Efek Tsunami terhadap Singapura


Tsunami, yang secara literal berarti “gelombang dermaga” (harbour waves), dikenal dengan nama lain, yaitu gelombang laut seismik (seismic sea waves). Buku Natural Disaster and How We Cope (2006) menyebut tsunami sebagai gelombang yang “ajaib”. Ia jarang terjadi, namun sekalinya muncul ia datang tanpa peringatan. Di kawasan padat penduduk, korban jiwa dan rusaknya infrastruktur adalah efek terbesarnya.

Empat tahun lalu, tepatnya 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9.1 skala Richter yang berpusat di barat pulau Nias, Aceh, menyebabkan gelombang tsunami yang menyapu sejumlah negara di Asia Tenggara, Asia Selatan dan Afrika Timur. Gelombang tsunami ini berkecepatan 800 km per jam dan mencapai tinggi 9 meter. Total korban jiwa di Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, Bangladesh, India, Maldives, Somalia, Kenya dan Tanzania mencapai 300000 jiwa.

Dunia juga mencatat bahwa dalam 100 tahun terakhir (1908 – 2008), sedikitnya ada enam tsunami yang paling mematikan.

  • Desember 1908 – Italia (khususnya Selat Messina, Sisilia dan Calabrian) dihantam gelombang setinggi 2.4 hingga 4.6 meter setelah gempa 7.1 skala Richter terjadi; 70000 orang meninggal
  • Oktober 1963 – Tanah longsor di Italia utara mengakibatkan perairan bergelombang dan menghantam dam Vajont; 2000 orang meninggal di beberapa desa
  • Agustus 1976 – Gempa bumi di laut Sulawesi menyebabkan tsunami yang memakan korban jiwa sebanyak 10000 di wilayah Sulawesi dan Filipina selatan
  • September 1992 – Gempa di Nikaragua menyebabkan gelombang tsunami setinggi 10 meter sepanjang pantai Pasifik Nikaragua; 70000 orang meninggal dunia
  • Desember 1992 – Dua menit setelah gempa terjadi, pantai utara Flores dihantam tsunami dan 18000 rumah hancur; 1600 orang meninggal
  • Desember 2004 – Gempa berkekuatan 9.1 skala Richter di dekat pulau Nias, Sumatera, menyebabkan gelombang tsunami berkecepatan 800 km per jam dan setinggi 9 meter. Korban jiwa di negara-negara di Asia Tenggara, Asia Selatan dan Afrika Timur (Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, Bangladesh, India, Maldives, Somalia, Kenya dan Tanzania) mencapai 300000 jiwa.

Kekhawatiran terhadap tsunami membuat Badan Lingkungan Nasional (NEA) mengucurkan dana 1.3 juta dolar kepada Nanyang Technological University dan National University of Singapore untuk melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan terjadinya tsunami di Singapura. Hasil riset selama dua tahun yang dilakukan, utamanya, oleh dua institusi ini dapat dibaca di Journal of Asian Earth Sciences (2008).

tsunami-formation

Risalah ilmiah berjudul “Bahaya Tsunami dari Dorongan Batas Lempeng di wilayah Laut Cina Selatan” (Tsunami Hazard from the Subduction Megathrust of the South China Sea) terbagi menjadi dua bagian.

Bagian I mengidentifikasi adanya sumber gempa berkekuatan 9 skala Richter yang disebabkan oleh akumulasi regangan di bawah Parit Manila (Manila Trench). Parit Manila terbentang sepanjang 1500 km dari utara ke selatan, antara Taiwan selatan dan bagian tengah dari pantai barat Filipina. Dari data seismik dan geodesi di Parit Manila ini, sebuah model perpatahan gempa dibuat. Kemudian, simulasi hidrodinamika terhadap potensi tsunami dihitung dengan perangkat lunak buatan Universiti Cornell, AS, bernama COMCOT (Cornell Multi-grid Coupled Tsunami model). Hasilnya menyatakan bahwa risiko tsunami akan dialami oleh Filipina, Cina selatan, Vietnam dan wilayah lain yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan. Dari hasil simulasi dengan metode beda hingga (finite difference) ini, pantai timur Malaysia kemungkinan dihantam ombak setinggi 2 meter. Sedangkan, Singapura cukup terlindungi sehingga kecil kemungkinan terpengaruh oleh gelombang tsunami.

Bagian II mendiskusikan hasil dari pemodelan hidrodinamik (simulasi tsunami) dan akibatnya terhadap Singapura ditinjau dari ketinggian gelombang laut, waktu tempuh gelombang tsunami pertama ke Singapura, jarak antara dua gelombang (interval). Simulasi tsunami ini didasarkan pada kemungkinan terburuk bahwa gempa terjadi di Parit Manila dengan kekuatan 9.0 skala Richter. Dalam simulasi numerik ini, tiga alat ukur maya (virtual) diletakkan di tiga tempat, yaitu Marina Bay dan Sentosa Resort, Selat Johor dan Changi Airport. Disebutkan bahwa gelombang tsunami memerlukan waktu kurang lebih 12 jam untuk mencapai tiga tempat ini. Jarak yang ditempuh oleh gelombang tsunami adalah 8000 km. Hal ini mengindikasikan bahwa Singapura memiliki cukup waktu untuk memberikan peringatan kepada masyarakat untuk bersiap-siap akan datangnya tsunami. Dengan dasar ini pula, Foong Chee Leong, Direktur Jenderal Meteorological Services di NEA menyatakan bahwa “ … diperlukan 10 jam lebih bagi gelombang (tsunami) pertama untuk mencapai Singapura” (Straits Times, 16 Desember 2008). Kenaikan tinggi laut bisa mencapai 0.8 meter di Marina Bay, dan 0.7 meter di Changi Airport dan Selat Johor. Interval antara dua gelombang diperkirakan 5 jam.

Struktur pantai sepanjang pantai Singapura didesain untuk dapat menahan kenaikan air laut setinggi 1.5 meter. Sehingga, banjir yang disebabkan oleh gelombang tsunami diprediksi tidak akan terjadi. Namun demikian, dalam simulasi numerik oleh tim NUS-NTU ini, faktor arus pasang dan kekasaran struktur pantai (roughness of coastal structures) tidak diperhitungkan. Efek dari gelombang tsunami diperkirakan akan terjadi selama dua hari dan ini akan memberikan kerugian bagi Singapura.

Arus laut yang disebabkan gelombang tsunami dapat menyebabkan kapal-kapal lepas dari tambatannya, dan mengakibatkan tubrukan antarkapal, serta kerusakan quay crane dan galangan (docks). Dari hasil simulasi, disebutkan bahwa kecepatan arus yang terjadi setelah 13.9 jam pasca gempa adalah 0.5 meter per detik, tepatnya di Selat Johor. Kecepatan ini lebih rendah dari kecepatan arus yang biasa terjadi di perairan Singapura, yaitu 1 meter per detik.

Kesimpulan akhir risalah ilmiah ini menyebutkan tsunami akibat gempa di Parit Manila kecil kemungkinannya untuk memberikan kerusakan di Singapura. Namun demikian, perhitungan ini didasarkan kepada model, asumsi perhitungan numerik dan parameter seismik-geodesi yang dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, ada baiknya kita mengetahui apa saja yang perlu dilakukan ketika tsunami terjadi:

  1. Perhatikan tanda – tanda alam. Gempa yang kuat atau perubahan ketinggian air laut yang mendadak seringkali menyebabkan tsunami. Di perairan yang rawan tsunami, orang akan masuk ke daratan dan nelayan akan segera pergi ke darat.
  2. Bertindak cepat. Hitungan menit atau detik bisa berarti hidup dan mati. Hindari melihat lebih dekat fenomena gelombang tsunami, dan segera menjauh dari pantai ketika peringatan terdengar.
  3. Pergi ke tempat yang lebih tinggi. Gelombang bisa berkisar antara 3 sampai 4 meter. Banyak orang selamat dengan menaiki bukit, memanjat atap bangunan seperti hotel atau perkantoran. Meskipun tidak ideal, memanjat pohon juga bisa dijadikan alternatif.
  4. Hindari gelombang awal. Jika kita terperangkap di dataran, segera berlindung di balik tembok yang kokoh untuk menghindari gelombang awal (initial wave). Jika kita terperangkap di perairan, jangan berenang berlawanan arus; segera naik ke benda yang mengapung.
  5. Waspada terhadap gelombang lanjutan. Gelombang tsunami tidak hanya datang sekali, tapi punya gelombang lanjutan. Jangan kembali ke pantai setelah gelombang pertama. Gelombang kedua dan ketiga biasanya jauh lebih besar dan mematikan.

Berita Harian Singapura, 19 Januari 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s