AAN


Clementi – 2003

Sebelum ke Singapura tanggal 19 Juli 2003, saya kenalan dengan seorang kawan (baru) lewat email. Sebut saja inisialnya AAN. Dia katanya baru pulang dari mondok di Australia, dan mampir ke Singapura, tepatnya di padepokan NUS, untuk studi Master yang ke-2 (master²). Ketika itu kami mencari kos-kosan bersama dekat kampus (sebenarnya yang nyariin dia sih, karena dia sudah di Singapura duluan). Saya lagi di Bandung, dan sibuk mindahin barang-barang dari kos-kosan di Cisitu ke rumah kakak & pacar di Jakarta. Akhirnya, dengan bantuan housing agent, yang namanya masih kami ingat yaitu Tan Man Lee, kami diantar ke Blok 335 di Clementi. Di sana, kami viewing rumah baru.

Kami memutuskan untuk menyewa master bedroom yang ada kamar mandi dalam. Rumahnya ada di lantai 6; dan lift hanya berhenti di lantai 1, 6 dan 11. Jadi, kami lumayan beruntung tidak perlu naik turun tangga. Flat ini estate lama; lokasinya dekat dengan MRT station Clementi (6 menit jalan kaki), jendela belakang terhalang pohon jadi agak sungup, dan ada seorang lelaki yang tidur di kamar lain, pacar pemilik rumah, namanya Bob (meski aslinya bernama Arab, yaitu Arba’a). Ada dua tempat tidur di kamar itu, ada 1 lemari pakaian, 1 meja belajar. Satu tempat tidur yang saya gunakan hanyalah matras setebal (awalnya) 15 cm. Tapi setelah 6 bulan, bagian tengah matras jadi 5 cm; jadi punggung agak dingin ketika malam tiba.

Malam hari sepulang dari kampus, kami biasanya nonton TV, ngobrol, minum coke atau kopi, ngrokok Gudang Garam. Dia sebenarnya bukan perokok; tapi karena saya rajin membeli GG di Clementi, maka dia ikutan ngrokok (di Jember ini disebut perokok pasif – artinya “njaluk rokok” hehe). Kini GG yang Internasional tidak ada lagi di Singapura; dilarang beredar sejak 2004. Extinct. Di depan rokok, TV dan kadang gitar, kami ngobrol soal macam-macam, terutama soal budaya, agama, politik, kehidupan dan topik favoritnya, “Australia”.

Pasir Panjang – 2004

Setelah 6 bulan di sana, kami pindah ke sebuah landed house di Pasir Panjang, namanya The Village. Di sana kami tinggal sekamar lagi. Tapi kali ini sekamar diisi 3 orang. Seorang lagi adalah anak Lumajang (alumni ITB) yang kuliah di NUS juga. Jadilah, tiga bujangan di pinggir galangan kapal, West Coast. Tiap malam, seperti ritual sebelumnya, kami mengadakan “meeting”. Meeting adalah ngobrol di beranda depan, dekat kolam renang, sambil ngopi, ngrokok dan main gitar. Obrolannya lebih bervariasi, tergantung partisipan dan ada beberapa housemate cewek yang ikut nimbrung.

Setelah 6 bulan, AAN pulang ke Bandung untuk kembali mengajar di almamaternya, UIN Bandung. Dia yang asli kuningan ini adalah dosen muda yang lebih banyak menghabiskan waktu belajar daripada mengajar. Ya gimana mau ngajar, kan selalu di LN untuk menuntut ilmu. Tapi dia tidak pernah lepas kontak dengan kawan-kawan dosen di sana. Dia juga bilang banyak adik kelasnya yang nyalip dia gara-gara lama gak balik ke kampus. Tapi tak apa. Jalan hidup kadang memang tak bisa diduga. Dia sendiri tidak punya impian ke LN sebelum lulus dari UIN, begitu katanya. Tapi menjelang lulus, keinginan ke LN itu muncul. Jadilah ia ke Australia sebelum ke Singapura.

Bukit Panjang – 2006 & 2008

AAN kembali ke Singapura tahun 2006. Kali ini ia mengambil PhD di bidang politik. Dan, ia membawa serta keluarganya. Dia menyewa flat di Bukit Panjang, beberapa blok dari tempat saya menyewa kamar. Setelah 1-1.5 tahun mereka sekeluarga pulang ke Kuningan. Setelah field work dan cuti hingga 9 bulan, ia kembali ke Singapura. Kebetulan akhirnya saya menyewa flat sendiri di Bukit Panjang, maka ia tinggal sebentar di sini. Setelah 7 bulan, ia pulang kampung ke Kuningan pagi tadi pukul 5.30. Ia tinggal menulis conclusion saja untuk thesisnya.

Remarks

Seperti halnya Gus Dur, Ulil, mereka yang dididik secara tradisional di pesantren kemudian terekspos risalah ilmiah dari Barat, biasanya memiliki pemikiran agama yang progresif, tidak jumud, fleksibel dan liberal. Demikian juga AAN. Maka, berdiskusi dengannya mengenai Islam progresif selalu membuahkan pandangan atau pengetahuan baru.

Saya sendiri tidak pernah dididik di pesantren. Dan, dulu agak ngeri kalau diancam akan dimasukkan pesantren waktu kecil. Tapi di pertengahan kuliah di Bandung, saya membaca banyak sekali buku-buku pemikiran Barat yang mudah didapat di toko-toko kecil dekat kampus. Buku-buku ini tentu saja tidak berguna untuk kuliah saya. Dan, saya sendiri selalu bingung kalau ditanya kenapa membaca buku-buku seperti itu (seperti Fyodor Dostoevsky, Gogol, Sartre, Foucoult, Nietzsche, Marx, Arkoun, Fazlurrahman, Hassan Hanafi, Geertz, Anne-Marie Schimmel, M Iqbal dll). Tidak ada tujuan kecuali ingin tahu ranah lain di bumi ini. Mereka tentu tidak berbicara non-sense, itu saja yang saya percaya. Kalau non-sense, kenapa buku-buku itu dibahas di universitas besar di dunia? Jadi, agak eklektik dan self-enrichment.

Belakangan, terasa sekali manfaatnya. Tanpa membaca buku-buku itu, barangkali saya tidak bisa nyambung dengan AAN. Buku-buku itu secara tidak langsung memberikan hal-hal berikut: (1) kecenderungan untuk terbuka kepada pemikiran baru; (2) memahami dengan lebih cepat fenomena yang non-mekanistik; (3) memahami mengapa komunitas bertindak ini itu; (4) kesempatan untuk menguji metode ilmiah di bidang sains ke bidang sosial; (5) lebih bisa masuk ke banyak kalangan yang non-teknik karena ada hal yang diobrolkan.

AAN dulunya studi hadits, lalu berekspansi ke jalur pemikiran politik dan Islam liberal. AAN adalah seseorang yang produktif dalam dunia jurnalistik. Tulisannya menghiasi koran-koran di Indonesia dan Singapura; dan lewat kenalan dia ini, saya bisa memasukkan artikel di koran Singapura. AAN Ia juga menunggu satu bukunya diterbitkan di Thailand, dan ini mengenai Islam. juga orang yang sederhana dan tidak ambisius. Ambisinya hanya dituangkan lewat jalur akademis dan pemikiran saja; meski ada juga profesor yang mengatakan tulisannya konservatif. AAN sangat ingin kembali ke Australia, entah untuk belajar lagi atau mengajar. Negeri ini sangat berkesan baginya. AAN sedang menantikan anak keduanya (yang katanya Made in Singapore – hehe and born elsewhere, probably). AAN adalah orang yang sering dipermudah jalannya oleh Tuhan meski dihadapkan pada berbagai masalah pelik.

Selamat jalan kawan … keep on writing.

One thought on “AAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s