Pluralisme Religius di Jepang


Auto RSS feed: https://ari3f.wordpress.com

Tuhan seringkali memfirmankan optimisme. Namun, di Nagoya yang dingin, seorang padri berputus asa. Ia mengeluhkan matinya agama di sebuah negeri yang disebutnya ‘rawa’:  

Negeri ini adalah rawa. Engkau akan melihatnya sendiri suatu hari nanti. Negeri ini lebih buruk dari yang engkau bayangkan. Ketika engkau menanam bibit di sini, akarnya langsung membusuk, daunnya menguning dan lalu gugur. Dan, kita telah menanam bibit Kristiani di rawa ini. 

Padri itu tak lain adalah Father Ferreira, pelakon dalam novel Silence karya Sushako Endo. Pada 5 Februari 1873, ia disalib dan ditombak bersama 25 misionaris lainnya. Nagoya mencekam, orang Kristen dikejar-kejar selama belasan tahun. Kata ‘Martir’ menjadi lumrah.

Kristen yang diberangus di Jepang menandai pluralisme yang mati. Tapi, ‘kematian’ itu bukan tanpa alasan. ‘Kematian’ itu diawali oleh pembunuhan.  Continue reading