Pesawat Terbang


Umumnya, orang mengenal pesawat sebagai “burung besi” yang mampu terbang 10000 meter di atas permukaan laut, mengangkut ratusan penumpang, mampu menjelajahi beberapa benua dalam sehari dan dibangun menggunakan teknologi canggih. Lebih jauh lagi, pesawat udara adalah hasil kompromi dari pelbagai ilmu pengetahuan yang tiada henti. Ilmu yang digunakan untuk membangun pesawat adalah aerodinamika, struktur ringan dan bahan (lightweight structures & materials), panduan terbang (flight guidance), kendali terbang (flight control), sistem transportasi, sistem avionik, sistem propulsi, manufaktur, manajemen, keuangan hingga pemasaran.

Mendesain pesawat

Seorang pakar aerodinamika menginginkan pesawat dengan gaya hambat (drag) minimum dan gaya angkat (lift) besar. Pakar struktur menginginkan pesawat yang ringan, namun kuat dan tahan terhadap berbagai macam pembebanan. Pakar sistem avionik menginginkan pesawat yang memiliki instrumen lengkap dan menyediakan status terbang secara waktu nyata (real-time). Pakar transportasi udara berusaha mengoptimalkan penggunaan seat pesawat dan menentukan strategi pemasaran. Pakar kendali terbang menginginkan pesawat yang lincah (agile) namun stabil dan mudah dikendalikan. Pakar sistem propulsi menginginkan pesawat yang punya efisiensi mesin tinggi, hemat bahan bakar dan mampu memberikan gaya dorong (thrust) dalam jangka waktu lama. Pakar manufaktur menginginkan pesawat yang mudah dibuat namun juga memenuhi kaidah desain yang ditentukan oleh pakar struktur. Masih banyak lagi keinginan pakar lain, dan hal-hal itu akan saling “dibenturkan” dan dioptimalkan guna membuat sebuah pesawat yang diinginkan.

Pesawat Turbo Prop N250 buatan PT Dirgantara Indonesia

Umumnya, mendesain pesawat memerlukan kerja keras lebih dari empat tahun untuk memperoleh desain konseptual (conceptual design) dan desain awal (preliminary design); kemudian ditambah beberapa tahun untuk membuat desain rinci (detailed design), perencanaan proses manufaktur, pengujian (testing) dan sertifikasi dari dinas penerbangan setempat maupun internasional seperti FAA (Federal Aviation Authority). Singkatnya kita memerlukan kurang lebih 10 tahun untuk membuat pesawat udara. Namun, dengan kemajuan teknologi software dan manufaktur, kini proses desain ini jauh lebih cepat beberapa tahun, dan memungkinkan pabrik me-release pesawat dengan lebih cepat ke customer. Kemudian, pesawat akan dapat diterbangkan kurang lebih 30 tahun setelah masa pembuatan. Hal ini dimungkinkan jika proses perawatannya mengikuti petunjuk yang diberikan pabrik pesawat.

Bagaimana pesawat bisa terbang

Pesawat mematuhi hukum Newton untuk prinsip terbangnya. Kemampuan terbang pesawat ditentukan oleh sayap yang memberikan gaya angkat dan engine yang memberikan gaya dorong. Pesawat haruslah ringan sehingga gaya beratnya kecil, dan ini membuat lift menjadi semakin efektif. Untuk ini, seorang engineer biasanya memilih paduan aluminum atau komposit serat karbon. Pesawat juga harus memiliki gaya hambat yang kecil sehingga thrust juga efektif. Untuk ini, seorang engineer membuat profil pesawat agak lancip dan sayapnya setipis mungkin.

Sebelum take off, pesawat harus mencapai kecepatan tertentu sehingga tekanan di bagian bawah sayap lebih tinggi dari atas sayap. Perbedaan tekanan ini dibantu oleh penampang sayap yang dinamakan airfoil. Jika beda tekanan makin besar maka gaya angkat yang ditimbulkan akan cukup untuk mengangkat pesawat. Penjelasan ini didasarkan pada persamaan Bernoulli (fisikawan Switzerland yang hidup pada 1700 – 1782).

Prinsip terbang pesawat yang lebih akurat biasanya dijelaskan lewat ilmu mekanika fluida yang membahas mengenai vortisitas atau aliran yang berputar.

Pesawat udara berbeda dengan pesawat ulang alik (space shuttle). Untuk take off, space shuttle memakai roket booster raksasa untuk melesatkannya ke luar atmosfer, lalu setelah melepaskan roket booster raksasa itu, ia akan mewahana di luar atmosfer dengan tiga roket kecilnya.

Kecelakaan pesawat

Hal yang paling banyak disorot akhir-akhir ini adalah kecelakaan pesawat. Kecelakaan pesawat adalah hal yang kritis mengingat jumlah survivor-nya sangat kecil dibanding kecelakaan moda transportasi lain, seperti kereta api, mobil, sepeda motor atau bus. Namun frekuensi kecelakaan pesawat sangatlah kecil dibanding kecelakaan transportasi lain itu. Data tahun 2000an menunjukkan bahwa kecelakaan pesawat disebabkan oleh kesalahan pilot yang berhubungan dengan kemampuan pilot itu sendiri, cuaca dan kegagalan mekanik pesawat (total 52%); kegagalan mekanik (25%), kesalahan lain manusia (9%), cuaca (8%) dan sabotase (6%). Kecelakan pesawat dapat dihindari dengan melatih pilot supaya lebih desicive, bijak dan secara teknik mumpuni; disiplin melakukan proses perawatan (maintenance) dengan kualitas baik; menentukan rute penerbangan yang aman; teliti dalam melakukan review desain struktur pesawat dan lainnya.

6 thoughts on “Pesawat Terbang

  1. sumber daya manusia untuk dunia penerbangan di indonesia sebenarnya sudah cukup untuk memajukan industri penerbangan di indonesia, sayang manajemen perekonomian dan dukungan negara yang kurang mendukung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s