Ngurus Wong Cilik


Bulan Mei – Juni 2008 adalah masa “latihan” menjadi agen (alias makelar) PRT (pekerja rumah tangga atau domestic engineer). Karena sang istri sudah bekerja, maka – mau tidak mau – kami harus membayar seorang babysitter untuk mengurus anak.

Seorang calon PRT dikenalkan kepada kami, dan karena rekomendasi cukup kuat maka saya langsung mengurus tetek bengek dokumen dengan imigrasi, asuransi, depnaker, tempat kursus menjadi majikan (jangan salah … di singapore, menjadi majikan perlu punya sertifikat yang kelulusannya distempel oleh Singapore Polytechnic – ini sertifikat pendidikan istri saya yang pertama di Singapura hehe), agen penerbangan.

Berangkatlah ia dari Yogya ke Batam (via Jakarta). Setibanya di Batam kami langsung membawa ke Singapura. Malang sekali, anak ini ditolak masuk Singapura dan harus kembali ke Batam. Karena sudah malam, maka ia harus tidur di ferry. Setelah memberinya uang tiket ferry untuk kembali ke Batam dan mengontak kawan di Batam, saya berkata “Sori ya, jadi berantakan urusannya. Kamu harus tidur di kapal malam ini. Tapi tenang, saya dulu pernah lebih parah dari ini: terombang-ambing di laut selatan semalaman di kapal kecil.” Dia agak panik, tapi tetap harus tidur di kapal.

Esoknya kawan di Batam sudah menjemputnya. Setelah mengurus asuransi, ia diperkenankan masuk Singapura. Dan, minggu lalu, work permit sudah diurus dan tinggal diambil kartunya minggu ini. Yippi … !

Pesan: karena ingin menghemat $2000 dolar (untuk biaya agen PRT) dan menghindari berbuat dosa terhadap wong cilik (dengan memotong gajinya 8 bulan untuk biaya agen juga ~ $2500) maka saya (plus ezra dan tuti) mengurus sendiri semua paperwork untuk PRT. “Win-win solution” kata kawan di kantor.

Di Singapura, wong cilik juga kena pajak. Tapi untungnya (atau ruginya) dibebankan ke employer atau majikan. Ini dinamakan levy. Citizen hanya perlu membayar $170 untuk ini, sedangkan PR wajib membayar $265. Kok beda? Ya, PR kan foreigner yang diharapkan jadi citizen. Bedanya terletak di “harapan”. Harapan itu ada biayanya. Soalnya yang berharap adalah negara. Seperti filosof Jerman bilang, Friedrich Nietzsche: “Negara” adalah monster yang terdingin hatinya dari semua monster; dan dengan hati dingin pula ia berjusta”.

Siapakah monster? Siapa yang berjusta? Dan siapa yang kalah?

Anyway, si mbak sudah mulai bekerja sejak minggu pertama bulan Juni. Kelebihannya: so far orangnya jujur, rumah selalu rapi, Olit ada yang mengurus ketika kami bekerja, ada yang dimintai tolong kalau kami capek. Kekurangannya: belum pandai masak. Yang terakhir ini perlu dilatih atau berlatih. Untungnya di rumah ada setumpuk buku masakan Indonesia. Jadi, dia bisa membaca, belajar dan bereksperimen.

PRT atau maid atau babysitter atau si mbak ini harus dianggap keluarga sendiri. Tidak ada yang mudah memang, karena ia adalah anggota baru, yang langgam dan etikanya berbeda. Jadi perlu dilatih untuk menyesuaikan diri. Berharap banyak dari seorang yang hanya digaji $300an per bulan ini agak kelewatan. Jadi yang wajar-wajar saja. Dia juga manusia.

Wah, jadi inget pembantu-pembantu lama: Yu Tijah (Probolinggo), Yu Tin (Bondowoso), Mar dan Pak Min (keduanya menikah, hidup di Bondowoso), Yu Sih & Erna (Ibu – anak, hidup di Bondowoso) dan yang terakhir Emak Sari.

Emak Sari – umurnya menjelang 60an. Ikut almarhum nenek waktu di Jember, kemudian hijrah ke Bandung bersama saya dan adik; mengurus sejumlah mahasiswa. Meski darah tinggi, ia suka becanda dengan anak-anak muda. Jadi favoritnya anak-anak Jember waktu di Bandung. Kata kakek: Mak Sari ini rektor ITB; hampir semua anak ITB (asal Jember) kenal dengan Emak ini😀 Kini Emak ada di Jakarta, ikut dengan kakak.

One thought on “Ngurus Wong Cilik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s