Pluralisme Religius di Jepang


Auto RSS feed: https://ari3f.wordpress.com

Tuhan seringkali memfirmankan optimisme. Namun, di Nagoya yang dingin, seorang padri berputus asa. Ia mengeluhkan matinya agama di sebuah negeri yang disebutnya ‘rawa’:  

Negeri ini adalah rawa. Engkau akan melihatnya sendiri suatu hari nanti. Negeri ini lebih buruk dari yang engkau bayangkan. Ketika engkau menanam bibit di sini, akarnya langsung membusuk, daunnya menguning dan lalu gugur. Dan, kita telah menanam bibit Kristiani di rawa ini. 

Padri itu tak lain adalah Father Ferreira, pelakon dalam novel Silence karya Sushako Endo. Pada 5 Februari 1873, ia disalib dan ditombak bersama 25 misionaris lainnya. Nagoya mencekam, orang Kristen dikejar-kejar selama belasan tahun. Kata ‘Martir’ menjadi lumrah.

Kristen yang diberangus di Jepang menandai pluralisme yang mati. Tapi, ‘kematian’ itu bukan tanpa alasan. ‘Kematian’ itu diawali oleh pembunuhan. 

Di prefektur Satsuma abad-16, Anjiro (sejarah kadang menyebutnya Yajiro) membunuh seseorang. Dalam kepanikan, ia menumpang kapal Portugis. Niatnya ingin berlayar ke Eropa, tapi kapal yang ditumpanginya malah merapat di Malaka. 

Di dalam kapal, nakhoda yang ramah menceritakan sepercik keimanan kepada Anjiro: “transformasi dari insan yang penuh dosa ke sosok yang bersih setelah dibaptis”. Anjiro terkesima, dan ia ingin menjadi Kristen.

Di Malaka, Anjiro bertemu Santo Francis Xavier, seorang misionaris Spanyol. Xavier yang berbasis di Goa – pantai Barat India ini hanya singgah sebentar di Malaka. Xavier lalu membaptisnya.

Anjiro kemudian menceritakan Jepang kepada Xavier. Ceritanya barangkali memikat, sehingga Xavier tak ingin kembali ke India. Ia berubah haluan ke Jepang.

Tak semua setuju. Ada yang bilang bahwa misi peng-kristen-an Jepang adalah keinginan yang impulsif. Namun, Xavier meyakinkan dirinya.

Aku tak akan membatalkan perjalananku ke Jepang, sebuah negeri yang kesannya begitu mendalam dalam pikiranku, dan sungguh besar harapanku pada tuhan sehingga aku melihat Kristen menyebar di sana.

Xavier pun tiba di Kagoshima, bagian selatan pulau Kyushu, pada 15 Agustus 1549.

Pluralisme Jepang barangkali bermula dari sikap shogun (kaisar) yang tak skeptis kepada gaikokujin (orang asing – sebutan yang secara literal adalah ‘alien’ dalam bahasa Inggris). Xavier diperbolehkan menyebarkan kristen dengan syarat yang sederhana: keharmonisan sosial harus dijaga.

Dalam 2.5 tahun, kristen menyebar ke pelbagai prefektur, dan pemeluknya mencapai ribuan.

Namun, proses pengkristenan Jepang mengundang persaingan. Inggris, Portugis dan Belanda mengirimkan misionarisnya juga. Kompetisi di antara mereka menggoncang atmosfer keharmonisan Jepang.  

Toyotomi Hideyoshi murka. Daimyo (ketua klan) periode Sengoku ini melihat Spanyol berpotensi menguasai Jepang, seperti yang mereka lakukan terhadap Filipina. Pada 1597 itu dan tahun-tahun sesudahnya, orang kristen diburu dan dibunuh. Kristen nampak ‘pagan’ bagi Jepang.

Peleburan Kristen dengan tradisi Jepang kala itu merupakan usaha yang sulit. Penyusupan nilai-nilainya tak mudah karena Shinto dan Buddha telah mendarah daging.

Hal ini berbeda ketika 1500 tahun lampau, Buddha masuk ke Jepang. Peleburan dengan Shinto relatif lebih mudah karena ideologi agama belum kuat. Peleburan ini pun melewati proses berabad-abad. Peleburan ini pun ditentukan pula oleh sikap pluralisme Jepang di masa lampau.

Dalam peleburan tradisi Shinto, Buddha dan Konfusianisme, pluralisme Jepang kemudian disebut sebagai pluralisme religius. Model ini unik dan seperti yang disyaratkan shogun, karakternya pragmatis: menjaga harmoni kehidupan sosial, dan klaim atas kebenaran satu agama dianggap hal yang peripheral, sekunder.

Dalam Religious Pluralism: The Japanese Case (1984), ada tiga mainstream agama yang menjadi keseharian Jepang:

  • Kelahiran, perkawinan, pertanian, rumah tangga, tahun baru, musim semi, musim panen, kebahagiaan individu bahkan peperangan didasarkan pada Shinto
  • Upacara pemakaman dan pemujaan terhadap arwah didasarkan pada ajran Buddha
  • Perlakuan yang baik terhadap orang lain didasarkan pada ajaran Konfusianisme

Pluralisme religius ini tumbuh dalam sekularisme Jepang (sebuah ideologi di mana negara tidak campur tangan masalah agama, dan hak-hak warganya dijamin oleh hukum). Dari 127 juta warganya, hampir 40 persen orang Jepang tak secara spesifik memeluk agama tertentu. Tetapi mereka tetap pergi ke kuil (shrine) untuk memuja leluhur atau memohon kesehatan dan rejeki.

2 thoughts on “Pluralisme Religius di Jepang

  1. Pingback: Islam di Jepang « random notes

  2. Pingback: ISLAM ON JAPAN « ivanpolos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s