Okinawa


Dalam film The First Breath of Tengan Rei (2009), konfrontasi adalah solusi. Rei Tengan (diperankan oleh Erika Oda) diculik dan diperkosa Nelson dan Carter, dua marinir yang bertugas di Okinawa, selatan Jepang. Rei berumur 16 tahun ketika itu. Sejak itu, Rei hidup dalam kesendirian, dipenuhi kenangan pahit dan dendam.

Sepuluh tahun berlalu, Rei terbang ke Chicago untuk mencari dua bekas marinir Amerika itu. Motifnya jelas: berkonfrontasi. Di sana, Rei menyandera Paris, anak lelaki salah seorang pemerkosanya, Carter. Namun agaknya, Rei bukanlah mesin perang: ia tak berlaga menghabisi “lawan”, meski dipenuhi dendam kesumat. Intimidasi lewat todongan pistol Rei terhadap Paris, dan terkuaknya dosa Carter di depan anaknya sendiri barangkali inti kepuasan Rei.

Film ini tak memberikan jawaban atas konflik Jepang dan Amerika di Okinawa. Sebaliknya, film humanisme ini membiarkan misteri tersisa: di manakah perjalanan Rei berakhir?

Bekas presiden Amerika, George W. Bush menyebut Okinawa sebagai “good occupation”, pendudukan yang ideal, dan merupakan contoh bagi pendudukan Amerika di Iraq. “Good occupation” ini masih menyisakan konflik berkepanjangan hingga hari ini.

Okinawa

Sejarah mencatat bahwa Okinawa, sebuah pulau 1600 km selatan Tokyo ini, masih belum “merdeka”. Okinawa jatuh ke tangan AS sejak berakhirnya perang dunia II pada 19 Agustus 1945.

Pada 1973, AS mengembalikan Okinawa kepada Jepang. Pengembaliannya pun bukan tanpa syarat. Ia dibuat berdasarkan pakta yang merugikan Jepang.   

Bunroku Yoshino, bekas direktur Biro Amerika Kementrian Luar Negeri, membeberkan isi pakta rahasia pengembalian Okinawa di depan pengadilan distrik Tokyo, bulan November lalu. Pakta tersebut mengijinkan AS membawa senjata nuklirnya ke Jepang, dan Jepang harus membayar US$340 juta untuk pengembalian Okinawa, pemindahan Voice of America dan relokasi pangkalan militer.

Di penghujung 2009, isu relokasi pangkalan militer ini membuat hubungan Tokyo dan Washington “memanas”. Seperti diketahui, sekitar 28000 tentara AS ada di Okinawa, dan 18% tanah Okinawa diduduki Amerika.

Friksi sosial dan politik terakumulasi selama lebih dari 50 tahun. Rakyat Okinawa menginginkan pangkalan AS dipindahkan. Friksi ini juga dipicu oleh kenangan buruk pemerkosaan gadis Okinawa berumur 12 tahun oleh tiga marinir AS bulan September 1995.

Perjanjian AS – Jepang, 1996

Sebuah perjanjian ditandatangani AS dan Jepang pada 2 Desember 1996. Perjanjian ini mewajibkan AS mengembalikan 21% dari total wilayah militernya di Okinawa kepada Jepang.

Dalam buku The Armed Forces of the USA in the Asia-Pacific Region (SB Weeks & CA Meconis, 1999), setidaknya ada tiga basis militer yang masih berdiri di Okinawa: Basis Korps Marinir Camp Butler, Basis Udara Kadena dan Stasiun Torii.

Perjanjian AS – Jepang, 2006

Setelah hampir satu dekade, pengembalian wilayah ini belum terealisasi. Pertemuan Jepang – AS berlanjut lagi tahun 2006 untuk membahas proses relokasi Stasiun Udara Futenma ke Nago. Hasilnya nihil.

Perjanjian AS – Jepang, 2009

Tiga tahun kemudian, tepatnya 17 Februari 2009, AS (Hillary Clinton) dan Jepang (Nakasone Hirofumi) menandatangani Traktat Guam (Guam Treaty) yang diantaranya berisi: 

  • Pemindahan 8000 personel marinir AS beserta 9000 anggota keluarganya ke Guam, di perairan pasifik
  • Pemindahan stasiun udara Futenma di Ginowan ke Nago, tepatnya di Camp Schwab. Proses pemindahan ini akan dilakukan hingga 2014

Butir pertama didukung oleh Perdana Menteri Yukio Hatoyama yang September lalu baru terpilih. Koalisi politik antara partainya, Democratic Party of Japan (DPJ), dan dua partai lain, Social Democratic Party (SDP) and People’s New Party (PNP), juga mendukung butir pertama ini.

Butir kedua masih merupakan repetisi dari perjanjian tahun 2006, dan ditentang oleh masyarakat dan parlemen karena Nago masih merupakan bagian Okinawa. Empat belas tokoh penting Okinawa mengeluarkan petisi memprotes Hillary Clinton dan Barack Obama. Mereka menuntut pemindahan total ke Guam, atau bahkan ke luar Jepang.

Pemindahan ke Guam secara total pun tidak mudah. AS dan Gubernur Guam, Felix Camacho, menolak hal ini. Alasan utama penolakan karena keterbatasan logistik dan sumberdaya di Guam. Menteri Pertahanan, Toshimi Kitazawa, juga menolak pemindahan ke Guam karena akan menyalahi perjanjian 2006. Posisi Kitazawa ini membuat posisi pemerintah menjadi ambigu.

Ketegangan Tokyo – Washington akhirnya mempertemukan Hatoyama dan Barack Obama tanggal 13 November 2009 di Tokyo. Selain membahas partisipasi di COP15 beberapa waktu lalu, mereka juga sepakat membentuk working group untuk relokasi pangkalan militer Futenma.

Alternatif selain Guam

Menteri Luar Negeri Jepang, Katsuya Okada, mengusulkan pangkalan udara AS Kadena sebagai alternatif. Lokasinya dekat dengan pangkalan Futenma. Namun, usulan ini ditolak mentah-mentah oleh Brigadir Jenderal Kenneth Wilsbach, Komandan pangkalan Kadena. Beliau mengusulkan pemindahan ke Osaka, tepatnya di Kansai International Airport.

Lokasi alternatif lain adalah bandara Haneda, Tokyo. Lokasi ini tidak layak karena terlalu dekat dengan metropolis dan lahannya terbatas.

Cukup rumit memang. Gowan McCormack, profesor emeritus Australian National University, melihat Traktat Guam 2009 sebagai perjanjian yang tidak setara, inkonstitusional dan berdampak lingkungan bagi Okinawa.

Traktat ini tidak setara karena hanya Jepanglah yang wajib menanggung biaya total pemindahan sekitar US$6.1 miliar. Inkonstitusional karena menurut Article 95 dari Konstitusi Jepang, keputusan ini dibuat tanpa persetujuan mayoritas masyarakat Nago. Berdampak lingkungan karena proyek ini akan merusak hutan dan laut di teluk Uora. Yang menarik, Profesor McCormack menyebut perjanjian ini dalam bahasa Jepang: “gomakashi”, atau mengandung unsur muslihat dan kebohongan.  

Posisi Perdana Menteri Yukio Hatoyama

Nampaknya, Hatoyama berdiri di antara kepentingan domestik dan hubungan diplomatik AS – Jepang. Namun bagi rakyat (domestik) Jepang, hal yang paling disesalkan adalah lambatnya Hatoyama memberikan keputusan.

Mengapa lambat? Beberapa analis mengatakan bahwa ada dua tekanan politik dalam negeri terhadap sikap Hatoyama. Pertama, Ichiro Ozawa (Sekjen DPJ) tidak menyetujui pemindahan ke Nago. Ozawa adalah sosok paling berpengaruh dalam kepemimpinan Hatoyama. Kedua, kemungkinan pecahnya koalisi DPJ dengan dua partai SDP dan PNP jika pemindahan ke Nago dilakukan. Tekanan politik ini yang agaknya lebih mengancam Hatoyama, dibandingkan suara rakyat Okinawa.

Manuver baru dilakukan Hatoyama: ia menjanjikan untuk membuat perjanjian baru dengan AS. Perjanjian baru ini akan dibuat awal 2010. Washington geram, tapi tak bisa berbuat apa-apa. 

Keberadaan AS di Asia Pasifik

Apa sebenarnya dampak keberadaan AS di Asia – Pasifik?

Dalam bidang keamanan, posisi AS di Asia – Pasifik cukup signifikan. Tetapi Korea Utara hendak menguji eksistensinya dengan melakukan uji senjata nuklir tanggal 25 Mei 2009 lalu di Kilju.  

Sedikit banyak, dampak ekonomi dirasakan Jepang dan Korea Selatan: mereka mendapatkan prioritas dalam ekspor produk-produk teknologi.

Hubungan politik dengan negara-negara sekutu juga cukup baik, karena selain di Jepang, AS juga memiliki basis pertahanan di Korea Selatan, Guam (timur Filipina), Diego Garcia (sebelah barat Sumatera) dan Singapura.

Pesawat Hercules AS yang sering lewat di atas rumah

*Artikel terbit di kolom “Email dari Tokyo”, Berita Harian Singapura, 4 Jan 09

One thought on “Okinawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s