OD: Menschbild Pak Said


Surat ini ditulis oleh Pak Oetarjo Diran untuk mengenang Pak Said Jenie. Keduanya adalah guru saya.

Pada hari rabu tanggal 9 juli 2008 kami memperoleh kabar dari keluarga pak Said Jenie, bahwa beliau dibawa ke rumah sakit Borromeus karena keluhan sesak nafas. Hari kamis esoknya, tanggal 10 juli, kami diberi kabar tentang keadaan pak Said melalui sms hampir secara kontinu tentang keadaan beliau, sehingga kami menjelang senja memutuskan untuk pergi ke Bandung. Rencana ini tidak terlaksana karena tidak ada pengemudi yang dapat kami temukan untuk mengantar ibu dan saya berangkat malam hari ke Bandung.

Hari jumat pagi, 0800, kami dikejutkan dengan berita per telpon dari ICU Borromeus bahwa pak Said sudah meninggal, 0748. Kami sangat beruntung mendapatkan pengemudi dan ibu dan saya berangkat jam 0900 ke Bandung dan karena kemacatan di jalan baru sampai jam 1200 di Aula Barat.

Seperti dapat dibaca dari tulisan pak Rudy Setyopurnomo, acara pelepasan kepergian pak Said berlangsung dengan khidmat dan mengharukan.

Beliau adalah seorang ilmuwan, pendidik dan pejabat. Masyarakat kalangan ilmu dan pendidikan pun melakukan penghormatan terakhir (masyarakat ITB, BPPT, dsb), sebagai pejabat (masyarakat BPPT, PTDI), dan tentunya secara pribadi kawan, kolega dan mahasiswa).

Saya kenal pak Said selama hampir tiga puluh tahun, bermula ketika pada awal tahun 1973, sekembalinya saya dari berkelana di negeri orang, saya didatangi seorang mahasiswa di kantor. Mahasiswa yang belum saya kenal ini menyatakan ingin mengambil tugas akhir pada saya, khususnya dalam pendekatan matematik ilmu gerakan gas, udara dan fluida. Secara kebetulan saya sedang tertarik pada komputer dan komputerisasi penyelesaian numerik masalah fisik melalui penggunaan komputer. Saya usulkan pak Said merancang program komputer menghitung gaya-gaya aerodinamik karena aliran gas, udara dan atau fluida melalui benda tak tentu bentuk (saya katakan, aliran udara melalui benda berbentuk kentang). Pak Said tertarik dan menyanggupi. Beberapa bulan kemudian datang dengan program embrionikal finite element methods untuk benda yang masih sederhana namun fundamental (dua dimensi, lingkaran). Pak Said hanya datang karena komputer di ITB tidak memungkinkan perhitungan-perhitungan kompleks yang memerlukan waktu berjam-jam untuk penyelesaiannya. Saya bantu dengan menelpon pimpinan IBM dan minta penggunaan tanpa biaya komputer IBM yang di Jakarta. Pimpinan perusahaan IBM menyetujui, dan pak Said mulai melakukan komputasi-komputasi dengan program komputer ciptaannya. Pak Said lulus tidak lama kemudian, dan saya minta apakah mau jadi dosen. Pak Said menyetujuinya. Namun, dengan satu permohonan dapat melanjutkan studi, karena merasa belum memiliki ilmu untuk menjadi dosen dan peneliti.

Saya berhasil mengirim pak Said ke Nederland, Delft University of Technology, menitipkan pak Said pada beberapa kolega guru besar Delft, untuk memperdalam ilmu komputasi masalah aerodinamika. Beberapa bulan kemudian saya menerima surat dari pak Said, mohon maaf namun ingin beralih ke bidang aviation flight control systems. Bidang ini memang belum tertekuni di ITB, dan beliau ini ingin meneruskan studi di Delft dalam bidang flight control systems.

Perubahan arah ini ternyata sangat bermanfaat bagi perkembangan industri pesawat terbang. Ketika pada akhir tahun tujuhpuluhan saya memerlukan flight test experts and professionals, pak Said lah satu-satunya yang dapat dipercayai pengembangan program sertifikasi pesawat CN235.

Pada akhir studi pak Said di Nederland, kembali saya mendapat surat, menyatakan sudah berhasil, namun masih ingin studi dan pengembangan lanjut dalam bidang baru yang ditekuninya. Bila mungkin ke MIT. Saya izinkan pak Said untuk tidak langsung pulang ke tanah air dan saya kembali mengupayakan pendanaan studi lanjut ini, melalui proyek-proyek LAPI yang ada di teknik penerbangan.

Pak Said melanjutkan studi S3 di Aeronautics & Astronautics di Massachussets Institute of Technology, Cambridge, USA. Thesis: Dynamics and Analysis of Large Flexible Space Structures using Generalized Multiple Scales Method (1982).

Pada saat-saat penyelesaian doctoral thesis, pak Said memerlukan biaya hidup untuk beberapa bulan mempersiapkan sidang tugas thesis. Karena keuangan proyek-proyek kebetulan tidak memadai, saya minta bantuan pak Habibie, dengan persyaratan ITB menyanggupi mengizinkan dan menjanjikan pak Said untuk membantu program perancangan dan pengembangan CN235.

Ini adalah sekedar menschbild pak Said seorang pendidik, peneliti dan ilmuwan, dengan sifat karakteristik tekun, terfokus, termotivasi, dengan total commitment terhadap pendidikan, penelitian dan ilmu.

Sebagai panutan bagi generasi-generasi untuk secara konstruktif melakukan penyelesaian tantangan-tantangan pendidikan, penelitian dan ilmu. Secara pribadi, maupun sebagai anggota masyarakat.

Pak Said saya juga kenal sebagai seorang suami dan ayah, dan devotion beliau pada keluarganya. Teringat kembali saya diminta beliau menjadi saksi pada pernikahannya dengan Ibu Yayah.

Selamat jalan pak Said.

O. Diran

Said D. Jenie (kiri) dan Oetarjo Diran (kanan) pada acara rapat Ikatan Alumni Penerbangan

Link terkait:

2 thoughts on “OD: Menschbild Pak Said

  1. Pingback: In Memoriam, Prof. Said Djauharsjah Jenie, ScD, Ir « Wlognya @monadi

  2. Pingback: In Memoriam, Prof. Said Djauharsjah Jenie, ScD, Ir :: blog@tmonadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s