Sophie Scholl


Hari itu, 21 Februari 1943, Sophie memakai rok selutut berwarna coklat, kemeja putih yang agak bulak, kardigan merah dan jaket hangat. Matahari cerah bersinar, dan Sophie menikmatinya dari balik terali besi. Ia dipenjara, tapi tak lama. Karena hari itu ia akan diadili di depan Pengadilan Rakyat.

Dakwaannya sederhana: ia terlibat dalam suatu organisasi rahasia “Mawar Putih” (Die Weiβe Rose) yang menyebarkan pamflet di Universitas Munich berisi manifesto anti perang yang dilakukan Nazi Jerman. Di depan hakim yang lantang, ia tetap tenang. Pledoinya pendek: “Lagipula, seseorang harus memulainya. Apa yang kami tulis dan katakan sebenarnya juga diyakini banyak orang. Namun mereka tidak berani mengutarakannya seperti halnya kami.”

Sophie beserta kakak lelaki dan kawan-kawannya di Mawar Putih tak hanya berani, mereka mampu merumuskan rasa muak kepada jahatnya Nazi dalam sebuah manifesto mahasiswa. Manifesto ini lalu dicetak dalam ribuan pamflet, yang akan disebar di kampus Munich. Sayangnya, mereka tertangkap. Enam pamflet lolos dan menyebar di beberapa kalangan. Pamflet ini lalu diselundupkan ke Inggris lewat negeri-negeri Skandinavia. Di tahun yang sama, jutaan pamflet berisi Manifesto Mahasiwa Munich dijatuhkan dari udara oleh tentara sekutu lawan Jerman. Jerman “terbangun”, dan tak lama Hitler jatuh. Tentu, pamflet ini hanyalah ekspresi pasif. Tapi ia turut meruntuhkan sebuah rezim yang durjana, tapi juga digdaya, di bumi Eropa. Tulisan juga mampu menggerakkan.

Film berbahasa Jerman ini, Sophie Scholl – The Final Days dibuat sangat kontras dengan hiruk pikuk perang Nazi: ia khidmat, bahkan cenderung sunyi. Ekspresi dalam raut muka dan dialog menjadi kekuatan. Bahasa Jerman menjadi pengantar yang baik untuk filosofi yang logis, tak romantik. Ditutup dengan wajah tenang Sophie di bawah pisau Guillotine, dan bunyi kepala jatuh di sebuah wadah, film ini bagus untuk ditonton.

sophiescholldvd

Bagaimana kita mengharapkan keadilan akan tegak jika tak ada seorangpun dari kita tergerak maju untuk menegakkannya. Di hari yang indah dan cerah, aku harus pergi; tapi kematianku tak lagi penting, jika lewat jalan kami ribuan orang akan terbangun dan tergerak untuk bertindak. Sophia Magdalena Scholl (1921 – 1943).

2 thoughts on “Sophie Scholl

  1. pena memang bisa setajam pedang,namun ia pun bisa selembut salju mampu merubah hati….
    masih inget aku rif?koncomu di sd kotakulon 1?..
    ok juga blog kamu…

    • dianika – kabar baik. nang di saiki sampeyan?

      iis – waaaaaaaaaaaa apa kabar is .. ??? masih di probolinggo ya? hp mu piro nomore?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s