Don’t Panic with Mechanics


Pelajaran di tahun kedua kuliah yang paling berkesan bagi saya adalah Statika. Alasannya: pernah tidak lulus (ha ha). Statika pada dasarnya versi canggih dan dalam dari pelajaran mekanika statis SMA. Yah, berhubung waktu SMA malas baca buku pelajaran, kadang bolos, membenci guru fisika (meski penjurusannya fisika juga), maka tidak ada satupun subjek yang nyantol. Statika ini bagian dari Mekanika Teknik, alias MekTek. Sepertinya, hampir 40% kesulitan dengan statika. Entah kenapa. Apakah kurang pintar? Apakah malas membaca buku? Apakah jarang mengerjakan soal-soal? Apakah sering bolos kuliah? Apakah ketika ujian tiba-tiba mules dan keringat dingin? Apakah dosen menggunakan terlalu banyak rumus, ngomongnya canggih dan sulit dimengerti mahasiswa?? Mungkin semuanya. Yang jelas dulu saya tidak mengerti prinsip-prinsip dalam Statika, kebanyakan mata kuliah yang diambil dan sakit pas menjelang ujian akhir (halah alasan thok! ha ha).

Dosen kadang begini: tidak mampu menjelaskan teorema matematika dengan bahasa yang sederhana, yang mudah ditangkap oleh mahasiswa. Ibu itu bilang: Kenapa kamu tidak mengatakan kepada anak itu bahwa kamu sedang ngomongin angka rata-rata (mean value)?!

Fast forward. Akhirnya saya lulus kuliah itu setelah ngulang di tahun ke-3. Tahun ke-4 saya jadi mbantuin dosen untuk kuliah Beban Pesawat. Nah, kuliah ini menggunakan prinsip-prinsip dalam statika dan mekanika teknik juga. Setelah lulus, saya kebagian ngoreksi ujian komprehensif bidang struktur yang soal-soalnya statika dan mektek. Mereka yang beres TA harus lulus ujian komprehensif untuk bisa maju sidang. Saat itu juga saya mbantuin dosen buat ngasih responsi statika. Lumayan jadi makin ngerti. Apalagi, kadang ada teman -teman yang minta ajarin Statika. Jadi tambah mancep. Intinya: ngerti prinsipnya dulu (dengan matematika yang sederhana), prosedur pengerjaan, kemudian berlatih mengerjakan soal.

Dulu, sepertinya, bahasa yang dipakai dosen terlalu canggih, jadi kadang tidak mengerti sama sekali. Jadi, bagi kawan-kawan yang sering menjelaskan di depan mahasiswa, saran saya: hindari penjelasan yang canggih dan gunakan analogi sehari-hari. Ini supaya lawan bicara cepat ngerti dan waktu kita tidak terbuang.

Barusan saya menemukan buku mengenai MekTek, berisi statika, mekanika bahan dan dinamika. Isinya lengkap, tidak terlalu banyak rumus, banyak kartunnya. Buku ini ditulis dua ilmuwan Jerman, Romberg dan Heinrichs. Judulnya menarik: “Don’t Panic with Mechanics”. Bukunya masih fase eksperimental, mereka bilang. Dalam pengantarnya (yang relaks dan lucu), Dr Heinrichs mengatakan bahwa rekannya Dr Romberg adalah seorang yang mudah akrab (sociable), lucu namun pendek. Dr Romberg tak mampu membalas “pujian” itu jadi ia hanya mengatakan bahwa Dr Heinrichs adalah ilmuwan yang membosankan unggul.

Bagi yang berprofesi sebagai dosen, bisa membaca buku ini dan memasukkan kartun-kartunnya ke dalam slide yang dipakai. Bagi mereka yang sedang mengambil kuliah Statika atau MekTek coba baca buku ini. Ada banyak contoh soal di bagian akhir; supaya lebih mancep prinsip-prinsipnya.

Advertisements

Fitna: Alat Verifikasi


Film ini punya satu lagi fungsi: alat verifikasi. Canggih juga Si Wilders. Dia barangkali hanya ingin membuktikan bahwa orang Islam itu identik dengan kekerasan, terutama di developing countries, seperti Indonesia.

Lihat saja di Liputan6: HMI Sumut “…membakar ban, mendobrak gerbang, membakar bendera Belanda, melempari jendela dengan batu …”. Orang Islam marah, marah, marah. Wajarkah? Tidak. Buat apa marah? Kalau marah artinya pancingan Wilders berhasil: inilah wajah Islam yang sebenarnya, terlepas bahwa kemarahan itu adalah hasil dari persepsi diri yang terhina.

Dihina, diolok-olok itu biasa. Kalau dilihat isi film-nya, film ini asli kacangan, suatu cara murahan yang akan ditertawakan oleh umat Islam (bahkan non Islam) di Eropa. Cukup ditertawakan. Tidak usah marah. Kemudian lupakan. Demo boleh, dialog boleh, intinya: meminta pengertian pemerintah Belanda mengenai dampaknya. Kebebasan boleh berlaku di Belanda, tetapi jangan sampai membuat orang lain terhina.

Sebagai muslim, saya tidak merasa terhina dengan film kacangan ini. Jadi ya biasa saja.

Terus bagaimana dengan pandangan non-muslim mengenai film ini, terutama mereka yang hidup di Barat? Barangkali efeknya sama dengan efek 9/11: makin banyak orang mengkaji surah-surah di dalam Quran, dan berbalik memverifikasi “Benarkah Islam identik dengan kekerasan? Apakah banyak orang (bahkan kalangan muslim sendiri) salah interpretasi?”

Kayaknya lebih sakit hati ketika membaca Satanic Verses dulu …alasannya: karena selalu menghubung-hubungkan tokoh Mahomet di dalam buku itu dengan Muhammad SAW – kalau paradigmanya diganti, mungkin tidak akan sakit hati.