Natalitas


Natalitas (angka kelahiran) barangkali punya properti seperti uang dan kekuasaan: ia bermuka dua. Natalitas yang progresif adalah impian negeri yang paceklik bayi; sedangkan, natalitas yang teredam adalah impian negeri yang masif. Singapura adalah yang pertama, sedangkan Indonesia, India, Bangladesh dan Cina adalah yang kedua.

Resep yang ditawarkan pemerintah Singapura, seperti memperpanjang paternity leave (cuti suami untuk menemani istri melahirkan), memberikan baby bonus (khusus warga negara saja; bukan warga tetap), memperpanjang cuti hamil (bagi warga negara) sepertinya kurang efektif. Resep itu tak cukup ampuh memotivasi orang untuk berprokreasi, membentuk keluarga, melupakan “Stop at Two” (sebuah slogan tahun 70an yang dicanangkan pemerintah Singapura untuk meredam ledakan penduduk). Apa yang kurang?

Agaknya, sebuah negeri kecil biasanya punya dilematis. Satu sisi, ia ingin meningkatkan taraf hidup dengan meredam jumlah penduduk, tapi di sisi lain, ia memerlukan penduduk yang “cukup” untuk membuat pertumbuhan ekonomi meningkat. Ketika taraf hidup (dan harapan hidup, tentunya) meningkat sebagai hasil peredaman jumlah penduduk, orang jadi berpaling ke ekonomi dan kemapanan hidup; tak banyak menghabiskan waktu di kehidupan sosial. Ketika kehidupan dan keakraban sosial menurun, turun pula probabilitas perjumpaan antara lelaki dan perempuan. Menurunnya aspek sosial ini, membuat “kehidupan” keluarga yang mudah-menular itu hampir nihil. Orang mengejar materi baik di dalam negeri maupun dengan bermigrasi ke luar.

Hal di atas berada di domain yang terlampau luas barangkali. Coba kita kecilkan: mengapa orang tidak enggan menikah dan punya anak?

[1] Yang pertama dulu: mengapa orang enggan menikah? Mudah saja: tidak mencari jodoh, terlalu hati-hati mencari jodoh, punya stigma bahwa salah satu gender itu materialistik atau agak susah dipahami, tidak punya waktu untuk berkencan, biaya hidup tinggi setelah menikah, kerap kali melihat bahwa kehidupan rumah tangga itu ruwet.

[2] Lalu, mengapa orang menikah: sudah punya pacar – lalu dipengaruhi keluarga/kawan untuk segera menikah, percaya bahwa pernikahan akan membawa rejekinya sendiri, karena menjalankan perintah agama, karena melihat orang lain sungguh berbahagia dengan menikah, diatur keluarganya (seperti 70% penduduk India hari ini), dapat baby bonus, dapat paternity leave dan lainnya. Atau ada yang lebih geblek: karena MBA – married by accident (MBlendung Awal-awal – alias hamil duluan).

[3] Mengapa orang yang sudah menikah tidak ingin punya anak? Wah, ini agak aneh, menurut saya. Masa, habis menikah tidak mau punya anak? Bukannya itu sepaket? Tapi ada yang bilang: “Karir dulu lah!” Artinya, cari duit dulu buat nanti membiayai anak. Hmm, masuk akal. Tapi jika kelamaan dan pasang alat KB sana-sini, akhirnya susah punya anak (atau alasan yang agak menghibur: “belum diberi Tuhan” – yah, Tuhan lagi deh dibawa-bawa). Atau, memang benar-benar tidak diberi anak. Jalan keluarnya barangkali ya adopsi anak.

Ada seorang kawan yang menikah, lalu berkata: saya tidak ingin punya anak karena punya anak itu merepotkan sekali, bising dan susah diatur. Saya lalu bilang: bukannya kamu dulu begitu waktu kecil? Kenapa kamu tidak tanya sama orangtuamu kenapa mereka punya kamu? Dia diam. Ya anak memang kadang bising, dan susah diatur. Ini tes kesabaran bagi orangtua (saya sendiri sering tidak lulus lho hahaha). Tapi solusinya tetap sama: lebih sabar dong … “Anak bukan punya kita, ia titipan”. Ini esensinya. Kalau ia titipan atau amanat, kita mesti menjaganya baik-baik. Titipan siapa? Ya titipan Tuhan. Lho, kalau orangnya tidak bertuhan alias ateis? Ya gunakan kebebasan berpikir untuk menciptakan tuhan sendiri di dalam pikiran lalu berpikir bahwa anak itu titipan “tuhan dalam pikiran” (atau Mind-made God – ini harus dipatenkan! hehe).

Setelah mikir-mikir tentang Singapura yang natalitasnya rendah, entah apa efeknya jika hal-hal berikut ini terjadi:

  • Wajib militer untuk anak laki-laki diperpendek jadi 6 bulan, atau ditiadakan sekalian! (lho, lalu siapa yang jaga Singapura? Indonesia lah … hehe atau sewa professional military troops; sepertinya masalah hankam ini agak susah dipahami)
  • Gaji orang yang menikah dilipatgandakan! Wah, langsung banyak yang kawin kayaknya…
  • Orang yang menikah lalu punya anak: sekolah anak gratis sampai mahasiswa
  • Terapkan: Married-at-30 policy (kalau gak married, out! – banyak yang milih out kayaynya hehehe)
  • Ada ide gila lain?

2 thoughts on “Natalitas

  1. Menarik… selain “rangsangan” lain yang diberikan pemerintah Singapura untuk siasati re-generasi ada lagi?
    Baby bonus? sejenis apa?

    Copas artikel. padat, singkat, mengena. Keep posting!

    • Thanks ya🙂 Mungkin ada, tapi saya kurang tahu, dan mungkin juga kurang efektif. “Baby bonus” ini uang untuk mengganti ongkos melahirkan. Besarnya mungkin sekitar SGD3000 (Rp 20+ juta), dibayar sebulan setelah melahirkan. Di Jepang, ada juga baby bonus, besarnya 500,000 yen (Rp 50 juta).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s