Pendidikan di Jepang


Dari beberapa bacaan, pendidikan Jepang mengajarkan berpikir deduktif, menyimpulkan dari serpihan-serpihan fakta dan menilai sendiri logikanya. Namun pengajaran ini tidak akan berhasil apabila komponen dalam masyarakatnya tidak mendukung. Kekuatan pendidikan di Jepang didukung semua elemen masyarakatnya yang unik:

Masyarakat. Masyarakat Jepang melihat ‘belajar’ sebagai aktivitas seumur hidup, di segala usia, dan ini merupakan prioritas hidup. Setiap orang didorong untuk memiliki hobi, dan mengambil pendidikan nonformal seperti olahraga, kerajinan tangan, seni, bahasa dan sebagainya. Atribut penting dalam masyarakat Jepang adalah ketelitian (suka mengatur hal-hal kecil) dan memiliki hobi yang spesifik. Masyarakat Jepang cenderung mengutamakan keseimbangan dalam bersosialisasi: harmoni. Sikap harmoni ini membuat friksi sosial sangat jarang terjadi. Keharmonian ini pula yang membuat masing-masing individu secara tenang mengembangkan pribadi, hobi dan intelektualitasnya sendiri. Belajar lewat permainan sangat disukai di Jepang. Jepang juga mendorong masyarakatnya untuk beraktivitas secara fisik.

Keluarga. Di Jepang, wanita yang sudah menikah jarang sekali bekerja. Mereka kemudian menjadi ibu rumah tangga (shufu). Ibu adalah posisi yang terhormat di masyarakat Jepang. Ibu berperan aktif menemani anak belajar setiap malam. Keluarga juga membantu anak mengurangi stress. Tapi mungkin ada juga keluarga yang menyebabkan stress, hanya mungkin angkanya kecil. 

Guru. Guru adalah elemen masyarakat yang juga dihormati di Jepang. Mereka bekerja 20 jam lebih lama dibanding guru-guru di Amerika. Tanggung jawab guru tidak hanya mengajar, tetapi juga membantu mengembangkan kebiasaan baik, penampilan dan sikap siswa. Guru seringkali mengunjungi rumah orangtua. Guru tidak diperbolehkan punya pekerjaan sampingan. Guru diperlakukan sangat profesional: selain gaji, mereka juga mendapat tambahan biaya hidup, rumah, transportasi dan bonus. Bonus ini diberikan tiga kali setahun

Kelas. Kelas di Jepang “bernafaskan sosial”. Guru memfasilitasi murid, dan murid bisa saling mengajari, mengawasi dan metode belajar kelompok diutamakan. Prestasi individu penting, tapi prestasi kelompok atau kelas secara keseluruhan jauh lebih utama. Perhatian khusus tidak diberikan kepada individu, namun kepada kelas secara keseluruhan. Tidak ada pembagian kelas berdasar kemampuan siswa di Jepang (misalnya kelas pandai, sedang atau kurang). Pengelompokan ini sangat dihindari di Jepang. 

Murid. Mereka belajar lewat partisipasi dalam kegiatan sekolah, kompetisi olahraga dan jalan-jalan ke alam bebas. Murid sekolah dasar kelas 1 di Jepang diberikan sansu setto atau set matematika. Sansu setto berisi bahan-bahan latihan yang diperlukan murid selama dua tahun pertama. Menariknya, sansu setto ini dikemas layaknya hadiah perkawinan yang sangat dihormati di Jepang. Karena hadiah ini diberikan melalui upacara resmi, sikap tanggung jawab anak terbentuk, hubungan orangtua – guru juga terbentuk.

Kelas Ekstra. Kelas ekstra setelah jam sekolah juga popular di Jepang. Kelas ini membantu siswa memahami konsep pelajaran lebih jauh. Dalam kelas ekstra ini, siswa diberi materi yang mudah dipahami, menarik, diawasi dimotivasi dan diajarkan mandiri. Khusus untuk persiapan masuk ke sekolah, orangtua biasanya mengirim anak-anak ke gakushu-juku atau cram school.

Dari buku Surely You’re Joking Mr Feynman! saya juga menemukan potongan cerita dari fisikawan Richard Feynman:

There was one thing that always seemed to me to be a remarkable phenomenon: how Japan had developed itself so rapidly to become such a modern and important country in the world. “What is the aspect and character of the Japanese people that made it possible for the Japanese to do that?” I asked.

The ambassador answered in a way I like to hear: “I don’t know,” he said. “I might suppose something, but I don’t know if it’s true. The people of Japan believed they had only one way of moving up: to have their children educated more than they were; that it was very important for them to move out of their peasantry to become educated. So there has been a great energy in the family to encourage the children to do well in school, and to be pushed forward. Because of this tendency to learn things all the time, new ideas from the outside would spread through the educational system very easily. Perhaps that is one of  the reasons why Japan has  advanced so rapidly.”

Foto Feynman dengan ambassador Jepang tidak ada, yang ada foto dia dengan Prof Yukawa di Kyoto:

*Beberapa bagian postingan ini dimuat di Berita Harian, Singapura, 28 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s