Dekapitasi


Imam Samudra, Ali Ghufron (alias Mukhlas) dan smiling bomber, Amrozi, akan dipidana mati segera. Yang menarik, mereka meminta dipancung dan disiarkan secara luas di media. Dekapitasi, atau pancung ini, menurut mereka sesuai dengan ajaran Islam. Di dalam Quran? Entahlah. Tapi Ahmad Taufik dalam opininya di TEMPO Interaktif menyebut ini lucu. Alasannya ini: jika mau dihukum pancung, seharusnya mereka melakukan perbuatan itu di Arab Saudi, atau di tempat-tempat yang memberlakukan hukum pancung atas kejahatan seperti itu.

Islami = Arab Saudi? Minta dipancung untuk orang yang didakwa mati = lucu?

Saya rasa tidak ada yang lucu untuk kasus ini. Bahkan sejak awal pengeboman itu terjadi di Bali 12 Oktober 2002, dunia tidak tertawa. Lima tahun kemudian, ketika tiga serangkai itu akan dihukum mati, dunia tidak tertawa, tapi barangkali puas dengan mati-dibalas-mati.

Barangkali sudah kuno untuk menyatakan bahwa yang Islami itu yang Arab Saudi. Hari ini, Islam sudah bertransformasi dalam bentuk yang belum tentu Arab, belum tentu bergamis dan jilbab, belum tentu berbahasa Arab, belum tentu dipimpin raja, dan bahkan, Islam sendiri merupakan keseharian yang (saking keterlaluannya) jadi komoditi politik dan perbankan. Islam masa kini memang unik, jika dibandingkan abad ke-7 di Arab atau jaman Renaissance abad-12. Pemeluknya pun beragam, dari yang ortodoks hingga yang liberal. Jadi model berdoanya pun juga beragam. Doa, atau harapan, ini jadi lebih unik menjelang mati. Proses matipun, bila boleh, kita sendiri yang menentukan. Di sini ada esensi kebebasan dalam menuju mati.

Dengar-dengar (pas jaman kuliah), hukuman mati paling cepat adalah dengan cara dipancung. Orang hanya perlu kurang dari 5 detik untuk tak sadar, atau barangkali instan. Tidak ada yang tahu kecepatannya. Dokter hanya tahu gejala dari raut muka yang dipancung. Seperti halnya, Dokter Beaurieux yang meneliti proses kematian Henri Languille ketika Languille dipancung di Perancis tahun 1905:

… kelopak mata dan bibir orang yang dipancung berkontraksi dengan ritme yang berubah-ubah dalam waktu 5 – 6 detik. Hal ini juga dibenarkan oleh mereka yang pernah meneliti kematian hasil pancung, ketika kepala terlepas dari badan.

Saya menunggu beberapa detik. Gerakan spasmodik berhenti. Lalu saya berteriak lantang memanggil namanya: “Languille!”. Saya melihat kelopaknya terangkat, tanpa kontraksi spasmodik, dengan normal, seperti juga yang dialami oleh orang bangun tidur atau lepas dari lamunan.

Mata Languille menatap tajam ke dalam mataku dan pupilnya terfokus…Setelah beberapa detik, kelopaknya tertutup lagi.

Kemudian, saya berteriak memanggilnya lagi. Perlahan kelopaknya terbuka lagi, dan matanya menatap saya dengan lebih tajam. Kemudian kelopaknya setengah tertutup.

Untuk ketiga kalinya saya memanggil namanya … tidak ada gerakan – matanya kosong, seperti orang yang mati total.

Ada komentar? Saya membisu.

Lanjut. Total barangkali 10 detik orang bisa mati total dengan pancung. Cepat sekali. Tidak perlu menderita lama-lama setelah dekapitasi.

Singapura paling rajin menggantung orang, apalagi untuk yang bawa obat bius atau kokain. Banyak aktivis pro-kehidupan yang protes, tapi ya tidak digubris karena keputusan itu berdasarkan analisis risiko yang kuat (mungkin), dan fakta sejarah (jaman impor candu dari Tiongkok?).

Indonesia menggunakan hukum tembak. Lima orang penembak di mana hanya satu senapan yang diisi peluru bener, lainnya peluru kosong. Jadi penembak tidak tahu apakah pelurunyalah yang mengenai pesakitan. Yang mereka tahu: hari itu mereka telah mengeksekusi seseorang. Yang tahu siapa yang sebenarnya menembak adalah yang ngisi peluru dong …

Saya cuma setuju dengan judul artikel AT di atas: “Selamat Jalan Para Mujahid”. Apa mereka masuk surga? Apa masuk neraka? Yo gusti allah sing nentukno

*Artikel di atas kok mirip kuliah Subuh yo ….

5 thoughts on “Dekapitasi

  1. waduh memang Indonesia yang masih termasuk kejam, dengan memberlakukan hukuman tembak, saya pernah melihat sendiri orang tertembak itu memakan waktu cukup lama sampai meninggal, bisa 5 – 10 menit……. jadi ada tenggang waktu saat meregang nyawa..

    Tapi itulah biar diapakan juga tetap namanya hukuman mati, tidak ada cara yang paling enak untuk mati menurut saya:mrgreen:

    saya lebih setuju memang dihukum seumur hidup, tapi dengan catatan tidak ada remisi setiap 17 an:mrgreen: pada hatekadnya orang “diambil kebebasannya” lebih sakit daripada mati, contohnya banyak tahanan Guantanamao ingin bunuh diri, karena memang lebih enak mati daripada diambil kebebasannya sama sekali

    halah jadi panjang yaa, buat mas arief salam buat Lee Kwan Yu deh …………:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s