Pelanggan adalah Tuhan


Pelayan supermarket, toko atau warung kecil makanan di Jepang (atau setidaknya di Hino City, Tokyo) pasti menyapa pelanggan dengan kalimat: “Irasshaimase!” alias apa yang bisa saya bantu atau selamat datang. Mereka mengatakan ini sambil menunduk, atau kadang juga sedikit membungkuk rapi. Kebanyakan suaranya bersemangat, jarang sekali yang dingin. Bahkan ada yang sampai agak melengking (disuarakan oleh pelayan cewek) dan di”teriakkan” dari kejauhan. Ini yang barangkali disebut “harmoni toko”.

Pelayan supermarket (www.japan-hopper.com)

Dan tidak hanya berhenti di sana, jika kita bertanya tentang suatu barang, mereka dengan sopan akan menunjukkan letaknya, atau menjelaskan perihal barang tersebut. Jika dia kurang yakin dia akan cepat-cepat bertanya kepada supervisornya, dan cepat kembali lagi.

Ketika membayar, kasir dengan ramah mengucapkan terima kasih (karena sudah membeli), lalu bertanya apakah kita punya point card (biasanya di supermarket besar). Setelah menyebutkan jumlah yang harus dibayar, dia menunggu kita meletakkan uang di wadah kecil. Tapi kita juga boleh memberikan uang secara langsung tanpa perantara wadah. Jika ada kembalian dalam jumlah ribuan, kasir akan menghitungkan dulu kembalian ribuan ini di depan kita (tangan kiri memegang bendelan uang, tangan kanan mengurut uang satu per satu). Lalu uang receh diberikan kemudian. Tangan kiri kadang turut membantu menadahi tangan kita ketika menerima kembalian receh. 

Di dekat kasir, ada meja panjang yang digunakan orang untuk memasukkan barang-barangnya sendiri ke dalam kresek. Jadi waktu tunggu pembayaran tidak terlampau lama. Kalaupun lama, orang Jepang jarang ngomel-ngomel. Mereka sabar menunggu, hingga giliran tiba.

Di Jepang ada ungkapan terkenal: O-kyakusama wa kamisama desu [お客様は神様です]. Secara literal, ini berarti ‘pelanggan adalah tuhan’. Ada juga yang memaknainya sebagai ‘pelanggan selalu benar’ (Akiko, Japan). Pelanggan ada di posisi tertinggi di bisnis perbelanjaan. Benarkah filosofi — yang dipopulerkan oleh penyanyi enka (pop) Jepang, Haruo Minami — ini dipakai di Jepang?

Ketika saya menanyakan hal ini kepada teman lab yang bekerja paruh waktu di Tsutaya (toko penyewaan DVD), dia bilang memang ungkapan ini yang ditanamkan kepada pelayan toko. Katanya, di Jepang, semua toko menerapkan filosofi ini.

Pelanggan juga punya hak untuk menuntut pemilik atau pelayan toko jika ia tidak puas dengan barang atau pelayanannya. Pelanggan juga berhak mengembalikan item yang dibeli dalam waktu 15 hari (sepertinya) dengan syarat dia juga bisa menunjukkan struk belanjaan.

Di Indonesia, filosofi yang mirip juga dipakai: pelanggan adalah raja. Di Singapura?  No comment deh hehe.

Shops are serious business in Japan. Because shoppers are god!

2 thoughts on “Pelanggan adalah Tuhan

  1. Mas Arief, maap nih OOT komennya🙂.

    Masih inget saya? Kita pernah ketemu di kopdar blogger di Singapur (di kediamannya Mas Indra).

    Wah, sekarang di Tokyo ya? Hahaha… lucu, aku juga di Tokyo. Hihihi, dunia itu sempit ya?🙂.

    Mungkin kapan-kapan bisa jumpa lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s