Catatan Minggu Ke-27


Di pabrik atau manufacturer, produksi punya marka kuartal atau minggu. Biasanya kami menulis 08WK27, yang artinya tahun 2008, minggu ke-27. Dari model pemantauan mingguan, orang jadi lebih sibuk per minggunya, dan target juga dihitung mingguan.

Bulan lalu (dan awal bulan Juli), otak kurang nyeni, kurang mampu mengolah informasi dan inspirasi dan menciptakan tulisan. Akibatnya, hanya dua artikel yang dimuat di koran – itupun dimuat pada minggu ke-1 bulan Juni saja. Kenapa? Entahlah. Tapi kadang cukup terhibur dengan kata-kata ibu saya waktu dia nginep di rumah bulan lalu:

Nulis itu seni; jangan dipaksa nulis setiap minggu; sak senenge ae [sesuka hati saja]; kan seniman, dudhu [bukan] tukang nulis … Jadi, tidak produktif juga tidak apa-apa.

Tapi, konsekuensi logisnya: pendapatan ekstra tidak ada.

Ada ide saya mesti nulis apa bulan Juli ini?

Penggawean

Bos lagi berlibur (plus kerja) di San Jose bersama keluarganya. Pulang kampung, ceritanya. Semangat agak kendor karena dia adalah salah satu sumber penyemangat dan inspirasi di kantor. Tanpa dia, pleton tak punya komandan; pleton kadang jalan di tempat (meski sibuk juga sehari-hari); pleton kurang ada andil. Apa ini kondisi simulasi ketika ia benar-benar pulang ke US? Sebuah ujian atau cobaan? Entahlah.

Sopir Taxi Liburan ke Jepang

Hari Jumat, karena kurang enak badan, akhirnya pulang naik taxi. Tapi naiknya dari Newton MRT, setelah nunggu bus lama sekali. Sopir taxi ini mau menjemput istrinya di Jurong Point, lalu pulang kembali ke Punggol. Di taxi, ia ngomong ngalor ngidul, tanya ini itu. Akhirnya ia bercerita tentang liburannya ke Jepang. Ia berlibur ke Jepang bersama keluarganya, 2 anak dan istri. Biayanya mahal, ceritanya! 12000 dollar selama 7 hari. 9000 untuk agen travel dan 3000 buat jalan-jalan di sana. Taxi mahal, makanan mahal. Tapi pengalaman memang mahal sih … Dia cuma nyumbang 2000, istrinya yang 10000. Istrinya itu beautician, ahli kecantikan di mall; dan bonusnya 10000 per tahun. Saya bilang: wah lebih besar dari bonus saya itu! Dia njawab: iya, tapi situ punya gaji bulanan lebih gede dari dia punya … Yo berapa sih bedanya? Engineer vs beautician? Pindah jalur? Jari kurang lentik kayaknya …

Reuni Kecil

Reuni dadakan diadakan di Newton Seafood Center (NSC). Ada bekas teman kos di Pasir Panjang dulu, berlibur ke Singapura bersama keluarganya. Mereka tinggal di Balikpapan, karena sang kawan kerja di perusahaan energi. Beberapa teman datang, tanpa tahu berapa no telpon teman dari Balikpapan ini. Jadi, ya cari-carian di sana. Cuma gak lama. Setelah ketemu, kita pesan makanan. Macem-macem. Lumayan kenyang. Bayarnya urunan. Kedai no 74 di NSC itu lumayan enak. Reuni ini lumayan berkesan, karena kawan ini bawa oleh-oleh dari Kalimantan. Setiap orang dapat satu tas berisi krupuk, Tshirt dan kain. Wah jadi gak enak nih, karena gak bawa apa-apa … tapi, sering-sering yak!?😀

Bengawan Solo dan Film

Saya tidak tahu apakah lagu Bengawan Solo pernah jadi soundtrack sebuah film. Tapi Sabtu sore sebelum reunian itu saya pergi ke sebuah galeri di belakang Dhobi Ghaut MRT. Letaknya di Old School, Mount Sophia. Menuju ke tempatnya perlu perjuangan: naik tangga yang tinggi sekali; 30 meter, curam. Akhirnya ketemu Sherman Ong, seorang fotografer dan pembuat film. Dia orang Tionghoa asli Malaysia, tepatnya Malaka. Jadi bahasa keduanya bahasa Melayu. Cuma waktu ngobrol, dia berbahasa Indonesia. Karena pernah tinggal sebulan di Jakarta, kerja dengan orang film di sana. Bagus deh, jadi saya tidak perlu switch bahasa waktu ngobrol. Ceritanya, Sherman pengen memasukkan lagu Bengawan Solo yang saya upload di odeo.com. Lagu itu instrumentalia biasa, agak jazzy dan sederhana sekali. Saya bilang, lagu itu eksperimen belaka; simple dan tidak bisa diulang. Dia bilang gak apa-apa. Malah bagus, karena berkesan minimalis. Dia akan membuat film mengenai “kemarau”. Konsep sudah ada, rencananya mau dibuat di Singapura, memakai bahasa yang ada di Asia Tenggara lalu diperankan orang ASEAN juga. Kami ngobrol 2 jam lebih: asyik sekali, seperti berjumpa dengan teman lama. Dia bicara tentang alm. Syuman Jaya (sutradara, ayah Wong Aksan), artis Indonesia, musik Indonesia, masuknya Islam ke Indonesia, toleransi di Indonesia dan segala tentang Indonesia. Fasih sekali. Malaysia tidak seperti Indonesia: di sana itu orang-orangnya homogen; tapi dia sebulan sekali pulang ke Kuala Lumpur. Kesimpulan akhir dari pertemuan: lagu Bengawan Solo akan dimasukkan ke dalam film. Royalti? Aduh gak enak mau nanya … Btw, ketika itu dia sedang memamerkan karya fotografinya yang berjudul HanoiHaiku, tiga foto dalam satu bingkai mengenai kehidupan urban di Hanoi.

One thought on “Catatan Minggu Ke-27

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s