Fitna: Alat Verifikasi


Film ini punya satu lagi fungsi: alat verifikasi. Canggih juga Si Wilders. Dia barangkali hanya ingin membuktikan bahwa orang Islam itu identik dengan kekerasan, terutama di developing countries, seperti Indonesia.

Lihat saja di Liputan6: HMI Sumut “…membakar ban, mendobrak gerbang, membakar bendera Belanda, melempari jendela dengan batu …”. Orang Islam marah, marah, marah. Wajarkah? Tidak. Buat apa marah? Kalau marah artinya pancingan Wilders berhasil: inilah wajah Islam yang sebenarnya, terlepas bahwa kemarahan itu adalah hasil dari persepsi diri yang terhina.

Dihina, diolok-olok itu biasa. Kalau dilihat isi film-nya, film ini asli kacangan, suatu cara murahan yang akan ditertawakan oleh umat Islam (bahkan non Islam) di Eropa. Cukup ditertawakan. Tidak usah marah. Kemudian lupakan. Demo boleh, dialog boleh, intinya: meminta pengertian pemerintah Belanda mengenai dampaknya. Kebebasan boleh berlaku di Belanda, tetapi jangan sampai membuat orang lain terhina.

Sebagai muslim, saya tidak merasa terhina dengan film kacangan ini. Jadi ya biasa saja.

Terus bagaimana dengan pandangan non-muslim mengenai film ini, terutama mereka yang hidup di Barat? Barangkali efeknya sama dengan efek 9/11: makin banyak orang mengkaji surah-surah di dalam Quran, dan berbalik memverifikasi “Benarkah Islam identik dengan kekerasan? Apakah banyak orang (bahkan kalangan muslim sendiri) salah interpretasi?”

Kayaknya lebih sakit hati ketika membaca Satanic Verses dulu …alasannya: karena selalu menghubung-hubungkan tokoh Mahomet di dalam buku itu dengan Muhammad SAW – kalau paradigmanya diganti, mungkin tidak akan sakit hati.

Fitna, A380 dan Pak OD


Banyak hal yang terjadi belakangan ini.

1. Fitna

Sejak film pendek “Fitna” dirilis oleh Geert Wilders (politikus sayap kanan Belanda) minggu lalu, orang jadi berpikir beginikah wajah Islam dalam persepsi Barat (atau lebih khususnya Belanda)? Setelah saya tonton, film ini mirip film eksperimen. Film indi. Tidak untuk dipertarungkan di Cannes atau di Toronto, tidak untuk dikritisi pengamat film, tapi untuk menimbulkan reaksi. Di sana ada sitiran lima surah Quran, ada aksi pengeboman, ada aksi ceramah yang “membakar”, dan lainnya. Reaksinya bisa bermacam-macam: ada yang marah, kemudian ramai-ramai membela Islam; ada yang tenang-tenang aja dan mengatakan ini persepsi Wilders, bukan persepsi barat tentang Islam; ada yang bengong “Hah, film apaan tuh? Baru?”. Macem-macemlah.

Saya kemudian menanyakan di milis alumni (yang sebagian anggotanya pernah bermukim bertahun-tahun di Belanda): apakah benar ini merepresentasikan orang Belanda? Berikut tanggapan beberapa rekan:

Menurut saya orang-orang seperti Geert Wilders itu ada saja, tapi sekali lagi dia hanya segelintir orang orang extrim kanan. Dalam perpolitikan Belanda, mereka juga cuma mengantongi suara yang sedikit. Cuma nggak usah disikapi terlalu serius. Zaman tahun 80-an saja sudah ada televisi di Belanda yang mengolok olok Paus, sama seperti siaran TV Republik Mimpi di sini mengolok olok Presiden/Wapres. (SP, hidup di Belanda 83 – 90)

Saya tinggal di sana untuk yg kedua kalinya, 1989 s/d 1993. Pada masa itu, saya mendirikan perguruan Satria Nusantara, anggotanya lebih banyak bulenya daripada yg Indonesia, sekitar 500 orang. Interaksi yg intens dg masyarakat bule itu memberikan gambaran bahwa mereka tidak anti islam dan tidak anti orang islam. Namun, tetap saja ada orang yg sudah terbentuk menjadi perilakunya memusuhi apa yg tidak sama dengan dirinya. Seperti di sini juga ada saja orang yg ingin menghapus Borobudur, dan mengancam Gereja. Saya fikir, kita tidak perlu mengikuti seruan Mahathir untuk
memboikot produk Belanda, sebab Pemerintah Belanda sudah dalam situasi sulit menghadapi sebagian warganya yg usil. (DS, hidup di Belanda 83-84 dan 89 – 93)

2. A380

Lewat British Aerospace, PT Dirgantara Indonesia dipercaya memproduksi bagian penting sayap A380, yaitu bagian inboard outer fixed leading edge. Bagian ini memberikan kekakuan yang diinginkan di bagian inner wing, sekaligus memberikan bentuk bagi bagian primer sayap. Kontraknya dimulai dari 2002 hingga 2012. Tapi masih bisa berlanjut lagi jika produksi A380 makin pesat dan BAe masih percaya dengan PTDI.

69.jpg

3. Pak OD

“Pak Diran diwawancarai TEMPO,” kata seorang kawan. Dia lalu men-scan halamannya, dan saya share di sini. Siapakah dia? Guyonannya: tiap kali ada orang naik pesawat lalu kecelakaan, pasti muncul nama beliau. Dulunya dia dosen penerbangan ITB, lalu jadi penasihat di IPTN, lalu ketua komisi nasional kecelakaan transportasi. Gampangnya: penyelidik kecelakaan pesawat. Dia mengajar bidang desain pesawat di ITB. CN235 lahir dari tangan beliau.

Download di sini wawancaranya: Wawancara Pak OD

https://ari3f.wordpress.com