Hari Lingkungan Sedunia


Hari Lingkungan Sedunia (World Environment Day – WED) dipelopori pertama kali oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1972. Program inilah yang melahirkan UNEP (United Nations Environment Programme). WED diperingati setiap tanggal 5 Juni di kota yang berbeda setiap tahunnya. Tujuannya agar setiap penduduk bumi lebih memperhatikan masalah lingkungan.

Slogan WED berubah setiap tahun. Tahun ini slogannya berbunyi: “Karbondioksida, Hilangkan kebiasaan! Menuju Ekonomi Karbon Rendah” (O2, Kick the Habit! Towards a Low Carbon Economy). Perayaannya diadakan di Selandia Baru. UNEP memberikan kehormatan ini kepada kota Wellington untuk menjadi pemandu Hari Lingkungan Sedunia 2008.

Kebijakan Ekonomi Karbon Rendah (Low-carbon economy atau LCE) mengharapkan setiap negara, perusahaan dan komunitas memfokuskan diri pada emisi gas ‘rumah kaca’ (greenhouse gases), utamanya karbondioksida, dan pelbagai upaya untuk menguranginya. Beberapa upaya yang bisa ditempuh adalah dengan penghematan energi, eksplorasi dan penggunaan energi yang dapat diperbarui (renewable energy), konservasi hutan dan konsumsi ramah-lingkungan (eco-friendly). LCE mengintegrasikan aspek-aspek teknologi dalam metode manufaktur, pertanian, transportasi dan penyediaan listrik.

Menurut Kyoto Protocol, sebuah pakta yang disetujui tahun 1997 oleh pelbagai negara maju untuk membatasi jumlah perdagangan gas-gas rumah kaca, ada 6 gas yang perlu diperhatikan: uap air, karbondioksida (CO2), methane, nitrous dioksida, ozon (O3) dan CFC (chloro fluoro carbon). Efek terkuat disebabkan oleh uap air, kemudian disusul oleh karbondioksida, methane dan ozon. Karena uap air ini sulit dikontrol (sebagian besar dikendalikan oleh faktor alam atau cuaca), maka gas kedua yang bisa dikontrol adalah karbondioksida.

Di samping efeknya, jumlah karbondioksida di atmosfer cukup besar, yaitu sekitar 85% dari total gas rumah kaca. Karbondioksida dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil (fossil fuel), seperti minyak untuk kendaraan bermotor, pembakaran tumbuhan, gunung meletus dan proses geotermal lainnya. Sebenarnya, manusia, tumbuhan, binatang dan mikroorganisme juga menghasilkan karbondioksida ketika bernafas, tetapi jumlahnya sangat kecil. Secara alami, karbondioksida ini dimanfaatkan oleh tumbuhan ketika berfotosintesis untuk memproduksi oksigen dan gula. Di bidang teknologi, karbondioksida dimanfaatkan oleh industri makanan (misal: membuat minuman soda), industri minyak (misal: pressurizing agent untuk memperlancar keluarnya aliran minyak), industri kimia (misal: urea, karbonat dan sodium salisilat), teknologi laser (laser karbondioksida). Karbondioksida dalam bentuk cair dan padat bermanfaat sebagai zat pendingin (refrigerant) untuk mengawetkan makanan.

Akumulasi dari karbondioksida di angkasa menyebabkan atmosfer makin panas.

Ramai orang mengenalnya dengan istilah ‘pemanasan global’ (global warming). Pemanasan global merujuk pada peningkatan temperatur yang disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di dalam atmosfer. Ketika energi panas matahari masuk ke bumi, energi ini dipantulkan kembali ke angkasa. Gas-gas rumah kaca yang terlalu tebal menghalangi pantulan energi matahari ini. Akibatnya, energi panas terperangkap di dalam atmosfer bumi, dan bumi menjadi panas.

Indikasi dari pemanasan global adalah musim dingin jadi lebih hangat, wilayah pantai menyempit karena tergeser air pasang, menurunnya curah hujan di daerah kering, banjir di daerah yang bercurah hujan tinggi, hilangnya habitat makhluk hidup dan beberapa spesies binatang punah, meningkatnya intensitas bencana alam yang berhubungan dengan cuaca, seperti taufan, dan menurunnya produktivitas pertanian.

Dari hasil survey tahun 2003 yang melibatkan 77 ahli lingkungan di Inggris, beberapa langkah dan metode bisa ditempuh untuk mengurangi emisi karbondioksida, yang pada gilirannya dapat mendukung Ekonomi Karbon Rendah, adalah:

§ Peningkatan teknologi (46%)

Metode: mobil dan mesinnya didesain lebih efisien, menggunakan mobil berbahan bakar H2 fuel cell, diesel hybrids, petrol hybrids.

§ Pembatasan jumlah kendaraan; menurunkan penggunaan bahan bakar (22%)

Metode: meningkatkan pajak jalan (road pricing), menaikkan harga minyak, membatasi lahan parkir

§ Peningkatan kualitas kendaraan umum (bus, MRT), bersepeda, berjalan kaki (15%)

Metode: menurunkan harga tiket bus & MRT, meningkatkan kualitas pelayanan, meningkatkan kualitas sarana bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda

§ Mengurangi kebutuhan bepergian (10%)

Metode: pelan pemanfaatan lahan (land use planning), kerja jarak jauh (teleworking), belanja lewat internet (internet shopping), konferensi lewat telepon (teleconference)

§ Mengubah persepsi mengenai bepergian (7%)

Metode: individualised marketing, green & school travel plan, information on externalities, travel awareness campaign

Dengan metode-metode di atas, emisi karbon diharapkan bisa menurun dan lingkungan hidup jadi lebih sehat.

*Kolom “Komentar”, Berita Harian, Singapura 5 Juni 2008

One thought on “Hari Lingkungan Sedunia

  1. mas arif,,,

    gimana kabarna? wis suwe gag ketemu,,

    kebijakan yang keliatan standar yo mas, tapi emboh ndek Indonesia koq angel banget,,

    peraturan sering metu tapi mesti gag mlaku,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s