31


Bagi saya, berumur 31 hampir tak berbeda dengan umur 30. Mungkin karena jaraknya yang hanya 1 tahun. Dan, karena saya masih diberi kesempatan menghirup oksigen buatan tuhan; bukan oksigen bikinan manusia yang ada di tabung-tabung rumah sakit. Naudzubillah. Alhamdulillah saya masih diberi kesehatan yang baik oleh tuhan.

31 ini unik. Ia bilangan prima (hanya bisa dibagi 1 dan dirinya sendiri). Di bukunya Paul Erdös, matematikawan Hungaria, rumus bilangan prima ini sederhana: 2ˆn – 1, di mana n adalah integer. Untuk n = 5, maka hasilnya adalah 31.

Di Bondowoso, tape yang terkenal adalah Tape 31. Di sana, 31 ini barangkali nomor rumah atau toko yang terletak di pecinan.

Tadi saya pergi makan malam dengan Tuti dan Verdi ke Al Azhar, sebuah kedai makan di depan Bukit Timah Shopping Center. Ezra tidak diajak karena lagi tidur pas kami pergi jam 6.30 sore. Sebelum naik bus, bahan obrolannya adalah lesunya perusahaan-perusahaan di Singapura yang menyebabkan pemangkasan karyawan (PHK). Tapi begitu sampai di Al Azhar, obrolannya ganti yang menyenangkan, yang bikin ketawa-ketawa. Masa makan-makan obrolannya serius hehe … Beda dengan masuk ke Al Azhar di Mesir, masuk ke kedai Al Azhar Bukit Timah kita tidak perlu hafal Quran🙂 Oiya, kami tadi memesan Sotong Bakar (skor 6/10), Baby Kailan (7/10), Sate Ayam (7/10), Tom Yam Seafood (6/10), Nasi Putih (6/10), Teh Halia, Teh Tarik, Lychee, Lime Juice. Lumayan kenyang, meskipun makanannya tidak fantastik. Tapi murah juga lho di sana. $36 utk bertiga, dan perut lumayan menjendul (bulging). Untungnya pulang masih mampu jalan … gak kemelakaren (over supplied).

Saya heran pada diri sendiri, mengapa setiap ulang tahun, pasti yang diingat adalah makan-makan, kue tart, harapan-harapan dan lainnya. Jarang sekali saya mengingat bahwa pada hari itu, 31 tahun lalu misalnya, ibu saya terbaring dan kesakitan karena saya hampir mbrojol ke dunia. Di hari ulang tahun seseorang, ibu lah yang seharusnya diingat.

Tepat 31 tahun yang lalu, ibu saya berumur 24. Karena masih di Jember, ia dilarikan ke Dinas Kesehatan Tentara (DKT) di kawasan Pagah. Setelah saya lahir, saya dibawa ke Gending. Ketika tahun 1980 pindah ke Bondowoso, akte saya dibuat. Jadi meski de facto lahir di Jember, tetap saya harus menulis Bondowoso. Ya jarak 33 km Bondowoso-Jember tidak jauh sih. Jadi ya tidak masalah🙂

Ibu saya ini suka ngobrol, meski kelihatannya pendiam. Kalau ada tamu, bisa lama jagongan di ruang tamu. Waktu kecil saya agak heran, apa sih yang diobrolin sama orang-orang tua itu. Istilah-istilahnya kadang ajaib, aneh-aneh dan tidak ada di buku pelajaran SD; pasti “pinjam” dari majalah dan koran. Dia punya darah bisnis, jadi pengennya ya berusaha sendiri, tidak bekerja untuk orang lain. Bukan tipe PNS, yang pagi rutin ke kantor, pulang sore; nunggu gaji di akhir bulan, selalu bilang IYA kepada atasan, dan nunggu promosi. Ia tipe atasan, bukan anak buah. Dulu waktu SMA saya diminumin teh hangat tiap pagi, supaya melek untuk sholat subuh. Dalam pendidikan, ibu saya lumayan carefree: saya bebas ikut pecinta alam dan main band. Teman yang ibunya strict atau ketat kadang iri lihat saya yang selalu boleh jalan ke mana saja. Ibu saya ini intuisinya kuat; kadang dia bisa tahu saya bakal sial atau nggak. Yang masih konsisten dilakukannya hingga kini adalah mendoakan kami supaya selamat dunia akhirat dan sukses di setiap keputusan. Dia tidak mempermasalahkan saya tinggal atau bekerja di mana, yang penting pekerjaan itu halal dan praktek-praktek KKN tidak ada, itu sudah cukup. Menurutnya, kultur di Indonesia masih sulit membuat orang jadi bersih – bebas korupsi dan kolusi; jadi “Pergi dan bekerjalah di Singapura, jangan di Indonesia. Rejeki orang itu sumbernya ada di mana saja. Dunyo iki kabeh yo wek e gusti Allah”, begitu katanya dulu. Tentunya, dia sadar bahwa banyak juga orang bersih di Indonesia, tapi ya tidak banyak. Di Singapura, meski kebebasan berekspresi itu sangat terbatas, tapi setidaknya orangnya profesional; dana tidak pernah macet dan lumayan bebas korupsi dan pungutan liar. Ada juga sih kasus korupsi, tapi selalu berhasil ditutupi dan kalaupun ada di koran itu bakal dibereskan segera. Anggota dewan, meski pro pemerintah, tapi sebagian besar ya bersih orangnya.

Beberapa minggu terakhir ini saya kecanduan Facebook. Entah kenapa tapi saya senang saja karena bisa ketemu teman-teman lama. Ada lebih dari 60 ucapan selamat lewat Facebook dan email, termasuk dari Mas Balawan, seorang gitaris jazz Indonesia yang lagi naik daun. Terima kasih atas doanya kawan-kawan. Amin-nya tak banterno kok … hehe. 30 detik nulis message itu sangat berharga, apalagi isinya blessing kepada kawan sendiri hehe.

Yes, I am 31. Seorang kawan mengingatkan: ini usia rawan kolesterol tinggi. Bener juga. Mari perbanyak makan sayur dan ikan!🙂

4 thoughts on “31

  1. yang sempat kuingat dari mamamu adalah senyumannya yang membuat hati agak kalem pas berkunjung ke rumahmu buat belajar kelompok.yang bikin penasaran sampe sekarang, resolesnya… enak lho rip,saos kuningnya rasanya unik..he…he..
    met ultah ya..

  2. Mamaa… Pas ngelairno, sing tak iling perjuangane mama ngelairno aku, sorooo..nemen.. (tepakan aku yo soro pisan ngelairno Salsa)..saking mama ga onok pas an..(durung teko) lha wong mules e maju 2 minggu lebih awal.. Mamaaa…I Love you..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s