan cinta pria-wanita, dg segala stereotipe basinya. jadi gak ada yg baru. dari segi penokohan ada semacam narsisme dan ‘eksibisi kesalehan’ pd tokoh utama yg dlm adegan tertentu malah jadi karikatural dan komikal. termasuk tokoh bercadar yg diperankan rianti cartwright yg bak boneka tanpa aura. krn emang bukan disitu karakternya. jika ada yg bilang film ini tidak jauh beda dg film tahun 80an yaitu catatan si boy, sepertinya iya juga sih..
    πŸ™‚

  7. Ada beberapa orang yang nanya ke saya: sudahkah membaca Ayat-Ayat Cinta (AAC)? Saya selalu jawab belum.

    yg pasti sudah jujur mengakui kalo belum baca bukunya apalagi nonton filmnya..malu ah menganalisis kalo belum nonton n baca bukunya (sama aja bicara gombal) *wink*

  8. waa.. rupanya mama olit msh penasaran baca AAC ya.. belom ada yang ngirimi juga?πŸ˜€

    kayaknya musti sekardus tuh kalo mo kirim buku2 bagus, trilogi LP belum baca jg? *filmnya lgi dibikin jg lho*, trus setelah AAC, ada buku kang Abik yg bagus lagi ‘ketika cinta bertasbih 1&2’ *tunggu filmnya ya*πŸ˜€

    trus, buat papa olit pasti ngences2 sm bukunya Langit Kresna Hariadi, novel sejarah ‘Gajah Mada’ ada 5 buku, terus novel misteri harta karun VOC ‘Rahasia Meede’..

    belum lg buku2nya Mohamad Sobary.. dll. dll. dll. buanyak buku bagus.. apa sewa becak aja buat ngirim.πŸ˜€

    hayo bikin list deh, mana yg mau dipesan.. hehe..

  9. e-buku “Ayat-Ayat Cinta” sudah punyaπŸ™‚ thank you ….

    buku “Gajah Mada” karangan LKH sempat lihat di Gramedia pas pulang bbrp bulan lalu; ini memang koleksi yang mesti punya; kapan mau ngirimin? hehe

  10. aku sdh baca thn 2004 lalu, ketika itu ada pameran buku, temanku jaga di grupnya republika, jd aku beli krn temanku .. jaga dan menyarankan..dan nonton filmnya. nonton filmnya dpt tempat duduk depan sendiri, he he, bayangin, hbs temenku maksa nonton hari itu, hujan2 lagi.ya sih terlalu sempurna mungkin jadi tak manusiawi kali ya..,spt james bonn yg khayal. dulu ketemu kang Abik pas diKUdus di KSI , tapi aku malu utk ngobrol, malah aku foto dengan Sutarji presiden penyair.. lepas dari pro kontra, Hanung memang top, aku pernah ketemu dia di YK sebelum dia jadi ternama, waktu itu ia msh sutradara teater di YK. di kawannya DAdi kris kawanku..hidup film Indonesia.. sebelumnya kan banyak dijejali film horor . aku ngeri nontonnya, dan nhggak au nonton, kecuali DRakulanya BRad Pitt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s