Dua Pemandu


Tingkatan bahasa Jepang saya barangkali dikategorikan pra-taman kanak-kanak. Universitas lalu menunjuk satu profesor muda dan satu tutor yang bertugas membimbing saya selama di Jepang. Profesor muda yang mendampingi saya berumur 1 tahun lebih tua dari saya (ini artinya saya termasuk mahasiswa yang cukup tua). Sedangkan tutor yang mendampingi saya ini sedang menyelesaikan tugas akhir atau skripsi S1. Tutor saya ini digaji 16000 yen per bulan.

Tugas profesor muda adalah mengurusi apartemen, registrasi untuk kartu penduduk luar (ini akan diceritakan lebih detil di artikel selanjutnya), keimigrasian, memperkenalkan tradisi dan kebudayaan Jepang (seperti memperkenalkan ke seluruh tetangga di apartemen – jumlahnya sembilan), mengantar berbelanja keperluan rumah, mengurus langganan internet hingga membawakan barang belanjaan yang cukup banyak.

Tugas tutor adalah mengantar saya keliling kampus, memperkenalkan sistem kampus, mendampingi saya ke kantor pos, bertemu staf administrasi universitas, makan siang, hingga memperbaiki sepeda dan mencarikan handphone buat saya.

Meski sang tutor berkali-kali mengatakan bahwa bahasa Inggrisnya jelek sekali, dia tetap berusaha merangkai kalimat dalam bahasa Jepang. Dia lalu meminjam kamus elektronik untuk membantunya menerjemahkan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris. 

Catatan:

Mereka melaksanakan tugas-tugasnya dengan sungguh-sungguh. Mereka membuat catatan kecil dan bergumam sendiri bahwa ini tugas-tugas yang harus dia selesaikan untuk saya. Dedikasinya sangat tinggi, dan tidak melihat besar kecilnya pekerjaan. Tapi melihat bahwa seseorang wajib melaksanakan apa yang ditugaskan hingga selesai. Di samping itu juga bahwa perilaku mereka sangat sopan, berbicara dengan nada yang ramah, sabar.

Do You Smoke?


Narita, 1 Oktober 2009, 9.30 pagi. Seorang pemuda memegang selembar kertas bertuliskan TMU lengkap dengan simbolnya, dan nama saya. Saya lalu melambai padanya. Dia langsung setengah membungkuk, sambil menyalami saya. Saya memperkenalkan diri.

Pemuda ini bekerja untuk WASSCO, sebuah agen perjalanan Jepang. Tugasnya menjemput saya, lalu mengarahkan saya ke loket airport limousine bus. Awalnya saya membeli tiket untuk jam 3 sore. Tapi kemudian saya menukarnya dengan yang jam 11.30, di loket bus yang lain. Pemuda ini saya minta untuk pulang saja, karena toh saya sudah beli tiket. Dia juga telah memberi tahu di mana letak pintu bisnya. Dia menolak. Dia mengatakan bahwa tugasnya tidak hanya menjemput saya. Tapi dia harus menunggu hingga saya naik bis dan berangkat ke tujuan. Jadi, supervisornya akan marah jika dia pergi sebelum saya naik bis.

Karena masih lama menunggu, saya pergi ke internet booth untuk cek email. Saya memasukkan koin 100 yen, dan saya bisa browsing 10 menit. Ada beberapa email masuk dan saya perlu membalas. Tiba-tiba ada orang di belakang saya. Ternyata pemuda ini. Dia bertanya: “What are you doing?” Saya mengatakan saya sedang menulis email untuk teman, membayar rekening telpon. Dia hanya mengangguk saja (seperti bergumam “Ah so desu” – Oh I see), sambil tersenyum.

Setelah selesai cek email, kami pun duduk dan minum kopi kalengan. Saya bertanya sudah lamakan dia bekerja untuk WASSCO. Dia bilang baru beberapa bulan saja. Saya tanya lagi, apakah dia suka pekerjaannya (pertanyaan bodoh barangkali, tapi ini kan basa basi). Dia bilang iya dia menyukai pekerjaannya. Tiba-tiba dia bertanya balik: “Do you smoke?” Saya bilang saya sudah berhenti sekitar dua tahun lalu. Dia perokok, tapi dia bilang dia tidak boleh merokok selama bekerja. Dia hanya dibolehkan merokok ketika istirahat makan siang.